by bambang oeban | Penulis/ Pegiat Seni
HATIPENA.COM – Di bawah langit Pamekasan yang redup tetapi tak pernah padam, di bawah angin yang membawa wangi garam, bau tanah ladang, suara pasar, dan desir laut yang tak henti mencatat sejarah langkah manusia, hari itu — Sabtu, 15 November 2025 — Pendopo Wakil Bupati berdiri seperti seorang saksi tua yang menampung percakapan zaman; tempat para seniman berkumpul, tempat pengurus sanggar duduk berdampingan, tempat para pemilik harapan menyatukan suara dalam satu musyawarah yang lebih tua dari usia kalender: musyawarah yang bernama kepercayaan.
Mereka datang membawa mimpi, datang membawa semangat, datang membawa suara yang selama ini terserak di berbagai padepokan, galeri kecil, panggung musik, meja rias para perias, dan di setiap ruang sederhana di mana seni bernafas seperti ayam jago di pagi hari: tegap, lantang, tak kenal mundur. Tiga puluh dua perwakilan komunitas hadir, tak ada yang merasa lebih tinggi, tak ada yang merasa lebih kecil— karena di mata seni, semua adalah anak zaman yang mencoba menjadi berguna.
Dan dari ruang itu, di antara doa yang mengalir dan percakapan yang mengendap, di antara niat baik yang ditaburkan seperti benih padi, sebuah nama muncul bukan karena ia meminta, melainkan karena dialah yang dipanggil: Arief Wibisono.
I. Penerus Napas Leluhur
Namanya tidak asing di kalangan pelestari budaya. Ia satu dari sedikit orang yang memilih jalan sunyi: melestarikan kriya keris, sebuah seni yang menuntut ketelitian, kesabaran, dan kematangan batin.
Pada bilah keris, ia membaca sejarah.
Pada pamor, ia mendengar doa para leluhur. Pada gagang dan warangka, ia menemukan karakter manusia yang tersimpan di antara serat kayu dan ukiran ukir kecil. Ia bekerja bukan untuk sorak penonton, bukan untuk tepuk tangan, tetapi untuk sesuatu yang jauh lebih besar: keinginan agar budaya tak hilang seperti debu yang tertiup angin modernitas.
Dan ketika namanya terpilih secara aklamasi, ia tidak berdiri seperti pemenang lomba; ia berdiri seperti petani yang baru diberi sawah luas: senang, bangga, tetapi juga tahu bahwa mulai saat itu tugasnya tidak ringan.
II. Memiliki Amanah Seni Budaya Leluhur
“Amanah yang sangat besar,” katanya. Suaranya tak lantang, tetapi jelas. Matanya tidak gemetar oleh kemenangan, tetapi oleh rasa tanggung jawab yang tiba-tiba berdiri di hadapannya seperti bukit. Ia tahu, memimpin Dewan Kesenian Pamekasan bukan sekadar duduk di meja rapat. Ia tahu, dunia kesenian bukan perabot mewah yang tinggal dipamerkan. Ia tahu, seni tidak hidup dari kata-kata saja; ia hidup dari tangan-tangan manusia yang mencintainya.
Maka ia berjanji untuk merangkul semua: Seni Teater, Seni Sastra, Seni Musik, Seni Rupa, Seni Tari dan Seni Kriya, yang menyatu dalam warna seni pertunjukan, semua sanggar, semua komunitas, semua anak muda yang mencoba menulis puisi pertama, yang mencoba menggambar di tembok kamar, yang belajar memukul terbang, yang diam-diam mengukir kayu di belakang rumah.
“Amanah ini adalah tantangan,” katanya.
Dan diucapannya, kita dapat melihat bahwa ia tidak lari dari tantangan itu.
III. Tanah Seni Budaya
Kita tahu Pamekasan bukan hanya garis di peta. Ia adalah ruang yang membentuk kita, menginjak kaki kita, menyimpan bahasa kita, dan membesarkan jiwa kita. Di tanah ini, gending memanggil langit, topeng mengajarkan hikmah, sastra membuat kita mengenang, dan tari membuat tubuh kita memahami ritme dunia.
Kesenian bukan hiburan semata; ia adalah darah. Ia adalah cara orang Madura mengingat asal-usul, cara kita menyapa masa depan tanpa membuang masa lalu. Dan di tanah seperti itu, kehadiran pemimpin yang paham akar budaya bukanlah bonus, itu semacam satu keharusan.
IV. Pemerintah Perlu Membuka Ruang
Arief Wibisono tidak menutup-nutupi kesulitan. Ia tahu kondisi pemerintah daerah belum pasti dalam memberi dukungan pada Dewan Kesenian. Ia tahu anggaran tidak selalu jelas. Ia tahu banyak hal masih menggantung seperti lampu di tengah angin. Namun ia tidak mengeluh.
Ia tidak menunggu belas kasihan. Ia hanya berkata bahwa program kerja harus tetap berjalan meski dengan segala keterbatasan. Karena seni tidak menunggu keadaan ideal untuk lahir. Ia tumbuh di mana pun ada manusia yang mau memperjuangkannya.
V. Pelaku Seni Jangan Mati Langkah
Ia berkata lagi, dengan nada yang lebih tegas: “Kita tidak boleh berhenti berkarya.” Dan kata katanya melayang di Pendopo seperti burung yang baru dilepas. Semua yang hadir tahu, bahwa kalimat itu bukan hanya seruan moral—itu adalah gema dari sejarah panjang Madura yang tidak pernah diam. Seni adalah cara kita bertahan. Cara kita diakui. Cara kita menunjukkan bahwa Madura bukan hanya identitas, tetapi juga peradaban.
“Karena esensi dari berkesenian,” ujarnya,
“adalah melanjutkan pondasi kebudayaan para pendahulu.” Dan kalimat itu menggetarkan banyak hati: bahwa kita bukan hanya hidup untuk hari ini, tetapi melanjutkan apa yang sudah dirintis oleh nenek moyang kita yang berjalan tanpa lampu tetapi membawa cahaya.
VI. Seni Budaya Madura: Pantang Terkikis
Ia berkata lagi, dengan nada prihatin
namun penuh harapan: “Kebudayaan Madura mulai terkikis zaman.” Dan kita tahu itu benar.
Bahasa mulai bercampur, busana adat dipakai hanya saat lomba, kesenian muncul hanya ketika ada festival. Tetapi bukankah tugas kita
bukan meratapi perubahan, melainkan memeluknya sambil tetap menjaga apa yang penting? Arief Wibisono percaya bahwa kebudayaan tidak akan punah selama masih ada orang yang mencintainya. Dan karena cinta itulah ia menerima amanah ini.
VII. Dimulai dari Setiap Hati
“Harapannya semua harus dimulai dari kita sendiri,” katanya. Dan kalimat ini sederhana, tetapi seperti petir kecil yang membangunkan kesadaran. Seringkali kita menunggu orang luar untuk menghargai budaya kita. Kita menunggu turis untuk memotret tari kita, kita menunggu akademisi menulis buku tentang kita, kita menunggu dunia menoleh ke arah kita. Padahal yang pertama harus jatuh cinta adalah kita sendiri.
Bagaimana orang lain mau belajar bahasa Madura jika kita sendiri malu menggunakannya? Bagaimana orang lain tertarik pada keris Madura jika kita justru menganggapnya benda tua tak berguna? Bagaimana orang luar kagum pada kesenian kita jika kita tak menghadirkannya dalam keseharian? Cinta tanah air, cinta Madura, dimulai dari langkah kecil: menjaga, memakai, mengenalkan.
VIII. Pamekasan Bermartabat
Dengan suara penuh harapan, Arief Wibisono membayangkan masa depan: Pamekasan yang maju, Pamekasan yang tidak hanya bangga pada ekonomi, tetapi juga pada seni. Pamekasan yang menjadi rujukan budaya, tempat orang datang belajar tentang bahasa, busana, karakteristik,
dan cara mencintai tanah air.
Ia membayangkan dunia datang ke Madura bukan karena konflik, bukan karena isu negatif, bukan karena sensasi media, melainkan karena keindahan jiwa masyarakatnya. Seni adalah cara memperkenalkan martabat tanpa berteriak. Dan ia ingin martabat itu bersinar.
IX. Langit Senja Pamekasan
Musyawarah selesai. Orang-orang beranjak pulang. Cahaya sore menuruni atap Pendopo seperti embun jingga. Dan di bawah cahaya itu, Arief Wibisono berdiri—tidak sebagai bintang panggung, tetapi sebagai nakhoda kapal kecil yang hendak mengarungi lautan luas. Ia tahu badai akan datang. Ia tahu angin politik bisa tak menentu. Ia tahu fasilitas tidak selalu cukup.
Ia tahu dukungan tidak selalu stabil. Namun ia juga tahu satu hal: bahwa seni tidak bisa mati selama ada manusia yang mencintainya. Dan hari itu, dengan dukungan 32 komunitas, dengan doa para pelaku seni, dengan harapan yang tak dapat ditimbang, Pamekasan mengucapkan satu kalimat penuh keyakinan: “Kami memilih yang tepat. Kami memilih Arief Wibisono.”
X. Lima Tahun ke Depan
Lima tahun ke depan bukan hanya perjalanan kepemimpinan. Ia adalah perjalanan kebudayaan. Akan ada program yang perlu diperjuangkan, akan ada panggung yang harus dirawat, akan ada seniman muda yang harus disapa, akan ada tradisi yang harus dilestarikan. Tetapi selama roda kebudayaan berputar di tangan orang yang mencintainya, kita semua percaya bahwa Pamekasan tidak berjalan mundur. Hari itu bukan sekadar hari pemilihan.
Itu adalah hari penyalaan obor. Obor yang akan dibawa sampai ke desa-desa, ke sekolah-sekolah, ke panggung kecil, ke rumah-rumah yang setiap malam menulis, mengukir, melukis, menari, menyanyi, dan mencintai. Dan obor itu kini berada di tangan seorang pelestari kriya, seorang anak budaya, seorang penjaga api zaman: Arief Wibisono. Semoga ia kuat memikul amanahnya. Semoga Pamekasan kuat mendukung langkahnya. Semoga seni tetap hidup, tetap tumbuh, tetap menjadi nafas peradaban yang tak pernah padam, dan jangan pernah dibiarkan tenggelam. (*)
Salam Budaya Bangsa!
Dari Timur Bekasi, Minggu, 16 November 2025, 12.15