HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Di Malam Kelam, Terngiang Nasihat Ayah

January 29, 2025 19:57
IMG-20250129-WA0079

Cerpen Sadri Ondang Jaya

HATIPENA.COM – Malam itu, aku kembali ke rumah masa kecilku, sebuah rumah kayu tua yang berdiri bisu di bawah naungan pohon-pohon besar di ujung Gang Kemukiman Gosong Telaga.

Bagi orang lain, rumah ini mungkin hanya sebongkah bangunan tua yang renta dimakan waktu. Tetapi bagiku, ia adalah penjaga setia ribuan kisah, pengemban rahasia yang terpatri dalam setiap serat kayunya.

Angin malam merayap perlahan, membawa serta aroma tanah basah yang baru saja tersentuh hujan. Bau kayu bakar yang mengering di tungku menyeruak, mengirimkan kenangan yang tak lapuk oleh usia.

Di bawah pancaran rembulan yang muram, rumah itu berdiri seperti lukisan yang telah kehilangan warnanya, pudar, tetapi masih menyisakan bara kehangatan.

Aku menyentuh dinding kayunya yang kini kelabu. Setiap guratan dan retaknya seakan berbisik tentang waktu yang berlalu. Di sudut ruang tamu, lampu neon redup melahirkan bayangan temaram pada kursi tua yang pernah menjadi takhta seorang ayah.

Ketika kududuki kursi itu, ia menyambut dengan derak lembut. Lalu, ada suara berbisik. Suara yang begitu akrab di telingaku.

“Kau datang lagi, Nak. Sudah begitu lama kau di rantau. Selama kau di sini, pergilah ke pusara Ayah. Bacakan Yasin, seribu ratib, Al-Fatihah, dan samadiyah sebagai bahtera bagi Ayah menuju ampunan, penawar siksa, menggapai surga.”

“Ya, Ayah,” ucapku lirih. Suaraku tercekat, dadaku sesak. Air mataku menetes, membasahi pipi. Pandanganku jatuh pada sebuah potret tua yang menggantung di dinding.

Wajah teduh Ayah dalam bingkai kayu yang mulai lapuk menembus malam, mengirimkan sinar wibawa yang selalu membuatku merasa aman.

Aku sadar, sudah terlalu lama aku tak mengunjungi pusara Ayah di Paret, di ujung jalan kampungku.

Tiga puluh tujuh tahun telah berlalu sejak ia berpulang ke rahmatullah. Namun malam ini, kehadirannya begitu nyata, merasuk ke dalam setiap denyut nadiku.

Nyanyian jangkrik bersahut-sahutan, berpadu dengan irama kodok dari kejauhan. Semua melagukan simfoni malam yang seakan memanggilku kembali ke masa silam.

Aku teringat satu malam di usia lima belas tahun, ketika Ayah menasihatiku. Lafaz Kalimat-kalimatnya kini berputar kembali dalam benakku, lembut namun sarat makna, seperti gemerisik dedaunan yang menenangkan jiwa.

Aku memejamkan mata, dan di kursi sebelahku, kulihat bayangannya yang ringkih duduk penuh kewibawaan.

“Dalam hidup ini, ilmu adalah lentera. Tapi tanpa iman, takwa, dan akhlak mulia, cahayanya akan redup sebelum sempat menerangi,” katanya suatu malam yang dingin, saat aku kecil duduk di sampingnya, di bawah langit bertabur bintang.

“Apa maksud Ayah?” tanyaku polos, menatap wajahnya yang penuh kerut usia. Rambutnya telah memutih, bersinar lembut di bawah sinar bulan.

Ia tersenyum. Senyum yang teduh, seperti embun pagi yang jatuh di ujung daun.

“Nak, ilmu, iman, dan akhlak itu seperti akar pohon. Jika akarnya kokoh, pohon akan tegak-setegaknya, meski badai menghadang. Tapi bila rapuh, angin sepoi pun mampu merobohkannya. Hidup walaupun kaya-raya tapi tanpa itu semua, suatu kesia-sian.”

Dulu, aku hanya mengangguk, setengah memahami. Namun kini, di keheningan malam yang pekat, setiap katanya terasa begitu hidup, bagai mantra yang mengisi ruang kosong dalam jiwaku.

Selain wejangannya, aku teringat punggung Ayah yang berkeriput, legam terbakar matahari. Tangan kasarnya yang terbiasa mengayuh perahu ke tengah laut demi membawa pulang rezeki.

Ia tak pernah mengeluh, meski lelah menggurat wajahnya.

“Rezeki itu milik Allah,” katanya saat aku bertanya mengapa ia tak pernah menyerah. “Tugas kita hanya berusaha dengan ikhlas dan jujur.”

Rumah ini menjadi saksi hidup kesederhanaan Ayah. Ketika tetangga mencibir kehidupan kami yang sederhana, Ayah hanya tersenyum. Senyum yang mengandung kebijakan yang sulit dijangkau.

“Hidup bukan tentang apa yang orang lihat, tetapi tentang apa yang Allah nilai. Hidup harus dinikmati, jangan ada kesah. Jika hidup getir, mengadulah pada Allah,” katanya suatu sore, sambil membetulkan jaring yang robek.

Kini, malam semakin larut. Bunyi jangkrik perlahan meredup. Sepi telah memeluk sunyi.

Dari kejauhan, harum bunga kamboja menguar, dibawa angin dari pemakaman Ayah. Hatiku bergeming. Aku menatap fotonya sekali lagi.

Rasa kehilangan yang selama ini kupeluk, kini berubah menjadi kehangatan yang meresap ke relung jiwa.

“Ayah…,” bisikku dengan suara bergetar. “Pulangmu adalah takdir, tetapi nasihatmu hidup selamanya dalam diriku.”

Dalam setiap langkahku, pesan Ayah adalah bintang penuntun. Dalam setiap persimpangan hidupku, aku mendengar suaramu.

Di luar, daun-daun berdesir digoyang angin, seolah membisikkan ketabahan.

Langit malam yang pekat tak lagi menakutkan. Ia hanyalah kanvas tempat kenangan Ayah bersinar abadi.

Malam itu, aku tersadar: Ayah tak pernah benar-benar pergi.

Ia adalah akar yang meneguhkan hidupku, iman yang menyulut lentera di dalam jiwaku, dan cahaya yang memandu langkahku.

Hidupku adalah pohon yang tumbuh dari benih yang ia tanam, merindang dan mengakar dalam kebaikan. Tanpa kuturuti nasihat ayah, aku tak tahu entah menjadi apa. Jasamu tak terbalas Ayah.[*]

Gosong Telaga, 27012025