HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Kentut

November 8, 2025 06:50
1762558628735

Cerpen Rizal Pandiya | Cerpenis
Sekretaris Satupena Lampung

HATIPENA.COM – Belakangan ini Sukarmin kelihatan agak murung. Wajahnya kusut seperti tumpukan kain yang belum diseterika. Bukan karena bisul atau sakit gigi, melainkan karena istrinya, Nurbedah, punya kebiasaan buruk yang sulit dipahami akal sehat: kentut sembarangan.

Menurut pengakuan Nurbedah, sebenarnya ia bukan kentut. “Aku ini sedang buang angin!” elaknya.

“Emang apa bedanya?” entak Sukarmin setengah protes.

“Ya jelas bedalah, Mas! Kalau buang angin itu membuang penyakit dari badan, sedangkan kalau kentut itu istilah kasar. Ini bukan soal moral tapi soal kesehatan!” jawab Nurbedah tegas, seperti dokter yang sedang memarahi pasiennya yang malas minum obat.

Nurbedah memang belum lama bekerja di sebuah klinik kesehatan. Tapi sejak dapat seragam mirip suster dengan name tag bertuliskan ‘Tenaga Kesehatan Terlatih’, gaya ngomongnya seperti ikut steril dari kata-kata rakyat jelata. Baginya, “kentut” adalah frase yang menistakan dunia kesehatan.

Nurbedah juga tipe perempuan yang pantang kalah. Siapa pun lawan bicaranya – tetangga, tukang sayur, apalagi suami – tak ada yang bisa menang berdebat dengannya. Nurbedah itu cerewet tapi banyak akalnya, dan selalu punya seribu satu alasan yang masuk logika untuk membenarkan dirinya.

Kadang Sukarmin berpikir, ini pasti gara-gara istrinya suka makan cabe sehingga yang keluar dari mulutnya semua pedas. Kalau sudah ngomong, bukan hanya satu kalimat, tapi seperti kuliah umum. Orang baru ngomong satu dia sudah sepuluh. Barangkali kalau Nurbedah nyalon jadi kepala desa, bisa menang telak, bukan karena programnya menarik, tapi mungkin lawan debatnya kelelahan sebelum waktu kampanye selesai.

Tak jelas entah dari mana sumbernya, Nurbedah begitu cepat menguasai ilmu kesehatan, terutama yang berkaitan dengan pencernaan dan gas buang dalam tubuh manusia. Termasuk kentut. Menurutnya, kentut adalah salah satu bentuk terapi yang alami.

“Banyak orang mati gara-gara nggak bisa buang angin, lho,” ujarnya suatu pagi sambil memotong oncom di dapur. “Daripada menumpuk di dalam usus, mendingan dikeluarkan. Itu tandanya pencernaan sehat. Dan kalau kamu memang mencintai aku, harusnya kamu ikut bahagia dong mendengar aku buang angin!”

Sukarmin melongo. “Cinta model apa pula ini?” pikirnya. “Sejak kapan cinta diukur bukan lagi dari ketulusan hati, melainkan dari intensitas desis dari dalam rok bini?”

Pokoknya, sejak saat itu, suasana rumah tangga Sukarmin jadi aneh. Tiap kali ada bunyi “tuuut…”, Nurbedah selalu menatap suaminya dengan bangga, seolah-olah ia baru saja mengukir prestasi nasional. Sementara Sukarmin, hanya bisa menunduk lemas sambil menatap piring nasinya yang baru saja diserang aroma misterius, entah bau got, entah bau bacin.

Sukarmin tidak berani protes. Ia sudah tahu, kalau meributkan soal kentut dengan istrinya, urusannya bakal rame lagi. Tak siang tak malam, tema pertengkaran suami-istri ini bukan lagi masalah ekonomi, melainkan soal ideologi kesehatan. Dan tentu saja setiap pertengkaran digelar, Sukarmin kalah telak. Sepertinya, lelaki tambun itu memang sudah kena mental sejak ia dirumahkan dari kantor tempatnya bekerja.

Kalau biasanya setiap pagi Nurbedah yang menyiapkan sarapan pagi untuk Sukarmin, kini terbalik: ialah yang menyiapkan sarapan lengkap dengan bekal untuk istrinya. Ia juga harus ikhlas mencuci piring, menyapu rumah, bahkan belanja ke pasar tempel sambil menahan tatapan iba dari ibu-ibu tetangganya.

Tidak sampai di situ. Belakang para tetangga sering terdengar bisik-bisik, “Kasihan, ya, Nurbedah, suaminya pengangguran. Mungkin Nurbedah sengaja bikin suami nggak betah di rumah!”

Sukarmin cuma bisa menelan ludah. Ia pun membatin dan berdoa agar badai rumah tangganya segera berlalu.

Tapi makin hari tingkah Nurbedah makin jadi. Saat sedang makan siang bersama, suara “truutttt…” terdengar bergetar dan panjang, seperti sepeda motor mogok karena bensin oplosan. Nurbedah semringah dan tersenyum puas, lalu tanpa dosa ia berkata santai, “Maaf ya, Mas, pencernaan saya sedang aktif!”

Sukarmin hampir saja tersedak sambal. Namun ia tahan emosi sebisanya. Sambil tertunduk lemas akibat embusan angin beracun, ia lalu berdoa dalam hati agar Tuhan segera memberinya keajaiban.

Dan anehnya, doa Sukarmin rupanya terkabul. Pada suatu sore, saat ia membeli gorengan di perempatan lampu merah, ia tidak sengaja membaca sobekan koran bekas bungkus tempe mendoan. Isinya sebuah artikel ilmiah.

“Gas buangan dapat memelihara kesehatan otak, ginjal, dan menurunkan tekanan darah karena mengandung hidrogen sulfida yang dapat menjaga fungsi mitokondria,” kata artikel itu.

Sukarmin pun tertegun sejenak. Karena merasa kurang yakin, ia membaca ulang sampai tiga kali. Rupanya selama ini, aroma menyengat dari pantat istrinya ternyata mengandung obat? Ia baru menyadari kalau selama ini ia bukanlah korban pelecehan, melainkan pasien terapi alami!

Dan seperti biasa, malam itu Nurbedah kembali melakukan “ritual buang angin.” Alih-alih kesal, kali ini malah sebaliknya. Sukarmin langsung menunduk khusyuk, menghirup angin – yang selama ini dinistakan – dengan khidmat.

“Enak, Mas?” tanya Nurbedah.
“Hmm… agak menusuk sih, tapi… terasa agak menenangkan. Seperti jamu tradisional yang alami,” jawab Sukarmin penuh keyakinan.

Mulai saat itu, suasana rumah tangga mereka berubah drastis. Tiap kali kentut, Nurbedah tak lagi menahan-nahan. Pokoknya setiap kali terasa ada angin di perutnya, langsung dilepas. Bahkan mereka mulai saling bersahutan.

“Pruuttt!” Dari belakang dapur, dibalas pula “tuuut!” Dari ruang Tengah. Kadang suaranya fals tapi ritmenya agak harmonis. Sepertinya suami istri itu mulai menemukan harmoni rumah tangga yang sesungguhnya. Bagi mereka, kentut bukan lagi sesuatu yang harus disembunyikan tetapi bisa menjadi musik cinta yang menyatukan dua hati.

Belakangan, para tetangga pun mulai aneh melihat pasangan Sukarmin dan Nurbedah yang nampak harmonis. Kalau biasanya selalu perang mulut dengan iringan piring terbang, dan periuk yang ikut melayang, kini justru sebaliknya. Mereka sangat akur dan serasi. Seperti jenggot pulang ke dagu. Saling membutuhkan bagai ikan dengan kolamnya.

Karena penasaran, suatu hari, tetangga yang kebetulan lewat, mengintip dari balik jendela. Ia melihat Nurbedah dan Sukarmin tertawa cekikikan sambil memainkan musik “orkestra gas” mereka.

Tetangga pun tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita ini. “Eh, katanya pasangan itu bermasalah?” tanya tetangga.

“Iya, tapi sekarang kok bisa akur ya? Katanya mereka selalu terapi pernapasan dari pantat,” jawab yang lain.

Mungkin di luaran sana terdengar konyol, tapi bagi Sukarmin dan Nurbedah, hidupnya jauh lebih bahagia. Tak ada lagi debat soal cicilan, pekerjaan, atau gosip para tetangga. Yang penting hanya satu: menjaga keseimbangan antara input dan output dalam tubuh.

Karena, seperti kata Nurbedah, “Rumah tangga yang sehat bukannya rumah yang bebas dari bunyi kentut, tapi rumah yang bisa saling menerima ambau alias bau satu sama lain.” ujarnya dengan bangga.

Dan pada malam itu, ketika lampu padam dan suara jangkrik mengiringi tidur di peraduannya, terdengarlah “preeeetttt…” dengan sangat lembut dan merdu, seperti tanda cinta yang dikirimkan lewat gelombang frekwensi udara.

Sukarmin tersenyum dalam gelap. “Aduh, wangi durian,” bisiknya mesra, lalu tidur dengan dada lapang dan ginjal yang—menurut penelitian—mungkin sedang disembuhkan. Dan yang jelas, sejak saat itu tensi darah Sukarmin menjadi stabil. (*)

Bandar Lampung, 8 November 2025
#MakDacokPedom

Berita Terkait