HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Bali Pulau Kreatif

November 17, 2025 14:48
1000541824

Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya | Penulis

HATIPENA.COM – Bali selalu disebut pulau surga, pulau dewata, pulau wisata. Tetapi ada satu sebutan yang jarang diucapkan—pulau kreatif. Pulau yang seolah diberkahi DNA khusus: DNA kreatif.

Di tangan orang Bali, kulit telur bisa disulap menjadi karya seni yang layak dipajang di galeri internasional. Selongsor peluru pun berubah menjadi karya seni yang penuh estetika. Bambu, daun kelapa, benang tradisional, dedaunan—semua bisa menjadi karya yang menakjubkan.

Orang Bali tidak pernah melihat bahan; yang mereka lihat adalah kemungkinan.

Dan karena DNA itulah, setiap musim Galungan, kreativitas itu kembali menampakkan wujud paling nyata. Penjor Galungan, yang semestinya sederhana—lambang Gunung Agung, simbol syukur atas kesuburan dan kemenangan dharma—tiba-tiba menjelma menjadi panggung kompetisi artistik.

Di beberapa tempat, penjor bukan lagi sekadar janur melengkung; ia berubah menjadi karya seni monumental. Ada yang tinggi menjulang dengan harga menyentuh 10 juta rupiah, bahkan lebih untuk satu batang bambu yang penuh hiasan, anyaman, motif geometris, dan serangkaian busung yang dirangkai rapi seperti intan yang dipahat cahaya.

Awalnya muncul di Kesiman—kawasan yang memang tak pernah kehabisan seniman. Lalu merembet ke Sading. Dan kini bahkan berdiri megah di depan Pura Suranadi, Lombok.

Orang bingung menyebutnya apa: apakah itu masih penjor dalam makna klasik, atau sudah kategori baru bernama “penjor luar biasa”? Yang jelas, karya itu menakjubkan.

Fenomena ini mengingatkan kita pada ogoh-ogoh. Dahulu ogoh-ogoh hanyalah simbol Bhuta Kala pada saat Tawur Kesanga. Sederhana. Sunyi. Namun pelan-pelan berubah jadi boneka raksasa, kemudian patung mencekam, kemudian seni spektakuler yang atraksinya justru mengalahkan esensi ritual itu sendiri.

Penjor—mungkin saja—sedang berjalan ke arah yang sama. Muda-mudi banjar mengumpulkan dana, menggelar gotong royong panjang, merancang dekorasi yang memukau.

Bila Bali punya 1.500 desa adat dan setiap desa 3 banjar, bayangkan 45 ribu penjor megah berdiri tegap saat Galungan. Betapa mahalnya, betapa megahnya, betapa ramainya energi muda yang tersalurkan di sana.

Dan, pertanyaan yang muncul: di mana letak kepuasan itu?

Sebagai orang yang pernah menjadi ketua teruna-teruni di banjar, rasanya saya paham di mana kepuasan warga. Ketika penjor terpasang tegak, ada rasa bangga yang tak mampu dijelaskan dengan bahasa. Seperti ogoh-ogoh yang baru selesai dipasupati, di pajang di pinggir jalan sebelum diarak, penjor itu ibarat mahkota hasil jerih payah berjamaah. Orang tua pun larut dalam bangga. Mereka duduk berhari-hari hanya untuk menatap karya anak-anak mereka sambil berdebat: “Warnanya harus begini… bambunya kurang besar… harus lebih padat…” Sebuah forum estetika yang lahir dari kesungguhan.

Apakah ini kebablasan? Di sinilah paradoks manusia Bali: ketika menyangkut kreativitas, dukungan warga mengalir deras. Donasi tidak sulit, gotong royong tidak pernah berhenti.

Tapi untuk beasiswa, untuk membantu sekolah, untuk kegiatan sosial—sering kali jauh lebih sulit. Namun ketika tujuannya membangun pura, membuat ogoh-ogoh, menegakkan penjor, atau kegiatan seni budaya lainnya, gelombang dukungan itu meledak seperti mata air tak pernah kering.

Meskipun nantinya penjor saat pegatuakan, diturunkan lalu dibakar sebagaimana ogoh-ogoh yang dipralina, orang Bali tahu: keindahan yang fana pun layak diperjuangkan.

Negara semestinya peka membaca fenomena ini. Kreativitas sebesar ini tidak boleh hanya lewat sebagai ritual musiman.

Muda-mudi yang mampu membuat penjor megah biasanya memiliki bakat dekorasi tingkat tinggi. Mereka sesungguhnya calon profesional yang bisa menghias hotel, menangani acara internasional, memperindah panggung dunia.

Mengapa tidak diarahkan kesana? Sebagai sebuah analog, saat APEC diselenggarakan di Bali, tusuk gigi justru didatangkan dari Jakarta? Jangan-jangan soal panggung dan dekorasi diserahkan pada Jakarta sebagaimana tusuk gigi.

Ini sebuah ironi yang tak boleh terulang bahwa warga yang paling kreatif justru tidak dilibatkan. Karya bambu, busung, dan lontar Bali memiliki keunggulan ramah lingkungan dan estetika yang tak mudah ditandingi yang mestinya terdepan untuk proyek-proyek kreatif di hotel dan panggung-panggung nasional dan internasional.

Sekadar berilustrasi, barangkali karena DNA kreatif inilah Bali memiliki kalender sendiri yang disebut kalender Bali dengan tahun Saka Bali, aksara sendiri (Aksara Bali), huruf sendiri, huruf Bali, bahkan agama sendiri; Gama Bali.

Belum lagi tarian, lukisan, tembang, gamelan, gong, dan berbagai seni lainnya yang tumbuh subur. Semua made in Bali, ia lahir dari tangan-tangan yang mencintai kreativitas sebagai napas hidup.

Di tengah dunia paradoks ini—antara ritual dan seni, antara tradisi dan inovasi—Bali terus membuktikan satu hal: kreativitas bukan sekadar kemampuan, tetapi taksu.

Ia adalah warisan yang menitis di setiap generasi, mengalir dalam darah, menuntun tangan bekerja, dan memaksa imajinasi melampaui batas.

Dan selama DNA kreatif itu tetap berdenyut, Bali akan selalu menjadi panggung yang tak pernah padam. Pulau yang tak hanya indah dipandang, tetapi selalu mampu melahirkan keindahan baru dari apapun yang disentuhnya. (*)

Selamat Hari Raya Galuangan; semoga semua berbahagia.

Denpasar, 17 Nopember 2025