LK Ara | Sastrawan/ Penyair
HATIPENA.COM – Di Gayo, seorang ceh didong bukan hanya seniman. Ia adalah penjaga ingatan, penyambung suara nenek moyang, dan pendidik masyarakat melalui syair yang lahir dari pengalaman hidup, keimanan, dan kecintaan pada adat. Dalam denting suara yang kadang melengking, kadang melemah, seorang ceh didong membawa pesan tentang hidup: tentang kerja keras, tentang persaudaraan, tentang martabat Gayo yang tak boleh goyah.
Pertanyaannya:
Berhakkah seorang ceh didong mendapatkan penghargaan dari pemerintah?
Jawabannya—bila kita jujur pada sejarah dan kebudayaan—bukan hanya berhak, tetapi wajib.
⸻
- Ceh Didong Adalah Arsip Hidup Gayo
Di banyak daerah, arsip budaya disimpan dalam lemari kaca dan museum. Tetapi di Gayo, arsip itu berjalan dengan dua kaki: ia bernama ceh didong.
Ceh tidak hanya menyanyikan syair; ia juga:
– menyimpan kisah kampung,
– mengingatkan generasi muda pada hikmah leluhur,
– menegur melalui pantun,
– memuji melalui irama,
– dan mendamaikan sengketa lewat seni.
Tidak banyak profesi sosial yang mampu melakukan semua itu sekaligus. Ketika lembaga formal gagal mengajarkan moral, ceh didong mengisi ruang itu.
Apakah sosok seperti ini tidak layak dihargai negara?
⸻
- Mereka Penjaga Identitas yang Tak Tergantikan
Di tengah dunia yang berubah cepat, kebudayaan sering menjadi korban paling awal.
Generasi muda bukan tidak mencintai adat, tetapi mereka sering kehilangan jalur untuk mengaksesnya.
Ceh didong adalah jembatan itu. Ketika ia berdiri atau duduk dalam lingkaran didong, suara yang keluar bukan hanya suara manusia:
itu adalah gema ratusan tahun.
Tanpa mereka, sebagian besar syair Gayo akan hilang, karena banyak yang belum pernah ditulis,
masih hidup dalam ingatan para ceh.
Seseorang yang menjaga identitas bangsa,
menjaga wajah daerah, menjaga bahasa dan nilai— tentu layak diberi tempat terhormat.
⸻
- Seni Didong Mengangkat Martabat Daerah di Tingkat Nasional dan Internasional
Didong telah dipentaskan di berbagai kota di Indonesia, bahkan di luar negeri. Dan selalu—tanpa terkecuali—para ceh yang membawa keindahan itu.
Mereka adalah duta budaya yang tidak dibayar,
yang mempromosikan Gayo lebih baik daripada iklan pariwisata manapun.
Pertanyaannya:
Jika atlet yang membawa nama daerah diberi penghargaan, mengapa seniman tradisi tidak?
Jika negara mengakui seni sebagai bagian dari peradaban, maka para ceh didong adalah penjaga peradaban itu.
⸻
- Mereka Telah Mengabdikan Hidup Tanpa Menuntut Balas Jasa
Sebagian besar ceh didong hidup sederhana.
Mereka berkarya karena cinta dan amanah,
bukan karena imbalan.
Ada ceh yang mengajar anak-anak kampung secara cuma-cuma, ada yang memimpin latihan malam-malam, ada yang tetap tampil meski tubuh tidak lagi muda, ada yang mengganti biaya perjalanan dari kantong sendiri— semua demi agar didong tidak hilang.
Apakah pengabdian seperti ini tidak layak diberi penghargaan? Di sinilah peran negara:
mengakui, menghargai, dan melestarikan.
⸻
- Penghargaan Pemerintah adalah Bentuk Tanggung Jawab pada Kebudayaan
Memberikan penghargaan bukan sekadar memberi piagam. Ini adalah pernyataan:
bahwa negara hadir untuk menjaga kebudayaan leluhur.
Jika negara tidak memberi penghargaan kepada mereka yang menjaga tradisi,
lalu kepada siapa lagi penghargaan itu harus diberikan?
Apalagi kini, ketika modernisasi membuat kesenian tradisi terancam dikalahkan hiburan digital, penghargaan pemerintah dapat menjadi:
– motivasi bagi generasi muda,
– penguat spirit bagi para ceh,
– penanda bahwa budaya tidak boleh dibiarkan mati.
⸻
Kesimpulan :
Ya, ceh didong sangat berhak menerima penghargaan dari pemerintah— bahkan lebih dari sekadar berhak: itu adalah kebutuhan moral negara.
Karena melalui mereka, Gayo tidak hanya mempertahankan suara masa lalu, tetapi juga membangun martabat masa depan.
Dan selama masih ada ceh yang bersedia duduk di bawah cahaya redup, membaca syair-syair yang menghidupkan kampung, di sanalah kita harus berdiri memberi hormat. (*)