(Setelah Teori dan Kemudian?) [1]
Narudin Pituin | Sastrawan, Penerjemah, dan Kritikus
HATIPENA.COM – Perbincangan tentang After Theory (Setelah Teori) tak hanya disinggung oleh Terry Eagleton pada tahun 2003, tetapi juga oleh beberapa teoretikus seperti Valentina Cunningham dengan bukunya Reading After Theory (2002), Jean-Michel Rabate dengan bukunya The Future of Theory (2002), dan beberapa kumpulan pemikiran tentang isu ini, yakni buku berjudul Post-Theory: New Directions in Criticism (1999), What’s Left of Theory (2000), dan Life. After. Theory. (2003).
Cunningham dalam buku Reading After Theory (2002) ingin kembali kepada sastra sebagai literatur. Teori sejak tahun 1960-an telah memberi dampak yang besar dan telah terlempar ke kegelapan luar (cast into outer… darkness). Ia ingin kembali kepada pembacaan cermat (close reading) teks secara tradisional. Di lain pihak, Terry Eagleton (2003) membantah bahwa tak benar teori budaya menghindari pembacaan cermat. Frank Kermode bahkan berkata kita tetap bingung tentang apa yang membuat seni atau sastra bagus untuk kita karena estetika sudah mulai usang. Maka, Cunningham berpendapat bahwa sastra dan membaca yang baik harus terhubung dengan gagasan masyarakat yang baik.
Close reading pun digugat misalnya oleh Jonathan Bate (2003) bahwa close reading merendahkan minat terhadap fakta kehidupan pengarang. Lalu muncullah Strukturalisme ala Jonathan Culler yang tampak bersemangat dan objektif dan kemudian diusik pula oleh Dekonstruksi yang sepakat dengan “apa pun yang kita sukai” yang lebih digambarkan sebagai “melawan teks sendiri” daripada kepaduannya. Sementara itu, Jean-Michel Rabaté (2002) mengeluarkan istilah “genetic criticism” (kritik genetik) yang memeriksa transisi sebuah teks dari berupa naskah hingga menjadi sebuah buku, dengan cara mencari bukti tekstual faktual perihal kehendak pengarang, bentuk sensor, kolaborasi, dan revisi. Ia menilai inilah kaitan studi sastra dan sains.
Di pihak lain, Joughlin dan Malpas melihat perlu ada estetika baru (new aestheticism) yaitu estetika sebagai pos-estetika yang memiliki pandangan dialektis bahwa sastra dan politik jangan dipisahkan—seperti dalih Theodor Adorno bahwa pembelaan otonom seni harus kritis secara sosial.
Sebagai penutup esai ini, Terry Eagleton dalam buku After Theory (2023) berkata bahwa setengah hal yang hilang dari teori bukan membaca atau literatur, budaya, atau estetika, melainkan politik—bukanlah pula “teori tinggi” dari Derrida, Foucault, dan lain-lain, melainkan Posmodernisme. Dalam menghadapi tantangan ini, agenda kritis dan teoretis posmodern fokus kepada gender, ras, dan seksualitas bersama dengan karakteristik sikap skeptisisme dan pluralisme. Alhasil, After Theory itu tampak bermakna “datang setelah” periode ketika kajian budaya (cultural studies) dan Posmodernisme memegang peranannya.
Catatan saya, jika mengacu lagi kepada Posmodernisme yang menurut Linda Hutcheon (1988) [2] menolak menotalkan dan menyusun konsep seraya mendukung fragmen-fragmen sebagai pembebasan, tentu saja hal ini akan mengarah pada ketidaktentuan atau kekacauan berpikir atau bernalar seperti dipetakan oleh Ihab Hassan (1987). [3] Dan kekacauan berpikir tidak patut dirayakan sebab bertentangan dengan akal sehat manusia yang hakiki. (*)
26 Februari 2024
Catatan Kaki :
[1] Esai ini disarikan dari “Conclusion: Post-Theory” dalam buku Raman Seldon, Peter Widdowson, dan Peter Brooker, A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory, Fifth Edition, Great Britain: Pearson Longman, 2005, halaman 267-279.
[2] Baca “Theorizing the Postmodern” dalam K.M. Newton Twentieth-century Literary Theory: A Reader, Second Edition, New York: Palgrave Macmillan, 2007, halaman 275-282.
[3] Baca Ihab Hassan “Toward a Concept of Postmodernism” dalam The Postmodern Turn, Columbus: Ohio State University Press, 1987.