HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Body Shaming

January 9, 2026 15:39
IMG_20260109_153634

Ngopi Sewarung

Uten Sutendy | Budayawan Banten

HATIPENA.COM // Mengkritik itu bagian terpenting dalam kehidupan berdemokrasi. Bagaimana mungkin demokrasi bisa berjalan tanpa ada semangat dan kekuatan kritis dari kelompok atau individu masyarakat. Bukankah demokrasi tak akan pernah ada jika kelompok masyarakat belum memiliki kemampuan mengkritisi, bisa menerima perbedaan pendapat dan pandangan termasuk perbedaan pendapat dengan penguasa?!

Namun begitu, dalam etika pergaulan yang diajarkan oleh para pendiri dan guru filsafat, yang namanya kritik itu ada standar etikanya. Tanpa standar itu bisa berakibat fatal. Konsekwensinya terjerat pasal hukum.

Ajaran paling dasar atau paling purba dari konsep etika demokrasi ialah, jangan mengatakan apapun apalagi melontarkan kritik jika belum benar-benar mengetahui dan paham betul apa sesungguhnya yang menjadi obyek kritik.

Jangan pula menyampaikan sesuatu jika tak pernah melihat, mengalami atau merasakan sendiri obyek materi yang mau disampaikan. Artinya dalam berdemokrasi kemampuan memiliki dan menguasai data-informasi serta keluhuran ilmu pengetahuan mutlak adanya.

Kemampuan logika -diakektika bisa saja dipakai, namun itu sifatnya hanya alat mengekspresikan kerja berfikir (metode berfikir) dan strategi komunikasi. Sama sekali bukan keahlian yang bisa menjadi andalan apalagi jadi basic argumen etik dan hukum. Logika dan kemampuan dialektika sifatnya alat pendukung semata.

Kritik harus fokus diarahkan langsung kepada obyek substansi masalah, bukan ke subyek masalah. Jika fokus ke obyek masalah akan melahirkan perkembangan pengetahuan dan peradaban. Sebaliknya, kalau terlalu sering fokus ke subyek akan menimbulkan kebencian dan konflik.

Saat seseorang atau kelompok atau juga institusi melakukan kesalahan dalam kebijakan, pemikiran dan keputusan, harusnya yang menjadi obyek kritik bukan subyek orang, kelompok atau institusinya yang disalahkan, melainkan pemikiran, kebijakan, dan keputusannya. Karena saat kritik difokuskan kepada subyek, orang atau institusi, maka itulah yang disebut body-shaming (celaan fisik), kritik yang diarahkan ke kondisi fisik seseorang atau institusi. Sedangkan mengkritik institusi bisa mengarah kepada delegitimasi unit-unit kekuasaan dan berisiko merusak tatanan ekosistem kehidupan sosial. (*)

Get the feeling
Mr. Ten