Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
HATIPENA.COM – Luar biasa dan rasanya ikutan terbang. Garuda Muda lolos ke final. Pahlawannya, Alfharezzi Buffon. Tendangan terakhir saat drama adupenalti bersarang ke gawang Thailand. Gol inilah yang membuat squad Gerald Vanenburg akan bertemu Vietnam di partai puncak. Oh, iya layak disebut hero, Muhammad Ardianyah, sang kiper yang tampil luar biasa. Simak narasinya sambil seruput kopi tanpa gula lagi, wak.
Di malam sakral yang bahkan langit Jakarta enggan berkedip, Timnas Indonesia U-23 menuliskan kitab suci baru sepakbola Asia Tenggara. Di hadapan puluhan ribu jiwa yang berteriak sampai pita suara hampir pensiun dini, para pendekar merah-putih bertarung melawan Gajah Perang Thailand dalam laga semi-final Piala AFF U-23 2025 yang tak ubahnya duel silat level langit kesembilan. Hasilnya? Indonesia lolos ke final lewat drama adu penalti 7-6 setelah bermain imbang 1-1 di waktu normal dan perpanjangan waktu. Kalau ini bukan epik, maka Mahabharata pun hanyalah komik mini.
Laga dimulai dengan tempo yang lebih panas dari wajan gorengan pujasera. Baru menit keenam, serangan kilat dari Garuda nyaris bikin kiper Thailand, Phosaman Sorawat, pensiun dini dari dunia perbolaannya. Bola hanya meleset tipis ke kanan, tapi jeritan suporter sudah seperti azan subuh di speaker masjid, menggetarkan semesta. Thailand membalas menit kedelapan, namun Ardiansyah, kiper sakti dari galaksi ketiga, menghalau bola dengan refleks secepat cicak kejatuhan petir. Penonton lega, bahkan ada yang langsung sedekah kilat karena nazarnya terpenuhi.
Permainan makin menggila saat Thailand mulai bermain seperti pendekar sabar dari kuil utara. Menit 21, terjadi insiden brutal, Phanthamit Praphanth, yang namanya seperti password Wi-Fi tetangga, menendang kepala Ardiansyah saat bola sudah dalam genggaman. Kartu kuning keluar. Dua menit kemudian, Chaiyaphon Otton juga ikut koleksi kartu. Thailand mulai berubah dari Gajah Perang menjadi Gajah Ngamuk.
Sundulan Raven di menit 28 yang hanya mengenai mistar adalah ujian iman. Penonton menjerit, ada yang rebahan sambil baca doa sapu jagat. Tapi gol tak kunjung datang. Sampai babak pertama selesai, skor 0-0, dan warung bakso di luar stadion laris manis karena suporter cari penenang jiwa.
Masuk babak kedua, Thailand malah mencetak gol duluan lewat sontekan Yotsakorn Burapha menit 60. Selebrasinya nyebelin, seperti ngajak berantem. Remote TV pun melayang di banyak rumah. Tapi Garuda tak menyerah. Raven, pemuda harapan bangsa dan menantu idaman para emak, membalas di menit 84 lewat sundulan yang bukan hanya indah, tapi membawa aura pahlawan. Skor 1-1, stadion menggila. Bahkan hujan pun enggan turun, tak ingin mengganggu perayaan.
Extra time jadi pertarungan stamina. Pemain sudah seperti zombie Ramadan terakhir, tapi Ardiansyah terus berdiri sebagai tiang langit. Penyelamatan demi penyelamatan ia lakukan, seperti malaikat penjaga gawang. Waktu habis. Adu penalti dimulai. Doa-doa naik seperti roket Falcon X, dari masjid, dari gereja, bahkan dari warung kopi.
Tendangan pertama Thailand, gagal. Sorak sorai seperti gunung meletus. Kadek Arel, gol. Kakang, gol. Robi, gagal. Hannan, gol. Hokky, gol. Gol berbalas gol. Hingga skor 6-6. Thailand tendang, gagal! Kini tanggung jawab di kaki Alfharezzi Buffon, nama setengah Italia, setengah Indonesia, penuh berkah. Ia menendang… Gooolll! Gol!! Gol!!!
Indonesia lolos ke final. Vietnam menanti. Tapi malam ini, kita tak sekadar menang. Kita menulis sejarah dengan keringat, darah, dan pisang goreng yang diremas karena stres. Garuda Muda, kalian bukan hanya pemain bola. Kalian adalah penyair lapangan hijau, filsuf rumput SUBGK, dan pejuang keabadian.
Bangsa ini bangga. Dan malam itu, Jakarta bersinar lebih terang dari biasanya. (*)
#camanewak