Rizal Pandiya
Sekretaris Satupena Lampung
HATIPENA.COM – Masuk hari ketiga, suasana Lebaran masih hangat. Bukan cuma karena hati yang masih penuh maaf, tapi karena makanannya juga hangat. Rendang hangat, opor hangat, sambal goreng hangat—semuanya menjalani siklus reinkarnasi tanpa akhir. Udah kayak sinetron Para Pencari Tuhan yang nggak tamat-tamat.
Awalnya ketupat empuk, tapi setelah diangetin keempat kalinya, dia udah berubah fungsi jadi alat fitnes. Sekali angkat, lengan langsung berotot. Opor ayam yang tadinya empuk, kini rontok tinggal tulang karena keluar masuk kuali panas.
Tapi mau ganti lauk, mau belanja kemana? Lupa kan, kalo yang dagang masih mudik, pulang kampung, atau leyeh-leyeh karena duit THR masih cukup buat rebahan. Yang buka cuma tukang tambal ban. Ini satu-satunya profesi yang nggak kenal mudik. Mungkin karena kalau mereka ikut libur, bakal ada banyak pemudik yang pulang kampung tapi nggak bisa balik-balik ke kota karena ban bocor.
Alternatifnya minimarket! Tapi siap-siap antre lebih panjang daripada antrean salam-salaman di rumah dinas pejabat yang open house. Mau beli telur doang, tapi antreannya udah kayak antrean sembako gratis.
Bagi para pemudik yang sudah balik ke kota, secara fisik mereka mungkin udah di kantor, tapi jiwanya masih nongkrong di warung kopi kampung halaman. Bos sudah mulai ngecek absen, tapi kerjaan masih nihil. Email masuk? Dibaca doang, balesnya nanti kalau jiwa udah balik ke tubuh sepenuhnya. Ada yang masuk kerja, tapi otaknya masih di jalan tol macet, keinget perjuangan mudik kemarin yang lebih dramatis daripada film action Hollywood.
Nah, bagi yang punya tetangga, siap-siap anak-anak yang masih berharap dapet salam tempel. Mereka nggak sadar kalau Lebaran punya batas waktu, kayak promo diskon. Kadang orangtua mulai pura-pura sibuk cuci piring biar nggak ditodong THR lagi. Bahkan ada yang mulai pakai trik klasik – pura-pura nggak liat anak-anak yang datang – padahal mereka udah nempel di jendela kayak cicak kedinginan.
Tapi kalau ada tamu istimewa yang harusnya datang pas hari H Lebaran, tiba-tiba baru muncul di hari ketiga. Ini dilema besar! Mau disuguhin makanan, tapi semua udah masuk siklus daur ulang. Mau kasih kue kering mulu? Bisa-bisa si tamu kena keram perut gara-gara kebanyakan nastar. Kalau nekat nyuguhin opor yang udah diangetin lima kali, takutnya malah jadi bahan gibah di grup WhatsApp kolega tempat kerja. “Eh, kemarin aku ke rumah si anu, opornya kayaknya udah generasi ketiga, deh!”
Tapi ya sudahlah, semua orang juga mengalami hal yang sama. Akhirnya, solusi terbaik, teh manis hangat dan senyuman paling ramah, sambil berharap tamunya udah makan sebelum datang. Kalau tetap nanya makanan berat? Jawaban paling aman, “Aduh, tadi baru aja habis, loh!” Padahal si opor masih ngintip dari dapur.
Lebaran memang momen silaturahmi, tapi ada juga tamu yang datang bukan buat halal bihalal, melainkan nagih utang! Ini tamu yang duduknya makin lama makin lengket di kursi, nggak bakal beranjak sebelum utangnya lunas. Soalnya pas hari Lebaran, tuan rumah ini saweran THR kayak juragan rongsokan yang baru dapet borongan. Ngasih THR keponakan bisa, giliran bayar utang, pura-pura lupa ingatan.
Muka si tamu masih senyum, tapi matanya udah kayak debt collector profesional. Mau dikasih kue kering, dia cuma senyum sinis, “Bukan itu yang saya kejar.” Mau dikasih teh manis, dia balas, “Saya mau yang lebih manis, uang saya kembali!”
Akhirnya, jurus terakhir dikeluarkan: tuan rumah mendadak pura-pura sibuk di dapur, berharap si tamu bosan dan pergi. Tapi tamu ini tahan banting, nggak bakal menyerah sebelum target tercapai. Satu-satunya harapan adalah ada tamu lain yang datang dan berhasil mengalihkan perhatian. Kalau nggak? Ya, siap-siap jadi bahan gibah di grup WA kampung.
Yang lebih bikin panik dari tamu nagih utang adalah tamu yang ternyata mantan! Kalau yang nagih utang bikin pusing, yang ini bisa bikin jantung berdebar—bukan karena rindu, tapi karena ada tatapan laser dari istri di sebelah. Salah ngomong dikit, bisa-bisa baki melayang, suasana Lebaran langsung berubah jadi perang dunia ketiga.
Mantan ini biasanya datang dengan alasan klasik, silaturahmi. Tapi di mata istri, ini bukan silaturahmi, melainkan “misi terselubung.” Mau menawarkan teh manis, takut dikira masih perhatian. Mau ngasih kue kering, takut dikira masih ada rasa. Akhirnya cuma bisa duduk kaku, tangan dingin, dan bicara seperlunya.
Solusi terbaik? Libatkan istri dalam percakapan. Kalau mantan nanya kabar, langsung lempar ke istri: “Nah, kalau soal kabar keluarga, ini istri saya yang lebih tahu!” Makin cepat percakapan selesai, makin aman hidup ke depannya. Kalau tetap berlama-lama? Siap-siap malam ini tidur di sofa!
Lebaran boleh lewat, tapi efeknya masih terasa. Yang jelas, kita semua masih di fase transisi, antara move on dari opor atau lanjut diangetin lagi besok pagi. Selamat beradaptasi, semoga besok ketupatnya belum berubah jadi batu bata! (*)