Masya Firdaus | Penulis
HATIPENA.COM – Di pagi hari yang cerah, nampak matahari bersinar ceperti cahaya keemasan, yang penuh dengan kehangatan. Bagaikan pelukan sang ibu tercinta, yang sudah menyusui selama dua tahun. Wanita tiang negara atau agama. Surga pun ada di telapak kaki Ibu. Itulah kedudukan seorang wanita. Betapa tingginya derajatnya.
Wah asyik banget anak asuh yang besar sudah berangkat sekolah. Tinggal menunggu bangun si unyil, yang masih tertidur pules. Demi ingin ikut berpartisipasi mencerdas bangsa, ingin mencoret tinta yang bermakna, untuk anak bangsa.
Di dalam lamunan khayal dan imajinasiku, tiba-tiba suara sang majikan berpamitan ke kantor. “Mba jalan dulu ya,” kata sang majikan. Aku sontak kaget langsung kulempar handphone di atas kursi rotan. Takut dimarahin pagi-pagi sudah main handphone. “Ya bu, hati-hati di jalan,” pesanku. Begitulah, mencuri kesempatan menangkap ide menulis di tengah kesibukan kerja, hehe, tawa batinku.
Kakiku tertuju ingin duduk dan menyandarkan badan di pintu belakang. Aku tak sadar, kalau pintu itu sepertinya sudah tua dan rapuk. Aku kaget, kraaak ngeeek suara pintu beradu. Aku jatuh terpental gubrak… Karena enselnya lepas. Lalu kupasang kembali pintu itu dan kulanjutkan sandarku. Kucoba mencicil tulisan tugas kelas Jenius Writing. Dalam meningkatkan jurus-jurus Ilmunya. Biar dapet satu atau dua paragraf lumayan.
Dahulu mataku, tergoda sampai tidak bisa tidur menangis, melihat iklan-iklan buku. Yang bergentayangan. Di wall-wall beranda teman-teman. Hatiku selalu perang berkecamuk berisik saling beradu.
Bagaikan saling menyabitkan pedang tang, ting, teng, tang prak. Sepertinya ada yang patah di antara pedangnya. Saling berebut, kapan aku bisa membeli karya-karya temanku yang keren-keren tertunda lagi, tertunda lagi.
Hatiku berkecamuk. Ingin memperjuangkan kapan aku bisa bikin buku keren. Seperti teman-temanku yang pintar dan lincah. Memainkan jurus-jurus Ilmu yang diberikan guru. Jurus pecah telor dan Panca indra.
Syowing sayapnya yang mengepak-ngepak. Indahnya mendayu-dayu, bikin para pembaca terbueh. Dan pola hipnotiknya bikin sang pembaca klepek-klepek hanyut di dalamnya.
Oh sempurnalah Ilmunya. Telah menyerap di jiwanya. Dialognya yang sangat tajam. Tapi aku tak mau menyerah. Berlatih lagi, lelah letih yang tak dirasa. Rasa kantuk yang membara. Harus di terjang kurangin tidur yang berlebihan.
Namun kegagalan demi kegagalan yang aku rasa. Puluhan kali ikut event-event menulis selalu di tolaknya. Aku mengambil Ide-Ide menulis dari luar tak ada yang berhasil lolos event. Terakhir aku hampir menyerah.
Aku ambil dari kisah hidup sendiri “Gadis Penjual Bayam”, yang bercita-cita jadi penulis. Walhasil langsung lolos, dapat sanjungkan dari editornya. Nah ini baru bagus, bisa dibaca oleh umur dua tahun hingga umur 15 tahun. Masyaallah tabarakallah tidak sia-sia aku gagal berpuluh-puluh kali. Pada akhirnya hampir menyerah diterima juga naskahku. Terima kasih ya Allah atas nikmat-Mu. Inilah yang diamalkan jurus pecah telur, ucap coach-ku, saat aku cerita naskahnya diterima.
“Kayaknya ini kamu bikin ending memaksakan diri masih bisa dilanjutkan novelnya” ucapnya. “Ya, memang masih banyak di kepalaku yang ingin aku tulis, disambung cerita ini. (*)
Jakarta, 2 November 2025