Anda Bisa Mengirimkan Berita Peristiwa Seni Budaya Tanah Air. Kirim ke WhatsApp Redaksi Hatipena : 081217126600 ------ Anda Bisa Mengirimkan Berita Peristiwa Seni Budaya Tanah Air. Kirim ke WhatsApp Redaksi Hatipena : 081217126600 ------ Anda Bisa Mengirimkan Berita Peristiwa Seni Budaya Tanah Air. Kirim ke WhatsApp Redaksi Hatipena : 081217126600 ------ Anda Bisa Mengirimkan Berita Peristiwa Seni Budaya Tanah Air. Kirim ke WhatsApp Redaksi Hatipena : 081217126600 ------ Anda Bisa Mengirimkan Berita Peristiwa Seni Budaya Tanah Air. Kirim ke WhatsApp Redaksi Hatipena : 081217126600

Tahlilan, Merajut Doa Bersama Anak Yatim

March 25, 2025 13:29
IMG-20250325-WA0076

Elza Peldi Taher

HATIPENA.COM – Selama tiga hari berturut turut, di gedung Lingkaran Survei Indonesia, Rawamangun, saya menghadiri tahlilan yang digelar untuk mendoakan Firdaus Ali, kakak dari Denny JA, yang berpulang ke haribaan-Nya hari sabtu lalu. Saya sendiri sudah lama kenal bang Daus, panggilan akrab Firdaus Ali. Beliau sosok yang ramah, terbuka, dan memiliki kecintaan mendalam terhadap musik.

Yang membuat tahlilan ini terasa syahdu adalah hadirnya puluhan anak yatim selama tiga hari berturut turut. Islam memberikan perhatian besar kepada anak yatim. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 220, Allah berfirman: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim. Katakanlah: ‘Memperbaiki keadaan mereka adalah baik.’” (QS. Al-Baqarah: 220).

Selain itu, dalam Surah Ad-Duha ayat 9-10, Allah memerintahkan: “Ada pun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya.” (QS. Ad-Duha: 9-10).

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa memperhatikan anak yatim bukan hanya anjuran, tetapi kewajiban moral dan sosial bagi setiap Muslim. Tafsir para ulama menyebut bahwa memberi kepada anak yatim adalah bentuk kepedulian yang tidak hanya memberi manfaat duniawi bagi mereka, tetapi juga keberkahan bagi pemberinya. Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda: “Aku dan orang yang mengasuh anak yatim di surga seperti ini,” sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah yang berdekatan (HR. Bukhari).

Begitu besar keutamaan memberi kepada anak yatim sehingga ia menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah dan meraih kebahagiaan abadi.

Di LSI Denny JA, Rawamangun, selama tiga hari berturut turut saya menyaksikan anak-anak yatim itu mengaji dengan tekun. Saya melihat wajah-wajah kecil yang sudah lebih dulu ditinggal orang tua mereka. Ada sorot mata penuh harap, ada lirikan malu-malu saat tangan kecil mereka menangkup doa. Saya seperti dibawa kembali ke masa kecil saya sendiri.

Kembali ke surau kayu di kampung halaman, tempat kami mengaji dari magrib hingga tengah malam. Waktu itu, surau lebih dari sekadar tempat ibadah; ia adalah rumah kedua, tempat kami belajar tentang agama, kebersamaan, dan kehidupan.

Kini, surau-surau itu nyaris hilang. Berganti masjid dengan bangunan modern yang megah, tetapi kehilangan sentuhan hangatnya. Tak ada lagi papan kayu berderit saat kami duduk bersila, tak ada lagi suara guru yang berwibawa membimbing tajwid kami dengan penuh kesabaran.

Waktu telah menggerus kebiasaan lama, namun kenangan itu tak tergantikan. Rindu itu menyesak di dada, seperti jejak yang tak bisa dihapus oleh waktu.

Di akhir tahlilan, Denny JA mengajak para anak yatim berfoto bersama, lalu memberikan bingkisan lebaran. Wajah-wajah kecil itu berbinar. Ada cahaya harapan di mata mereka, seolah sejenak dunia memberi mereka ruang untuk tersenyum.

Dalam kebahagiaan sederhana mereka, saya melihat diri saya di masa lalu. Sejak kelas empat SD, saya sudah yatim. Setiap menjelang Lebaran, ada beberapa tetangga yang selalu rajin memberikan sesuatu ke rumah, terutama saat puasa dan jelang lebaran.

Salah satunya adalah Haji Tohir, tetangga saya, seorang alim yang hidupnya sederhana, tapi tangannya tak pernah berhenti memberi. Bertahun-tahun kemudian, ketika saya sudah berkeluarga, saya menyempatkan diri menemui Haji Tohir.

Saya ingin sowan, mengucapkan terima kasih, dan membawa sedikit oleh-oleh untuknya. Ia terharu, lalu mengingatkan kembali bahwa Islam sangat menganjurkan untuk menyayangi anak yatim. Rasulullah sendiri menjanjikan kedekatan bagi mereka yang mengasuh anak yatim, seperti jari telunjuk dan jari tengah yang tak terpisahkan. Dalam matanya yang berkaca-kaca, saya melihat ketulusan yang tak akan pernah luntur oleh waktu.

Maka, saya percaya bahwa anak-anak yatim yang tiga hari menikmati kehangatan di LSI akan tumbuh dengan kekuatan dan ketangguhan. Mereka akan mengingat wajah-wajah yang telah menyayangi mereka, dan mereka akan mendoakan orang-orang itu dalam sepi dan sunyi.

Tahlilan bukan sekadar doa untuk mereka yang telah pergi, tetapi juga benih kebajikan yang ditanam untuk masa depan. Insya Allah, kelak mereka akan menjadi orang-orang yang kuat, yang membawa kebaikan lebih jauh dari yang kita bayangkan. Mereka akan tumbuh seperti pohon yang akarnya menghujam ke bumi, tetapi dahannya menjulang tinggi, memberikan keteduhan bagi dunia yang terus berubah. (*)

Pondok Cabe Udik 25 Maret 2025