Rosadi Jamani | Penulis
Ketua Satupena Kalbar
HATIPENA.COM – Seorang penulis yang kehilangan ide itu mirip organisme uniseluler yang kekurangan glukosa. Lemah, tak bergairah, dan hanya bisa pasrah ditelan nasib. Itulah saya subuh tadi. Otak kosong, mood turun, inspirasi kabur seperti enzim keluar dari membran sel. Tapi hidup berubah ketika membuka X dan melihat sesuatu yang membuat ekosistem digital gegar otak nasional, Nangka trending nomor satu.
Kok bisa buah nangka mengalahkan isu besar di negeri ini. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Dalam biologi, nangka bukan spesies yang agresif. Ia tak pernah menyerang, tak pernah cari kamera, dan tak pernah bikin drama. Ia hanya buah raksasa yang tumbuh di batang pohon, seolah bumi sedang bercanda. “Nih, tak kasih buah sebesar bayi badak mini, coba kau urus.” Tapi Indonesia punya logika sendiri. Di sini, nangka berhasil mengalahkan semua isu berat negara.
Padahal, pagi ini timeline sedang memuntahkan isu kelas meteorit purba.
Pertama, RUU KUHAP disahkan dalam dua hari. Secepat kultur bakteri E.coli berkembang biak di air cucian tempe. KUHAP lama dari Orde Baru tersingkir. Publik ribut. Kewenangan penyidik makin jumbo, hak tersangka bisa terkikis seperti DNA yang salah copying.
Tapi warganet? “Yah… tapi nangka manis juga, wak.”
Kedua, kontroversi gelar pahlawan untuk Soeharto. Golkar bilang “gas”, PDIP bilang “rem”. Sejarah memanas. Debat memanjang. Ini seperti dua hormon saling berebut reseptor, adrenalin dan serotonin tarung bebas. Namun publik tetap berkata, “Nangka tua kalau dikukus, lembutnya macam awan.”
Ketiga, Hari Anak Sedunia. Fokus pada pendidikan, kesehatan, perlindungan. Serius sekali. Penuh empati. Tapi netizen lebih sibuk menganalisis, “Apakah ada mutasi genetika baru yang membuat manusia tiba-tiba craving nangka jam 3 pagi?”
Keempat, transaksi judi online mencapai Rp155 triliun. Angka yang bisa mendanai riset untuk mengkloning gajah Jawa sambil membangun laboratorium bawah laut. Yusril bilang tanpa TPPU mustahil diberantas.
Rakyat? “Mahal-mahal begitu, daging nangka di pasar pun makin mahal.”
Lanjut ke drama, isu ijazah palsu Jokowi.
Ade Darmawan bilang seperti diorkestrasi. Ahli UI bedakan palsu substansi vs palsu fisik, mirip bedakan virus dengan bakteri. Jimly minta mediasi. Negara riuh seperti ribosom salah baca RNA. Tapi warganet fokus pada hal yang lebih penting bagi biologi perut, “Nangka tetap nangka. Tak palsu, tak manipulatif.”
Di Singapura, Jokowi tampil megah di Bloomberg New Economy Forum, membahas “Thriving in an Age of Extremes”. Dunia mendengar. Diplomasi mengalir. Indonesia? “Extreme apa? Yang extreme itu nangka bisa trending dua hari berturut!”
Yang paling heboh, OTT pejabat. Sembilan pejabat elit terjaring KPK bulan ini. Ada Abdul Wahid, Sugiri Sancoko, Abdul Aziz, Sekda, Direktur RSUD, lengkap macam koloni jamur yang tumbuh di roti basi. Publik menyimpulkan, “Kemungkinan besar korupsi ini berkembang biak seperti kapang. Pakai spora.”
Lalu… kenapa nangka trending?
Jawaban biologisnya sederhana tapi kocak,
Nangka adalah satu-satunya buah yang tetap jujur meski dunia kacau. Ia tidak korup. Tidak punya pasal kontroversial. Tidak mengemis gelar pahlawan. Baunya jelas. Rasanya jujur. Teksturnya tidak pernah bohong.
Dalam ekologi mental bangsa yang hampir punah karena berita berat, nangka menjadi homeostasis, penyeimbang sistem agar rakyat tetap waras. Sebuah buah yang mengaktifkan hormon bahagia tanpa perlu konferensi pers.
Dari situlah inspirasi tumbuh kembali, seperti tunas nangka yang muncul meski pohonnya hampir tumbang.
Karena kadang, wak…
di tengah kegilaan politik, kita hanya butuh satu hal, nangka, dan alasan untuk tertawa.
Mau tak mau siang ini cari es cendol yang ada nangkanya. Sedap… (*)
#camanewak
Foto Ai hanya ilustrasi