Fanny J. poyk | Novelis, Cerpenis, Esais
HATIPENA.COM – Ketika paparan teknologi menyajikan ragam kiprah manusia berpeluk pada siklus alam semesta, yang terbentuk di benak pemikiran manusia adalah kisah tentang sirkulasi nafas serta tengat waktu kapan dia terputus dari raga.
Manusia melakoni drama tanpa babak di sepanjang kehidupan bersama ragam tuntutan agar bisa bermain di bermacam topeng yang tercermin dari sikap juga perilaku.
Di saat wajah muda berangsur menua, lalu spirit yang tercipta pupus seiring berjalannya waktu, ketuaan yang ada semua berangsur pada titik ketidakberdayaan raga dan merampas kemudaan serta totalitas spirit yang pernah ada.
Patokan materialisme dengan uang yang tak berseri serta segala atribut duniawi yang melingkupi pangkat, keterkenalan, status kehidupan, derajat, dan bentukan dunia dari beragam paham yang ikut menunjang sirkulasi pendapat di tiap benak pemikiran, menjadi sahih tatkala tampilan nyata ada di hadapan.
Zona nyaman kehidupan menjadi target utama dalam menjalani lakon hari lepas Hari. Empati pada sang marginal terkikis oleh paparan zaman yang mengangkat tema bahwa kemiskinan biarlah milik mereka yang miskin. Derita, sakit penyakit adalah sajian tak terelakkan yang harus dihadapi, di sana takdir tak bisa menolak fakta.
Mati baik-baik kawan! Itu menjadi asumsi yang tak seluruhnya lugas, ada makna terselubung yang menyiratkan bahwa ketidakberdayaan di dalam menghadapi kehidupan adalah tanggungjawabmu sendiri. “Siapa suruh elu hidup miskin dan papa?” Itu narasi umum yang kerap terdengar dari ranah para kaum penghuni perkampungan kumuh yang terserak di sudut-sudut kota.
Hingga akhirnya terbentulah sebuah tindak berbaur opini yang umum; menjadi kaya adalah keberuntungan, dari harta yang berlimpah
ditengarai mampu mengangkat diri ke posisi tertinggi bersama algoritma umum untuk menjadi siapa atau sesiapa.
Ok, demikian opini hari ini. Mari memasak para Ibu, sebab keluargamu menunggu dengan asupan rutin pada diksi sumir empat sehat lima sempurna. Ok yaaa Bestie, salam sehat selalu dan mari menulis. (*)