HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Menggores Batik Motif Luka

November 27, 2025 12:15
IMG-20251127-WA0075

Cerita Pendek M. Iqbal J Permana

HATIPENA.COM – Pungki tidak lagi menyulam mimpi-mimpi. Ia kini menyulam motif. Tertatih, tapi tetap rapi.

Ia tidak pernah menyangka  A’ Afi akan berubah. Dahulu, lelaki itu adalah pemuda gondrong yang membacakan puisi tentang langit dan Laut , mengatakan bahwa cinta yang melimpah ruah, memang absurd dan tak perlu dipahami, cukup dirasakan. Mereka menikah dengan tergesa, seperti orang mabuk di dermaga yang lupa ke mana kapal bertolak.

Tiga anak mereka tumbuh, seperti pohon tanpa pupuk. Masing-masing memiliki caranya sendiri bertahan dari musim. Reza yang senyap, Dira yang selalu ingin tahu, dan Melia yang menulis lagu tentang ibunya—meski tak pernah menyanyikannya di depan ibunya Pungki.

Hari-hari bersama  A’ Afi, perlahan menjadi lembar-lembar yang tak ingin dibaca ulang. A’ Afi sibuk mengajar, atau berdiskusi dengan mahasiswinya. Sela, salah satunya. Adalah  wangi  parfum baru di udara. Ada sorot mata yang berubah arah. Pungki tahu. Ia tidak menuduh. Ia hanya menunggu sampai kata “cerai” datang seperti tamu yang diundang.

Lalu datanglah kata itu. Datar. Tanpa intonasi. A’ Afi menyebutnya sebagai jalan keluar, bukan akhir. Seolah rumah tangga adalah labirin, Panjang  yang menyesatkan  bukan taman Bunga. Pungki menandatangani surat perpisahan itu seperti menandatangani laporan belanja bulanan.

Ia membawa anak-anak, meskipun tak semua ikut. Beberapa tahun kemudian, Melia memutuskan untuk tinggal dengan ayahnya. Dengan alasan yang tidak pernah dijelaskan.

Di Bangka, Pungki membuka usaha batik. Ia menjahit sambil mengingat. Ia melukis motif luka di atas kain putih. Tanpa corak megah. Hanya jejak-jejak halus seperti gurat kesedihan di wajah perempuan yang terlalu banyak diam.

Motif pertama: “Luka Basi.”  
Tentang kata maaf yang terlalu terlambat.

Motif kedua: “Rindu yang Ditinggal.”
Tentang anak-anak yang tidak lagi pulang.

Motif ketiga: “Selingkuh Terakhir.”
Tentang parfum yang tidak pernah ia beli.

Kain-kain itu laku. Bukan karena indah, tetapi karena terasa lukanya. Para pembeli datang dengan cerita mereka sendiri. Mereka memilih motif seperti memilih kata dalam doa yang nyaris gagal.

Suatu sore, seorang perempuan muda memilih “Motif Dusta.” Ia berkata dengan suara pelan, “Saya suka karena ini terasa benar.” Cincin di jarinya bersinar, foto kecil dalam dompetnya menampakkan wajah yang pernah dikenal Pungki—wajah A’ Afi, dan seorang anak kecil yang bukan Melia.

Saat pameran di Jakarta, Pungki datang mengenakan kebaya lama yang dulu ia pakai saat resepsi. Di pintu galeri, terpajang nama Melia Afi. Di bawah motif “Dusta Tertulis” ada kutipan kurator:

“Motif ini menggambarkan kesalahan seorang ibu yang terlalu sibuk dengan luka, hingga lupa cara mencinta.”

Pungki membaca perlahan. Ia tidak membantah. Ia tidak menangis. Di luar galeri, hujan turun—seperti biasa.

Ia berjalan pulang sambil memikirkan motif baru. Di kepalanya, garis-garis batik mulai terbentuk.

Motif keempat: “Luka yang Tak Diakui.”

Tentang cinta yang diam-diam menghilang dari cerita anak-anaknya.

Di rumah, ia merebus air. Mengisi teko. Membuka lembar kain baru. Mengambil pensil motif.

Malam itu, ia mulai menggambar. Bukan untuk laku, tetapi untuk Luka,  untuk mengingat siapa dirinya, sebelum menjadi bagian dari luka orang lain. (*)