Oleh ReO Fiksiwan
HATIPENA.COM – Meresponi topik keempat webinar Circle Indonesia #4 bersama Prof. Dr. Francisco Budi Hardiman S.S., Gurubesar Filsafat Universitas Pelita Harapan (UPH), Kebenaran dan Kritikusnya, yang sangat menarik, setidaknya untuk saya sebagai pemulung kembara filsafat otodidak.
Di antara topik ontologi kebenaran, Prof. Hardiman melawaskan istilah Palingan Ontologi (Ontology Turn) sebagai fase dalam membongkar tradisi epistemologi ke ontologi.
Meski ada empat tipe memasuki filsafat ontologi, pelampauan, pelepasan, penerimaan dan penyingkapan, palingan ontologi diasalkan oleh, antara lain Richard Rorty, Wittgenstein hingga Heidegger, sebagai filsafat bahasa yang menjadi fondasi penjelas keterangan dalam palingan linguitik (linguistic turn).
Sedikit penjelasan, palingan bahasa (linguistic turn) dibesut sebagai perubahan paradigma dalam filsafat yang terjadi pada awal abad ke-20.
Perubahan in mi menekankan
pentingnya bahasa dalam membentuk
pemikiran (kebenaran) dan realitas.
Inti dari palingan bahasa sebagai pembentuk realitas, tidak hanya sebagai alat
komunikasi.Tapi, ikut membentuk cara
kita memahami dunia. Menurut Popper, ada Dunia 3,‘ meliputi: peristiwa fisik, peristiwa mental dan produk pikiran (dunia teori).
Demikian pula, analisis bahasa menjadi cara untuk memahami struktur pemikiran dan realitas. Bahkan merupakan kritik terhadap metafisika tradisional yang hanya berfokus pada konsep-konsep abstrak dan tidak terkait dengan bahasa.
Walhasil, dampak palingan bahasa meliputi perubahan fokus filsafat dari metafisika tradisional ke analisis bahasa.
Selanjutnya, memicu pengembangan teori bahasa dan linguistik maupun pada ilmu-ilmu sosial seperti antropologi dan kajian budaya.
Kembali pada palingan ontologi — istilah dari tranlasi ontology turn — merupakan perubahan ontologis. Frase ini dicetuskan oleh filsuf Colin Scott.
Palingan ontologi merujuk pada pergeseran signifikan dalam penyelidikan filosofis, khususnya di bidang antropologi, sosiologi, dan filsafat sains.
Perubahan ini menandai perubahan fokus dari masalah epistemologis ke masalah ontologis. Tentu saja, dengan memprioritaskan pertanyaan tentang eksistensi, keberadaan, dan realitas di atas pertanyaan tentang pengetahuan dan representasi.
Sepercik ulasan ini, sebagai respon kritis pemulung kembara otodidak, bagaimana topik kebenaran dan kritikusnya, menyelidiki implikasi dari perubahan ini dan mengeksplorasi konsekuensinya yang luas bagi pemahaman kita tentang dunia dalam menggumuli fenomena kebenaran.
Secara tradisional, penyelidikan filosofis didominasi oleh masalah epistemologis, yang berfokus pada hakikat pengetahuan, kebenaran, dan representasi.
Paradigma epistemologis ini telah menyebabkan berkembang biaknya teori dan kerangka kerja yang bertujuan untuk memahami bagaimana kita mengetahui dunia.
Namun, fokus pada pengetahuan ini sering kali mengorbankan pertanyaan ontologis, yang menyangkut hakikat eksistensi, keberadaan, dan realitas.
Perubahan ontologis berupaya memperbaiki ketidakseimbangan ini dengan memprioritaskan penyelidikan ontologis.
Pergeseran fokus ini didorong oleh pengakuan bahwa pemahaman kita tentang dunia selalu sudah berada dalam kerangka ontologis tertentu.
Dengan memeriksa asumsi ontologis yang mendasari klaim pengetahuan kita, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang dunia dan tempat kita di dalamnya.
Salah satu implikasi utama dari perubahan ontologis adalah pengakuan pluralisme ontologis. Konsep ini mengakui bahwa ada banyak ontologi yang sama-sama valid, masing-masing dengan asumsi dan komitmennya sendiri yang berbeda.
Pluralisme ontologis menantang gagasan tentang ontologi tunggal dan universal, alih-alih merangkul keragaman kerangka ontologis yang ada di berbagai budaya, disiplin ilmu, dan periode sejarah.
Perubahan ontologis memiliki implikasi yang luas untuk berbagai bidang penyelidikan.
Dalam antropologi, misalnya, perubahan ontologis telah mengarah pada evaluasi ulang konsep budaya, dengan mengakui bahwa budaya bukan sekadar sistem makna, tetapi juga kerangka ontologis yang membentuk pemahaman kita tentang dunia.
Dalam filsafat sains, perubahan ontologis telah menantang paradigma positivis dominan, yang memprioritaskan observasi dan pengukuran empiris.
Dengan mengenali asumsi ontologis yang mendasari penyelidikan ilmiah, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang hakikat realitas dan batasan pengetahuan ilmiah sebagai pemungkas teori dan praktek kebenaran.
Perubahan ontologis menandai pergeseran signifikan dalam penyelidikan filosofis, yang memprioritaskan pertanyaan tentang eksistensi, keberadaan, dan realitas daripada pertanyaan tentang pengetahuan dan representasi.
Dengan merangkul pluralisme ontologis dan mengakui keragaman kerangka ontologis, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang dunia dan tempat kita di dalamnya “merumuskan kebenaran.“
Saat kita terus menavigasi kompleksitas abad ke-21, perubahan ontologis menawarkan arah baru yang menjanjikan untuk penyelidikan filosofis, yang berpotensi mengubah pemahaman kita tentang dunia — tempat kita di dalamnya — terus menggumuli semua sejarah dan fenomenologi kebenaran. (*)