HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Nilai dan Filosofi Adat dalam Kehidupan Sehari-hari

July 31, 2025 06:42
IMG-20250731-WA0012

Buku Seri (4) : Asal Muasal Marga Way Lima Kabupaten Pesawaran

Mohammad Medani Bahagianda
(Dalom Putekha Jaya Makhga)


Tabik Pun!

HATIPENA.COM – Di sebuah zaman yang terlipat oleh kabut dan embun, ketika batas antara manusia dan alam masih samar, hiduplah seorang gadis bernama Kemuni di tanah Way Lima.

Ia adalah anak seorang penyimbang adat, yang dikenal arif dan bijak. Setiap malam purnama, Kemuni menari di tepi sungai Way Lima, mengenakan selendang warisan neneknya yang konon ditenun dari benang kabut dan sulur rembulan.

Konon, pada malam purnama terakhir sebelum panen raya, Kemuni melihat pantulan wajahnya di sungai berubah menjadi sosok tua yang menangis.

Sang ibu, menyadari firasat ini, memanggil seluruh penyimbang dan tokoh adat. Dari musyawarah itulah, lahir petuah sakral: “Puun ni piil adalah cermin kemuliaan.” Sejak malam itu, Kemuni berhenti menari, dan mulai menulis semua ajaran leluhur dalam gulungan bambu. Ia menjadi penjaga nilai-nilai adat yang hingga kini menjadi dasar etika hidup masyarakat Way Lima.

Adat bukan sekadar simbol atau prosesi seremonial. Ia adalah napas, denyut nadi yang mengalir dalam perilaku, tutur kata, bahkan cara berpikir masyarakat. Dalam struktur sosial masyarakat adat Lampung, terutama di Way Lima, falsafah adat bukanlah sesuatu yang dipelajari hanya di pelatihan budaya. Ia ditanamkan sejak kecil dalam petuah, permainan, hingga makanan sehari-hari.

Prinsip seperti piil pesenggiri, nemui nyimah, sakai sambayan, dan nengah nyampur menjadi pilar nilai sosial yang mengatur hubungan antarwarga. Esai ini mengupas bagaimana nilai-nilai luhur itu bertahan di tengah gempuran zaman, sekaligus bagaimana ia mengalami adaptasi tanpa kehilangan ruh utamanya.

Filosofi Piil Pesenggiri: Martabat sebagai Landasan Hidup
Piil pesenggiri secara harfiah berarti “malu untuk berbuat tercela.” Namun dalam praktiknya, nilai ini jauh lebih dalam: ia adalah benteng moral dan motivasi sosial. Masyarakat Way Lima diajarkan bahwa setiap tindakan harus mempertimbangkan marwah dan citra diri serta komunitas.

Dalam kehidupan sehari-hari, nilai ini terwujud dalam kesopanan berbicara, kerapian berpakaian, tata cara menyambut tamu, hingga kewajiban menjaga nama baik keluarga. Filosofi ini sejalan dengan pandangan spiritual: bahwa manusia adalah wakil leluhur yang membawa amanah nilai.

Sakai Sambayan: Etos Tolong Menolong sebagai Jaringan Sosial
Sakai sambayan adalah praktik kolektif dalam bekerja dan menyelesaikan masalah. Ketika ada warga Way Lima yang membangun rumah, maka tetangga, kerabat, dan warga satu marga akan datang bergotong royong—tanpa diminta.

Bukan sekadar bantu-membantu, sakai sambayan adalah sistem moral yang menumbuhkan rasa memiliki bersama.

Sistem ini erat kaitannya dengan konsep rezeki yang tidak hanya bersifat materi, tetapi juga relasi sosial. Dalam banyak kasus, warga yang tak mampu membiayai hajatan adat dibantu komunitas. Ini menunjukkan bahwa nilai spiritual masyarakat Way Lima tidak memisahkan antara dunia material dan batin.

Nemui Nyimah dan Nengah Nyampur: Keramahtamahan dan Solidaritas Sosial. Dua prinsip ini mencerminkan keterbukaan masyarakat Way Lima terhadap perbedaan dan tamu. Nemui nyimah berarti menerima tamu dengan hormat dan ikhlas, sedangkan nengah nyampur mencerminkan keaktifan dalam bersosialisasi dan tidak mengucilkan diri.

Dalam konteks modern, dua nilai ini menjelma menjadi praktik inklusivitas di tengah multikulturalisme. Masyarakat Way Lima tak hanya menyambut tamu adat, tetapi juga mitra pembangunan, pelancong budaya, dan akademisi. Acara budaya seperti besanding atau nggunting rambut anak kini menjadi ajang diplomasi budaya yang hidup.

Ritual adat seperti ngambik tuhok, ngakuk menganak, atau muakhi tidak hanya sebagai tradisi turun-temurun. Ia adalah cara komunitas Way Lima menyegarkan kembali komitmen terhadap nilai-nilai luhur tersebut.

Dalam ritual, masyarakat mendengar kembali kisah-kisah leluhur, merenungi pesan moral, dan memperkuat jalinan sosial.
Spiritualitas dalam ritual adat tidak terlepas dari alam. Sungai, gunung, dan hutan dianggap sebagai ruang sakral yang wajib dihormati. Maka, konservasi lingkungan menjadi bagian dari etika adat. Anak-anak diajarkan tidak membuang sampah di Way Lima, bukan karena aturan hukum, tetapi karena sungai adalah “ibu” yang memberikan kehidupan.

Zaman berubah. Nilai tetap. Namun, bentuk ekspresinya bisa berganti. Kini, banyak generasi muda Way Lima yang mengekspresikan piil pesenggiri lewat karya seni, vlog budaya, hingga gerakan sosial. Sakai sambayan dijalankan dalam bentuk urun dana digital untuk kegiatan adat atau sosial.

Tantangannya adalah menjaga esensi sambil membiarkan bentuknya bertransformasi. Media sosial, pendidikan formal, dan gaya hidup urban kadang membuat generasi muda abai pada nilai-nilai ini. Namun banyak pula yang sadar pentingnya akar budaya sebagai penentu arah hidup.

Adat Way Lima tidak terkurung dalam pelestarian benda mati. Ia adalah sistem nilai yang hidup dalam laku harian. Ketika seseorang mengalah demi menjaga harmoni, ketika remaja membantu tetua tanpa pamrih, atau ketika keluarga membuka pintu rumah untuk tetangga yang kesulitan—itulah wujud nyata dari piil pesenggiri, sakai sambayan, nemui nyimah, dan nengah nyampur.

Menjaga adat bukan sekadar mengenakan baju tapis atau menghadiri perayaan. Lebih dari itu, ia adalah komitmen moral untuk hidup bersama dalam kerukunan dan penghormatan terhadap leluhur. (*)

Berita Terkait