HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Lelaki yang Mencari Muka Kepada Tuhan

November 23, 2025 10:11
1763867397344

Cerpen Iyek Aghnia

HATIPENA.COM – Lelaki setengah baya itu bergegas. Langkah kakinya terkesan tergopoh-gopoh. Sangat tergesa-gesa langkah kakinya. Seolah-olah takut tertinggal.

Suara azan mulai terdengar religius dari corong pengeras suara masjid saat dirinya tiba di areal masjid.
” Alhamdulillah,” gumamnya gembira saat tiba di dalam masjid.

Sudah seminggu ini lelaki yang baru saja pensiun ini selalu ke masjid. Sholat berjamaah di masjid. Sesuatu yang dulu diabaikannya.

Saat itu, dia lebih mengutamakan jabatan. Lebih loyal kepada atasan. Bahkan hampir 24 jam waktunya habis digunakan untuk Sang Atasan.
” Kamu itu pegawai atau ajudan? Kok nempel terus dengan atasan?,” tanya sang istri.
” Pendekatan Bu,” jawabnya.
” Kok sudah berbulan-bulan pendekatan, masih tetap bawahan. Masih tetap staf. Nggak naik-naik,” ucap istrinya yang mulai sewot dengan tingkah laku dirinya yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama sang Atasan.
” Tuh lihat Pak Carmuk. Langsung diangkat jadi Kepala Dinas. Nggak ada pendekatan-pendekatan dengan atasan. Apa bapak nggak malu disebut tukang cari muka? Lebih baik cari muka kepada Tuhan untuk bekal akherat,” sambung istrinya yang meninggalkan dirinya sendirian.

Lelaki setengah baya itu terdiam. Menatap matahari yang mulai menaiki langit. Cahaya panasnya memasuki rumahnya. Menghantam tubuhnya. Lelaki setengah baya itu mulai merasakan rasa panas yang mengaliri sekujur tubuhnya.

Berteduh di sebuah rumah yang terbuat dari dinding papan ala kadarnya dengan atap daun rumbia dan berlantai tanah liat, dengan penghuni seorang lelaki tua menyadarkannya tentang arti kehidupan. Tentang masa depan. Tentang akhirat. Kehidupan kekal. Kehidupan abadi.

” Buat apa kamu mencari muka kepada atasan mu? Tidak akan abadi,” ujar lelaki tua pemilik rumah sederhana itu.

Raut wajah lelaki setengah baya itu seketika berubah bak kain kafan. Memucat.
” Apa hasil yang kamu terima dari mencari muka kepada atasanmu? Apa yang kamu dapatkan dari mintak alok kepada pimpinanmu?;Tidak ada. Malah engkau dijuluki orang-orang sekitar mu sebagai penjilat,” suara lelaki tua itu terus berdering bak nada dering handphone.

Lelaki setengah baya itu tersentak. Ada rasa malu yang menghiasi sekujur tubuhnya.

Lelaki setengah baya itu teringat dengan perilaku buruknya selama menjadi bawahan.

Atas nama untuk kehormatan diri, lelaki setengah baya itu selalu berusaha untuk mendekati atasannya demi jabatan. Mencari jalan untuk dikenal atasannya dengan cara-cara tidak terhormat sama sekali.

Bahkan terkadang dirinya rela menjelekkan sesama teman kerjanya. Hanya untuk mencari muka kepada sang Atasan. Melaporkan kesalahan teman sekantornya. Mencari kelemahan kawannya untuk mendapatkan simpati dari Sang Atasan.

Bahkan dirinya rela melakukan segala sesuatu dengan cara apapun yang diminta oleh Sang Atasan.

Bahkan dia dengan gagah berani membongkar berbagai macam peninggalan sejarah dan warisan budaya untuk memuaskan nafsu sang atasan yang akan membuat proyek mercusuar untuk kejayaan namanya sebagai Pimpinan.

Tidak heran bila hujatan menerpa tubuhnya. Teriakan penjilat menyirami tubuhnya tanpa ampun.

” Kalau kamu setia dan loyal kepada saya sebagai pemimpin, saya akan menjadi kamu sebagai Kepala Dinas,” ungkap Sang Atasan dengan suara berwibawa.
” Apakah bisa saya diangkat sebagai Kepala Dinas?,” tanyanya dengan suara ragu.
Maklumlah, dia paham betul dengan aturan kepegawaian.
” Tidak ada di dunia ini, yang tidak bisa kita rubah. Kecuali Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Saya yang berkuasa sekarang,”ungkap Sang Atasan dengan suara yang meyakinkan.
Lelaki setengah baya itu mengangguk. Kebahagiaan mengalir dalam jiwanya. Ambisinya akan menjadi kenyataan. Kehormatan dirinya akan tereskalasi ke langit.

Janji yang ditebarkan Sang Atasan membuat lelaki setengah baya itu terlena.

Termakan narasi indah yang dilontarkan Sang Atasan. Membahagiakan jiwanya. Dia pun terlena. Dan dia berharap besar. Sebagaimana ambisi yang telah mengaliri seluruh tubuhnya. Terutama otak cerdasnya.

Bahkan demi kesetiaan, lelaki setengah baya melakukan kegiatan yang menyerempet kebahayaan bagi dirinya.
” Hati-hati, Bro. Jangan terlalu percaya dengan omongan atasanmu,” nasehat seorang temannya.
” Kamu iri ya, saya dekat dengan atasan kita?,” ucapnya dengan nada kesal.
” Saya sebagai teman cuma bisa menasehati. Bukan iri. Jangan sampai kamu terjebak dengan narasi indah atasan kita,” jawab temannya.
” Dan kamu harus tahu. Sebelum kamu setia dan loyal kepada atasan kita, aku sudah terlebih dahulu. Lalu apa hasilnya?,” sambung temannya.
” Hanya makan angin surga,” celetuk temannya yang lain ngakak.

Lelaki setengah baya itu terdiam. Mulutnya terkunci. Ada rasa malu menggerogoti tubuhnya. Wajahnya merah padam.

Dia tiba-tiba dia teringat dengan para kawannya yang lain yang pernah setia dan loyal kepada sang atasan. Bahkan ada beberapa diantaranya mereka yang harus masuk bui karena membela sang Atasan.
Bahkan ada yang hartanya ludes karena terlalu loyal kepada atasan.

” Kamu jangan konyol. Lebih baik kamu mencari muka kepada Allah dari pada mencari muka kepada atasanmu. Atasan mu tidak selamanya berkuasa. Ada masanya,” ungkap lelaki tua itu tiba-tiba.
” Biar saatnya tiba, Tuhan tahu dengan dirimu,” sambung lelaki tua itu.
” Jabatan itu sementara,Nak. Yang abadi hanya bersujud kepada Allah. Untuk bekal mu diakhirat kelak,” sambung lelaki tua itu.

Lelaki setengah baya itu terdiam. Air matanya mengalir deras. Membasahi ubin rumah lelaki tua itu. Ayahnya.
” Makasih Ayah untuk nasehatnya. Insyaallah aku, anakmu ini akan mencari muka kepada Sang Maha Pencipta. Dan bukan mencari muka kepada atasan yang hanya bersifat sementara,” jawabnya sembari mencium tangan Ayahnya.

Lelaki tua itu tersenyum. Bahagia mengaliri tubuh tuanya. Ada kebahagiaan yang menyelimuti tubuh tuanya.

Hujan mulai mereda. Awan cerah. Burung-burung mulai menghiasi langit yang biru. Kumpulan burung itu menarikan tarian jiwa. Tarian kebahagiaan.

Sebagaimana kebahagiaan yang mengalir dalam jiwa lelaki setengah baya itu yang kini mencari muka kepada Sang Maha Pencipta. Mintak alok kepada Sang Maha Pencipta. (*)

Toboali, November 2025

Catatan:
Mintak Alok ( bahasa Toboali) : Mencari pujian

Iyek Aghnia adalah nama pena usmin Sopian.
Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Bangka Selatan.

Cerpennya tersebar di berbagai media lokal dan luar Bangka Belitung.

Saat ini tinggal di Toboali Bangka Selatan bersama istri dan dua putrinya yang cantik dan kakek seorang cucu yang bernama Nayyara Aghnia Yuna.