Catatan Cak AT
HATIPENA.COM – Saya bersama Bang Egi Sudjana, Abi Dody, dan kawan-kawan, beriktikaf di Pesantren Tadabbur al-Qur’an di Gadog Puncak, Jawa Barat. Usai Subuh barusan, saya membahas “alhamdulillah”, ayat syukur yang disebutkan 23 kali di al-Qur’an, dikaitkan dengan perkembangan teknologi AI (kecerdasan buatan) yang menuntut komputasi mahal.
Saya jelaskan, betapa kita mesti bersyukur kepada Allah Swt, Tuhan yang menciptakan otak yang mampu menyimpan dan mengolah bermiliar data dengan kemampuan luar biasa. Otak-otak manusia inilah yang berhasil menciptakan teknologi AI cerdas. ChatGPT saat ini memiliki IQ sebesar 155, sedangkan tingkat IQ Albert Einstein 160.
Ya, kita kini hidup di era AI, bahkan sekarang menjalankannya di komputer rumah atau laptop bukan lagi sekadar mimpi di film fiksi ilmiah. Kini, banyak model AI open-source seperti DeepSeek, QWen, ALLaM, dan lain-lain yang dapat diinstal dan dijalankan secara lokal.
Sayangnya, realitasnya lebih mirip film horor finansial: untuk itu semua diperlukan GPU mahal, listrik boros, dan kipas komputer berisik seakan sedang meluncurkan roket ke orbit. Jika Anda seperti saya, pernah mencoba menjalankan model AI di laptop lokal, Anda pasti paham deritanya.
Untuk yang belum tahu, GPU adalah singkatan dari Graphics Processing Unit. Orang lebih sering mendengarnya dengan istilah VGA (Video Graphics Array), perangkat keras komputer yang berfungsi untuk mengubah tampilan ke layar monitor. VGA juga dikenal sebagai kartu grafis. GPU pun merupakan bagian dari VGA.
GPU itu unit pemrosesan yang dirancang khusus untuk menangani perhitungan grafis, seperti rendering gambar, video, dan animasi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, GPU juga digunakan untuk keperluan lain seperti komputasi paralel, kecerdasan buatan (AI), dan pembelajaran mesin (machine learning), karena kemampuannya dalam memproses data secara masif dan simultan.
Jika ingin menjalankan model AI seperti DeepSeek 7B (7 miliar parameter), kita butuh GPU dengan 16 GB VRAM, minimal setara dengan NVidia RTX 4080 yang harganya berkisar $1.000–1.200 atau belasan juta rupiah. Kalau naik level ke model LLM dengan parameter 67B (67 billion alias miliar), butuh VRAM sekitar 154 GB, yang berarti Anda memerlukan sistem multi-GPU kelas server seharga mobil bekas.
Sementara itu, listrik yang dikonsumsi bisa membuat tagihan Anda menyaingi anggaran operasional warung kopi 24 jam. OpenAI mengoperasikan ChatGPT dengan sekitar 12.000 kartu grafis NVidia A100, yang masing-masing berharga sekitar $30.000 dan mengonsumsi 450 watt listrik. Bayangkan total biaya yang harus dikeluarkan —dari perangkat hingga tagihan listrik yang mungkin bisa membiayai pembangunan satu kota kecil.
Tetapi, tenang. Kini banyak perusahaan berlomba menciptakan solusi yang lebih ramah kantong kita. Misalnya DeepX, perusahaan semikonduktor asal Korea Selatan, datang ke pameran CES 2025 di AS dengan solusi yang terdengar seperti tipuan sulap: chip AI seharga di bawah $50 (tak sampai satu juta rupiah), dengan konsumsi daya hanya 5 watt, dan diklaim sepuluh kali lebih efisien dari GPU tradisional.
Seperti apa dampaknya? Bayangkan Anda ingin memasak nasi. GPU itu seperti kompor gas industri dengan spesifikasi khusus: cepat, kuat, tapi butuh tabung LPG besar dan bikin dapur panas. Sementara DeepX ini seperti rice cooker kecil: cukup colok listrik, nyalakan, dan nasi matang tanpa menguras daya atau membuat Anda berkeringat.
Secara teknis, DeepX ini bukan hanya murah, tetapi juga jauh lebih hemat energi. GPU kelas atas seperti RTX 4090 menghabiskan sekitar 450 watt, hampir 100 kali lipat lebih boros dibandingkan chip DeepX yang cuma butuh 5 watt. Ini seperti membandingkan truk trailer dengan sepeda listrik: yang satu kuat dan bertenaga tapi mahal dan boros, sementara yang satu cukup untuk perjalanan harian tanpa perlu meminjam uang ke bank untuk beli bensin.
Yang lebih menarik, chip ini tidak membutuhkan pendingin bongsor seperti GPU. Jika Anda pernah menyentuh kotak GPU buatan NVidia setelah menjalankan model AI selama satu jam, Anda pasti sadar bahwa perangkat ini bisa menggantikan kompor portable. DeepX? Tidak perlu kipas, tidak perlu heatsink besar, dan tidak ada risiko jari melepuh saat menyentuhnya.
Selain itu, chip ini sudah digunakan dalam sistem robotik melalui kerja sama dengan Hyundai Robotics, dan juga sudah memastikan bahwa robot tidak lagi ceroboh menginjak kaki manusia, alias sudah cukup pintar. Ini bukan sekadar janji brosur, tapi implementasi nyata. Jadi, bukan hanya AI yang makin canggih, tapi juga makin sopan.
Namun, sebelum kita semua membuang GPU mahal buatan perusahaan ke tong sampah dan merayakan revolusi dari Korea Selatan, ada satu hal yang perlu dicatat: DeepX boleh jadi bukan pengganti total GPU. Untuk tugas-tugas yang membutuhkan pemrosesan grafis intensif, konon GPU tetap memegang peran penting.
Namun, untuk banyak aplikasi AI berbasis edge computing atau komoutasi kelas tinggi, IoT, dan robotika, DeepX bisa menjadi pilihan yang lebih masuk akal —dan lebih ramah dompet. Jadi, apakah ini awal dari akhir dominasi GPU dalam AI? Bisa iya, bisa tidak —tergantung pada produksi massal, pemasaran, dan pengalaman pengguna.
Tapi satu hal yang pasti: jika NVIDIA masih ingin menjual GPU seharga ginjal, mereka harus mulai waspada. DeepX telah tiba, membawa janji AI yang lebih murah, lebih hemat energi, dan akhirnya, lebih masuk akal bagi kita semua yang masih ingin ngopi dan makan enak tanpa harus menjual sepetak tanah untuk membeli kartu grafis. (*)
Cak AT – Ahmadie Thaha
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 26/3/2025