Enni Arief Van Moorsel – Pipiet Senja
HATIPENA.COM – Memasuki semester kedua, kakakku datang seorang diri dengan penampilannya yang sangat berbeda, sehingga membuatku tercengang-cengang. Aku masih ingat, dia menenteng mesin ketik dan menyandang ransel. Yup, dialah kakakku sulung.
Sosok berukuran sedang dengan perut yang masihlah kentara membuncit, meskipun kutahu dia selalu berusaha keras menyamarkan, menyembunyikannya dari tatapan orang sekitarnya.
Ketika aku meninggalkan Cimahi, kakakku sedang bergulat melawan penyakit menahunnya. Dia terkena komplikasi akibat sering ditransfusi, menurut dokter, terkena hepatitis, malaria, tiphus dan asma. Penyakit yang seabrek-abrek itu nyaris membawa kakakku pulang selamanya. Tiga pekan ia terbaring tak berdaya di ruang isolasi, dokter menyatakannya in-coma.
Camat, bisikku, calon mayat.
Ayah kami memutuskannya membawa pulang ke rumah, seluruh anggota keluarga besar kami mengaji dan mendoakannya. Keajaiban kemudian terjadi atas diri kakakku ini. Ya, di situlah, saat itulah, kakakku bergerak, menemukan kesadarannya kembali.
Namun saat ini, lihatlah, camat itu; menyandang ransel loreng (milik Bapak!) dan menenteng mesin ketik. Kurasa benda ini selalu dibawanya ke mana pun kakinya melangkah. Wajahnya berseri-seri ketika melihat keberadaanku di stasiun Tugu pada petang yang cerah itu. Dia tampak sehat dan segar, mungkin belum lama ditransfusi, sehingga ayah kami mengizinkannya bepergian seorang diri. Kurasa ini perjalanan terjauh pertama kalinya untuk kakakku.
“Bagaimana, Teh? Perjalanannya menyenangkan?” sapaku sambil memeluk tubuhnya yang berbalut kemeja kotak-kotak, celana jeans belel dan sepatu bata model sport.
Penampilan itulah yang kumaksud lain dari gaya kakakku sebelumnya. Terakhir kali kami bertemu, kuingat dia meributkan blus kesayangannya yang dirusak oleh salah seorang adik kami.
“Yah… tadi ada seorang cowok… kacooow!” gerutunya dengan mimik kebingungan dan sebal. Kepalanya ditelengkan ke arah gerbong kereta, seakan-akan ingin meyakinkan dirinya bahwa cowok yang kacau itu tidak mengikutinya.
Aku menepuk bahunya sambil tertawa kecil. Kutahu kakakku sudah punya teman dekat, kabarnya sesama seniman muda. Kutahu pula karya-karya kakakku mulai menyemarakkan khazanah kesusastraan Indonesia. Puisi dan cerpennya sering menghiasi koran-koran lokal, bahkan kini mulai merambah Ibukota. Dia datang membawa seratus ribu honor novelnya yang pertama.
“Ini ada titipan surat dari Bapak. Dan ini kusumbang buat kuliahmu,” cetusnya saat menyerahkan dua amplop di atas becak yang kami tumpangi.
“Mmm… aku gak percaya!” cetusku menggodanya sesaat kucermati isi surat dari Bapak. Intinya, Bapak menceritakan tentang asal-muasal uang yang dikirimkannya kali ini. “Sungguh ini dari honor novel pertamamu? Apa judulnya dan kapan terbitnya?”
“Judulnya Biru Yang Biru, kata penerbitnya sih nanti awal tahun depan…”
“Hebat! Thank’s, ya,” kataku jadi terharu.
Gaji ayah kami sebagai perwira menengah, enampuluh ribuan, kutahu itu karena pernah menerima struknya yang dibutuhkan untuk mencari bea-siswa dari Veteran. Ini berarti, kakakku bisa mengandalkan honor kepenulisan untuk kebutuhan dirinya. Yup, bahkan dia sudah bertekad untuk membantu adik-adiknya, termasuk diriku.
“Kamu harus percaya! Karena aku juga sudah percaya diri sekarang.”
Kulihat wajahnya diliputi optimisme, duh, aku sukacita melihatnya!
Aku masih menggodanya beberapa saat. Ingin kutahu sejauh mana keyakinan dalam meniti kariernya sebagai seorang pengarang. Bagiku, pengarang, penulis, sastrawan atau apalah sebutannya itu sama saja, identik dengan seniman. Sosok mereka sering kutemui di sekitarku, di kota pusatnya kebudayaan ini. Beberapa dari mereka pernah berusaha mendekatiku, dan aku langsung menepis kedekatan dengan mereka.
Miskin, kumuh, pemimpi ulung, perokok berat dan peminum!
“Aku akan membuktikannya kepadamu suatu hari nanti. Bahwa seniman itu tidak begitu semuanya, ya, tidak semuanya,” ujar kakakku kalem sekali.
Kedewasaan telah menyingkirkan segala kepolosan dan keringkihannya, demikian aku berpikir. Dia sungguh menikmati keberduaan kami dalam beberapa hari itu. Kami jalan bareng ke mana-mana, karena kebetulan aku liburan semester. Dia membiarkan diriku membelanjakan sebagian uang untuk baju baru, sepatu, tas dan kosmetik. Dia mengatakan bahwa di tangannya masih ada sejumlah uang, honor cerpen dari majalah Kartini.
“Aku sudah baca profilmu di majalah Kartini. Itu yang ditulis Mbak Titie Said, ya? Bagaimana orangnya, baikkah?” selidikku ingin tahu.
“Ooo… baik sekali!”
Kemudian dia semangat sekali mengisahkan pertemanannya dengan sastrawati senior yang lagi naik daun itu. Novel-novelnya banyak yang diangkat ke layar lebar, disutradarai oleh Syumanjaya. Antara lain Jangan Ambil Nyawaku dan Selamat Tinggal Jeannete. Aku suka yang terakhir, khas dan unik, menggambarkan nuansa keratonan Yogya yang sesungguhnya sudah ketinggalan zaman, di beberapa tempat malah tampak lumutan.
Ops, kisah itu mengingatkanku kepada Mas Prince. Di mana dia sekarang, ya? Terakhir dia mengatakan hendak ke Malaysia, mengurus bisnisnya. Entahlah, aku sedang tak ingin memikirkan dirinya sejak terakhir kami bertengkar. Kecemburuannya yang membuta sungguh membuatku tak tahan.
“Jadi, sekarang siapa cowokmu?” selidiknya penasaran. “Masih si Har, bukan?”
Aku mengikik dan berusaha mengelak. Eee, kurasa kakakku masih menganggapku berpacaran dengan anak muda aktivis kampus itu. Tidak, Har sudah lulus dan sedang melanjutkan pendidikannya di Australia. Jarak dan perbedaan cara pandang, kurasa telah memisahkan kami. Aku tak pernah berharap lagi untuk menjadi istrinya.
“Jadi, ceritanya kamu punya banyak cowok di sini, hem?” dengusnya ketika menyambutku yang baru pulang pukul sepuluh malam.
“Yaaah… ingin kulupakan semua kemiskinan kita, Teteh. Biarkan aku menikmatinya, meskipun hanya sekejap,” kesahku sambil sibuk membersihkan rias wajahku.
“Hati-hatilah, Dek…”
Beberapa saat dia masih memperhatikanku dalam diam, kemudian melanjutkan kesibukannya menulis. Bunyi mesin ketik yang pernah kubeli dari pasar loak Manggarai itu terdengar; bletak-bletuk… terektek, terektek, jegheeer!
“Besok aku mau pulang…”
“Loh, baru juga tiga hari? Kita belum ke pantai Tritis…”
“Gaklah, aku sudah cukup lihat Borobudur, Prambanan, gunung Tidar dan Sendang Sono… Mm, itu tempat favoritmu, ya!” tukasnya terdengar dingin seraya berlagak mencermati hasil tulisannya. Dia lagi menyiapkan novelnya yang kedua.
“Aku gak tahu apa maksud omonganmu,” usai sudah ritual pembersihan rias wajah, tanganku menyambar handuk. “Nanti kita lanjutkan, ya, aku mau mandi dulu!”
“Heeei… jangan pergi dulu, tungguuu!”
Namun, aku sudah tak menghiraukan rengekannya, ya, kuanggap kakakku mulai mengajuk hatiku dan kumat penyakit sok detektifnya. Kulihat sekilas pandangannya menancap ke patung Bunda Maria yang bertengger dengan megahnya di atas meja belajarku.
Aku tahu, kakakku merasa terganggu dengan keberadaan patung yang kubeli di Sendang Sono itu. Kutahu pasti, kakakku sudah menemukan buku harianku. Aku sudah tidak heran lagi, memang begitulah karakter kakakku sulung ini.
Saat kembali ke kamar ternyata dia sudah tidur di samping mesin ketik yang diberinya nama si Denok. Aku geleng-geleng kepala, bagaimana dia bisa tidur di antara kertas berserakan begini? Perlahan-lahan kupindahkan si Denok, dan hasil ketikannya sepanjang kutinggalkan petang hingga malam itu. Melihat wajahnya yang damai, alunan napasnya yang lembut, hatiku mendadak trenyuh sekali.
Biar bagaimanapun dia tengah berjuang keras mencari nafkah dengan caranya sendiri. Menulis, itulah yang dia mampu lakukan, sebagaimana sering diucapkannya. Dia telah datang jauh-jauh ke kosan ini, semata untuk mengantarkan uang kuliahku yang kutahu tak mampu lagi diberikan oleh ayah kami. Demi Tuhan, saat itu aku belum menyadari seutuhnya masalah keuangan yang harus kami hadapi di hari-hari mendatang.
“Ya sudahlah, aku tidur di bawah saja,” gumamku memutuskan tidak mengusiknya. (*)
#TuhanJanganTinggalkanAku