Oleh : Nasih Widya Yuwono
HATIPENA.COM – Ada sebuah negeri yang kaya raya. Lautnya penuh ikan, hutan membentang hijau, tanah subur ditanami apa saja bisa tumbuh, gunungnya menyimpan emas, minyak, gas, dan batu bara. Setiap inci tanahnya adalah anugerah, setiap tetes airnya adalah berkah. Namun negeri itu tidak pernah benar-benar makmur, sebab kekayaan itu dikelola oleh segelintir orang yang serakah. Mereka menyebut diri sebagai pemimpin, wakil rakyat, atau penjaga amanah, tetapi dalam praktiknya lebih mirip perampok berseragam rapi. Inilah yang membuat banyak orang kemudian menyebut negeri itu sebagai negeri bedebah.
Rakyat di negeri ini setiap hari bekerja keras. Petani bangun subuh, menggenggam cangkul, membanting tulang di sawah yang bukan sepenuhnya miliknya. Nelayan berlayar ke laut dengan perahu reyot, berharap jaringnya penuh, tetapi di laut sudah ada kapal-kapal asing yang lebih besar, mencuri ikan dengan rakus, dan dibiarkan saja oleh para penguasa. Buruh pabrik bekerja dua belas jam sehari, gajinya hanya cukup untuk membeli beras dan minyak goreng, sementara para pemilik modal bersulang di hotel berbintang. Guru mengajar dengan gaji pas-pasan, namun tetap diminta berkorban demi bangsa. Dokter di pelosok kehabisan obat, tetapi di kota besar, pejabat dengan mudahnya berobat ke luar negeri dengan biaya negara. Beginilah wajah nyata negeri bedebah, di mana kerja keras rakyat tidak sebanding dengan kesejahteraan yang mereka terima.
Di atas panggung, para pejabat tampil gagah. Mereka bicara soal pembangunan, pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan janji-janji manis. Tetapi begitu lampu kamera mati, mereka kembali menjadi manusia rakus yang meneken kontrak, membagi-bagi proyek, dan menghitung berapa banyak uang yang bisa masuk ke kantong pribadi. Negeri bedebah penuh dengan pertemuan-pertemuan rahasia, makan malam di restoran mahal, dan lobi politik yang mengabaikan kepentingan rakyat. Sementara rakyat mengantri minyak murah, mereka justru menari di pesta-pesta penuh kemewahan. Inilah negeri yang kehilangan hati nurani, di mana kejujuran dianggap kebodohan, dan kelicikan dipuji sebagai kecerdikan.
Namun yang paling menyedihkan bukan hanya pejabat yang busuk, melainkan rakyat yang sudah terbiasa dengan kebusukan itu. Banyak yang pasrah, berkata: “Memang sudah begini dari dulu.” Ada pula yang ikut-ikutan, sebab merasa mustahil hidup lurus di tengah sistem yang bengkok. Maka korupsi bukan lagi sesuatu yang mengejutkan, melainkan dianggap bagian dari budaya. Sogok-menyogok dianggap lumrah, pungli dianggap wajar, ketidakadilan dianggap biasa. Negeri bedebah adalah negeri yang rakyatnya pelan-pelan diajari untuk tidak lagi marah, agar bisa menerima segala bentuk penghinaan sebagai takdir.
Namun tidak semua rakyat kehilangan harapan. Masih ada yang berteriak, meskipun suaranya kerap dibungkam. Masih ada yang menulis, meski tulisannya dibredel. Masih ada yang turun ke jalan, meski dibalas dengan gas air mata. Mereka adalah orang-orang yang tidak rela negeri ini terus menjadi negeri bedebah. Mereka percaya bahwa tanah subur harusnya memberi makan, laut luas harusnya menyejahterakan, dan tambang emas harusnya membangun sekolah serta rumah sakit, bukan memperkaya konglomerat atau keluarga penguasa. Mereka percaya bahwa negara seharusnya hadir untuk rakyat, bukan untuk segelintir elit politik.
Sayangnya, perjuangan mereka kerap dianggap ancaman. Orang-orang berani ini dicap pengacau, disebut perusuh, bahkan dipenjara. Negeri bedebah tidak suka pada orang yang melawan, sebab kebenaran adalah musuh terbesar kebohongan. Namun sejarah menunjukkan, tidak ada kebusukan yang abadi. Zaman bisa berganti, kekuasaan bisa runtuh, dan suara rakyat yang sejati akan selalu menemukan jalannya. Negeri bedebah ini bisa berubah, asal masih ada yang mau bersuara dan melawan.
Masalahnya, melawan bukan perkara mudah. Butuh keberanian, butuh pengorbanan, dan butuh kesabaran panjang. Banyak yang memilih diam karena takut kehilangan pekerjaan, takut anaknya tidak bisa sekolah, atau takut rumahnya disita. Di negeri bedebah, ketakutan adalah senjata paling ampuh penguasa. Mereka tidak perlu lagi repot-repot memenjarakan semua orang, cukup buat rakyat sibuk dengan kebutuhan sehari-hari, sibuk mencari makan, sehingga tak ada waktu untuk bertanya mengapa mereka terus-menerus miskin. Begitulah negeri ini dipertahankan dalam keadaan rapuh, agar mudah dikendalikan.
Meski begitu, selalu ada celah. Anak-anak muda mulai bertanya. Mereka membaca buku-buku yang dilarang, mengakses informasi dari berbagai sumber, dan tidak lagi percaya begitu saja pada propaganda di televisi. Di kampus, di warung kopi, di ruang-ruang kecil, obrolan tentang perubahan mulai hidup. Mereka menolak menerima warisan kebusukan. Mereka ingin negeri ini tidak lagi menjadi negeri bedebah. Mereka ingin keadilan bukan sekadar slogan, tetapi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mereka ingin pemimpin yang jujur, bukan yang lihai berbohong. Mereka ingin sekolah yang gratis dan berkualitas, rumah sakit yang bisa diakses semua orang, dan pekerjaan yang layak tanpa harus merantau jauh ke negeri orang.
Namun jalan masih panjang. Negeri bedebah ini terlalu nyaman bagi mereka yang di atas. Mereka tidak akan melepaskan kekuasaan begitu saja. Akan selalu ada cara baru untuk menipu rakyat, menunda perubahan, dan mengalihkan perhatian. Kadang lewat isu agama, kadang lewat konflik etnis, kadang lewat pesta olahraga, atau drama politik murahan yang membuat rakyat terpecah. Semuanya dilakukan agar rakyat sibuk bertengkar satu sama lain, sementara mereka terus menguras kekayaan negeri. Inilah strategi klasik: pecah belah dan kuasai.
Tetapi sejarah selalu mengajarkan, pada akhirnya rakyatlah yang menentukan. Sebesar apa pun kebohongan, pada waktunya akan terbongkar. Sehebat apa pun tirani, pada waktunya akan tumbang. Negeri bedebah tidak ditakdirkan untuk selamanya. Ia bisa menjadi negeri yang adil, makmur, dan bermartabat, jika rakyat berani mengambil kembali haknya. Dan itu hanya bisa dilakukan bila ada kesadaran bersama: bahwa negeri ini milik semua orang, bukan hanya milik segelintir bedebah.
Mungkin hari itu belum datang sekarang. Mungkin masih akan banyak pengorbanan, banyak luka, banyak air mata. Tetapi benih sudah ditanam. Setiap orang yang berani jujur, setiap orang yang menolak sogok, setiap orang yang mau melawan meski sendirian, adalah bagian dari jalan panjang menuju perubahan.
Negeri bedebah akan terus disebut demikian, sampai suatu hari nanti ia berubah menjadi negeri yang bermartabat. Dan perubahan itu hanya mungkin jika rakyatnya berhenti takut, berhenti diam, dan berhenti menerima kebusukan sebagai sesuatu yang biasa. (*)