Ilustrasi : Gambar Sketsa Makmur
Penulis : H. Makmur A. Syaik, M.Ag *)
HATIPENA.COM – Sesaat setelah perang uhud berakhir, Nabi Muhammad Saw memerintahkan para sahabatnya untuk mengumpulkan jenazah para syuhada yang gugur dalam pertempuran itu. Ketika proses pengumpulan berlangsung, beliau dikejutkan oleh kondisi mengenaskan salah satu jenazah. Tubuhnya hancur, dadanya terbelah dan jantungnya hilang. Jenazah itu adalah Hamzah bin Abdul Mutholib, paman sekaligus sahabat yang sangat dicintainya.
Hamzah bukan sekadar paman bagi Rasulullah, tetapi juga pembela setia yang selalu berada di sisinya. Sejak dakwah Islam, Hamzah adalah sosok yang gagah berani dalam menghadapi kaum kafir Quraisy yang menentang ajaran Islam. Ia adalah penglima perang yang tangguh, selalu mendampingi nabi dalam berbagai perjuangan dan tak pernah ragu mengorbankan dirinya demi tegaknya agama Allah. Karena keberaniannya, ia digelari sebagai “Singa Allah” oleh Rasulullah.
Melihat kondisi jenazah pamannya yang dimutilasi dengan kejam, hati Rasulullah diliputi kesedihan yang mendalam. Kesedihan itu bercampur dengan kemarahan yang membara. Dalam hatinya, sempat terbetik keinginan untuk membalas perbuatan kaum musyrik dengan cara yang lebih dahsyat. Bagaimana mungkin memperlakukan jenazah seorang pejuang yang telah mengorbankan hidupnya demi Islam dengan cara yang sekeji itu..?
Di tengah gejolak emosinya, Allah menurunkan wahyu sebagai pengingat agar beliau tidak terbawa oleh hawa nafsu untuk balas dendam. Wahyu tersebut adalah QS. An-Nahl : 126 : “Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama seperti yang ditimpakan kepadamu. tetapi jika kamu bersabar, sungguh itu lebih baik bagi orang-orang yang bersabar”.
Wahyu tersebut merupakan teguran bagi baginda Nabi Muhammad Saw. Beliau diberikan pilihan oleh Allah, jika ingin membalas, maka balaslah dengan perlakuan yang setimpal, tidak lebih dahsyat dari apa yang telah di lakukan oleh orang kafir. pilihan kedua adalah sabar, tidak membalas dan relakan apa sudah terjadi, bahwa itu adalah bagian dari ketentuan Allah Swt.
Dan Allah memberikan jaminan bahwa jika pilihannya sabar, maka itu adalah lebih baik, dalam artian Allah Swt yang akan memberikan keutamaan yang lebih besar. Dan tentu saja Nabi Muhammad memilih untuk bersabar, beliau menahan amarahnya, mengendalikan nafsunya dan tidak melakukan balas dendam atas kematian pamannya itu.
Dari peristiwa ini bisa kita ambil pelajaran. Pertama bahwa kesabaran diperlukan dalam situasi dan kondisi apapun. Sabar bukan berarti pasif atau lemah tetapi sebuah kekuatan besar untuk berada dijalan yang benar meskipun mengahdapi ketidakadilan dan penderitaan. Kesabaran juga bukan sekadar menahan diri tetapi harus juga berfikir jernih dalam menghadapi masalah.
Bahkan beberapa nabi terdahulu sudah memberikan contoh seperi nabi Ayyub yang tetap bersyukur meskipun menderita penyakit atau nabi Yusuf yang tetap teguh bahkan rela masuk penjara karena ujian fitnah dari istri penguasa pada saat itu. Jadi Sesakit apa pun kita, sekecewa apa pun kita maka bersabarlah karena di balik itu ada hikmah dan kemenangan yang lebih besar
Dan Kesabaran yang dilakukan oleh Rasulullah pada peristiwa itu justru membuka jalan bagi banyak orang untuk mendapatkan hidayah dan masuk Islam, termasuk dulu mereka yang membenci dan memusuhi Islam.
Contohnya adalah panglima perangnya Khalid bin Walid, dengan sukarela ia pun masuk Islam. Pun demikian dengan pembunuh Hamzah, Wahsyi bin Harb. Setelah peristiwa pembantaian itu, ia hidup dalam ketakutan dan selalu merasa bersalah. Maka ketika terjadi penaklukan kota makkah (fathun makkah) ia datang memberanikan diri kepada Rasulullah untuk masuk Islam. Dan setelah masuk Islam keduanya menjadi pejuang yang tangguh untuk kejayaan Islam.
Pelajaran kedua adalah bahwa setiap kesabaran akan membawa pada kemenangan yang lebih baik. Mengapa demikian, karena sabar bukan berarti menyerah, tetapi sikap teguh dalam menghadapi kesulitan dengan keyakinan bahwa Allah akan memberikan keadilan dan ganjaran yang lebih baik.
Oleh karena itu, perintah Allah kepada insan beriman sangat jelas, jika ingin berhasil dalam derap langkah kehidupan ini harus mengutamakan sabar, bahkan sabar itu harus di jadikan penolong, artinya tidak pernah ada keberhasilan bagi orang yang kurang sabar.
Firman Allah “Wahai orang-orang yang beriman, mohon pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqoroh : 153)
terakhir kita harus meyakini sabar itu indah dan mulia. Kesabaran adalah kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi ujian dalam berbagai pesoalan hidup.
Dengan memahami dan mengamalkan kesabaran, kita bisa menjadi pribadi yang kuat, bijaksana dan lebih dekat dengan Allah. Dan bagi orang bersabar Allah akan memberikan kemenangan yang sempurna, karena pasti Allah memberikan pahala tanpa batas.
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar : 10)
semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang sabar,,,, semoga. Wallau’alam (*)
*) Wakil Ketua PWNU Lampung, Kepala Kemenag Kota Bandar Lampung, Alumni PMII Lampung.