HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Absurditas Pahlawan dalam Eksistensialisme Sartre

November 8, 2025 17:32
IMG_20251108_173120

Syaefudin Simon | Kolumnis
Anggota Satupena Jakarta

HATIPENA.COM – Jika Anda selama ini mendambakan pahlawan sebagai sosok bersinar yang turun dari langit dengan jubah berkibar dan hati murni, maka mohon duduk dan tarik napas: Sartre datang untuk menghancurkan fantasi Anda dengan tawa nihilistik.

Dalam eksistensialisme, pahlawan bukanlah manusia sempurna—ia adalah manusia yang secara sial sadar bahwa seluruh hidupnya adalah tanggung jawabnya, bahkan ketika hidup itu jelas-jelas kacau.

Sartre tampaknya ingin kita memahami bahwa menjadi pahlawan itu bukanlah urusan moralitas steril, melainkan proses panjang menelan ludah sendiri sambil berkata, “Baiklah, ini salahku juga.”
Dan ya, itu terdengar seperti lelucon kosmis yang buruk. Persis seperti dunia nyata.

Pahlawan ala Sartre

Menurut filsuf eksistensialis Prancis Jean Paul Sartre, manusia “terkutuk untuk bebas”. Kalimat ini terdengar keren sampai Anda menyadari artinya: semua pilihanmu, bahkan yang tidak pernah kauinginkan, tetap harus kau pertanggungjawabkan.

Lalu muncul pertanyaan: Apakah pahlawan itu suci?
Sartre menjawab: tentu saja. Setidaknya suci dalam arti eksistensial, yaitu bersih dari alasan-alasan murahan seperti “disuruh,” “terpaksa,” atau “keadaan memaksa.”

Jika Anda ingin menjadi pahlawan, silakan masuk ke arena, ambil semua keputusan absurditas itu sebagai keputusan Anda, dan berdiri tegak meski kaki gemetar.
Sartre akan mengangguk dari kejauhan sambil merokok: “Akhirnya kau mengerti.”

Da lk am drama No Exit, Sartr menampilkan tiga manusia terkunci dalam satu ruanga tanpa pintu keluat. Mereka saling menatap, saling menyalahkan, saling menggertak, dan akhirnya menyadari:
“Neraka adalah orang lain.”

Mereka terlihat akrab. Padahal tidak. Ini mirip arena sosial di mana satu tokoh “pahlawan” ditugasi menanggung beban proyek raksasa dari tokoh sebelumnya—sebuah peristiwa yang dalam artikel ini kita gunakan sebagai alegori politik, bukan realitas hukum atau faktual.

Nama tokohnya?
Karena ini alegori teater, mari panggil mereka Prabowo dan Jokowi, dua karakter fiksi dalam drama eksistensial berskala negara.

“Jokowi”— sang Arsitek Proyek Spektakuler—mewakili karakter Sartrean yang membangun dunia melalui keputusan-keputusan besar, penuh penuh risiko, dan penuh konsekuensi yang akan diwariskan. Tapi gagal mempertanggungjawabkannya,

“Prabowo”—sang Penerus Tanpa Pilihan—adalah karakter yang memasuki panggung pada babak berikutnya dan mendapati dirinys berdiri di samping tumpukan tanggung jawab yang bukan hasil kerjanya.

Gambaran di atas bukan penilaian moral. Tapi semata-mata ilustrasi eksistensial tentang bagaimana satu keputusan dapat menghasilkan lingkaran absurditas bagi mereka yang datang setelahnya.

Prabowo tak bisa menolak mempertanggungjawabkan proyek absurd Jokowi. Ya, karena ia hadir untuk itu. Pahit dan getir harus ia telan karena itulah pilihan Prabowo. So, kita harus mengerti mengapa Prabowo mengambil alih utang koruptif Whoosh. Itulah sikap eksistensial Prabowo. Ia pahlawan eksistensialis Sartre yang absurd.

Dalam drama Sartre yang lain, The Respectful Prostitute, tokoh utama dipaksa memainkan peran sosial yang tak pernah ia inginkan. Ia harus bertindak sesuai label yang diberikan masyarakat, bukan sesuai definisi dirinya sendiri.

Itulah gambaran paling pedih dari eksistensialisme: kadang dunia memaksa kita menerima peran yang bahkan tidak kita pilih. Dalam alegori politik kita, perannya kira-kira begini:

“Jokowi” memegang peran Arsitek Besar yang penuh konsekuensi struktural. “Prabowo” memegang peran Penerus yang harus mengelola semua konsekuensi itu meski tidak merancangnya. Publik memegang peran penonton yang bingung tapi tetap menilai.Semuanya absurd, semuanya ironis, semuanya sangat Sartrean,

Eksistensialisme Sartre tidak menawarkan pahlawan dengan aura suci, tapi manusia biasa yang sadar dirinya bebas, sadar hidupnya absurd, sadar keputusan-keputusan yang tidak ia buat bisa menimpanya untuk bertanggungjawab. Dan ia tetap berkata: “Baiklah. Aku terima.”

Tokoh Prabowo menerima nasib seperti itu. Dan ia menerimanya dengan suka cita. Prabowo menjadi manusia idealis versi Nietzsche. Menerima nasib apa pun dengan senang hati. Amor Fati.

Ya! tulah kesucian eksistensial. Itulah kebebasan yang menyakitkan. Itulah pahlawan menurut Sartre —makhluk yang mencoba menjaga harga diri dalam teater kehidupan yang penuh absurditas dan peran yang tak pernah dipilih.

Sartre tidak menawarkan pelipur lara.
Ia hanya menawarkan kalimat pendek yang cukup untuk membuat siapa pun ingin menutup buku dan minum kopi pahit, “Kita adalah apa yang kita lakukan terhadap apa yang terjadi pada kita.” Selebihnya adalah neraka kecil bernama dunia. (*)