Anda Bisa Mengirimkan Berita Peristiwa Seni Budaya Tanah Air. Kirim ke WhatsApp Redaksi Hatipena : 081217126600 ------ Anda Bisa Mengirimkan Berita Peristiwa Seni Budaya Tanah Air. Kirim ke WhatsApp Redaksi Hatipena : 081217126600 ------ Anda Bisa Mengirimkan Berita Peristiwa Seni Budaya Tanah Air. Kirim ke WhatsApp Redaksi Hatipena : 081217126600 ------ Anda Bisa Mengirimkan Berita Peristiwa Seni Budaya Tanah Air. Kirim ke WhatsApp Redaksi Hatipena : 081217126600 ------ Anda Bisa Mengirimkan Berita Peristiwa Seni Budaya Tanah Air. Kirim ke WhatsApp Redaksi Hatipena : 081217126600

Membaca Puisi “Sahur” Mahwi Air Tawar

March 29, 2025 17:44
IMG_20250329_072606

Amelia Fitriani

HATIPENA.COM – Pada Jumat, 14 Maret 2025 lalu, saya ikut ambil bagian dalam sebuah kegiatan intimate bertajuk “Tadarus Puisi Ramadan” yang digelar oleh Creator Club di Roemah Kuliner, Metropole, Jakarta. Setiap anggota Creator Club diminta untuk membacakan sebuah puisi yang bernuansa spiritual untuk menambah khidmat nuansa Ramadan.

Saya membawakan sebuah puisi karya seorang penyair kawakan yang juga saya anggap sebagai mentor saya dalam berpuisi – walaupun yang bersangkutan sering merasa bahwa kata “mentor” itu berlebihan, tapi saya tutup telinga- yaitu Mahwi Air Tawar.

Beberapa hari sebelumnya, saya bertemu Mahwi di sebuah kafe di Sawangan, Depok. Pada kesempatan itu, saya meminta sebuah puisi padanya untuk saya bacakan di Tadarus Puisi Ramadan itu. Bukan Mahwi namanya, jika tanpa puisi. Saya yakin dia punya segudang stok puisi di lemari dapurnya.

Benar saja, hanya selang beberapa jam, dia kirimkan saya puisi berjudul “Sahur”.  Saya tertarik dengan puisinya. Karena nafasnya adalah mengenai waktu. Mengingatkan saya pada surat Al-‘Ashr dalam Al-Quran yang saya suka sekali maknanya, yaitu mengenai masa, mengenai waktu. Surat yang sama juga yang diadopsi oleh grup nasyid asal Malaysia, Raihan, dalam salah satu lagunya berjudul “Demi Masa”. Lagu itu kerap saya dengar sejak saya masih duduk di sekolah dasar. Dulu saya punya kasetnya dan sering saya putar di walkman kesayangan saya. Sampai sekarang, lagu itu masih bertengger di salah satu playlist di Spotify saya.

Lagunya mengingatkan saya bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Hal yang paling berharga yang dimiliki oleh manusia adalah waktu. Sehingga, selama masih diberi masa, selama masih ada waktu, akan sangat percuma jika dihabiskan pada sesuatu yang sia-sia dan tidak memberikan manfaat baik.

Well.. Akhirnya puisi itu pun saya bacakan di Tadarus Puisi Ramadan. Ini puisinya:

**

Sahur
Mahwi Air Tawar

Demi masa
Telah tiba waktu
Butir-butir keheningan dikunyah
Dengan menu hangat penetral kalbu
Gema pertama dari empat penjuru
Memecah gulita, mengoyak kabut
Dalam titian, dalam keheningan
Hangat cintamu terhidang tersaji.

Demi waktu
Jam menembus batas jaga
Di gelap perjamuan, tangan kasihmu cuma
Erat digenggam sebelum malam menyilam
Di laut sajadah pertobatan
Dan diri sangsai, dan tiada
Jarak antara ada dan tiada
Setipis rambut, selembut doa

Demi masa
Tak ada yang kupunya
Engkaulah pemberi tanpa diminta
Pemilik segala yang tak kupunya
Pemberi segala yang tak kumiliki
Dalam lapar dan dahaga
Namamu semata berdenyut di nadi (*)