HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

CEO Sufistik

November 20, 2025 06:25
IMG_20251120_062328

Oleh ReO Fiksiwan | Sastrawan

Ia meninggalkan hawa nafsu, amarah dan keinginan daging, dan menunjukkan dirinya sebagai seorang yang termasuk keturunan para nabi.“ — Jalaluddin Rumi (1207-1373), Masnavi-i Ma’navi (Diva Press 2022).

HATIPENA.COM – Dalam dunia modern yang dipicu kecanggihan teknologi digital, para eksekutif dan legislator sering dipandang sebagai puncak pencapaian karir manusia.

Mereka yang berhasil menapaki tangga kekuasaan, seperti yang digambarkan Malcolm Gladwell (62) dalam Outliers: The Story of Success (2008),, tampak sebagai hasil dari kombinasi bakat, kerja keras, dan momentum sejarah.

Pendek ia katakan: “Berlatih bukanlah hal yang kamu lakukan setelah kamu mahir. Melainkan hal yang kamu lakukanlah yang membuatmu mahir.”

Namun, di balik keberhasilan itu, jarang sekali kita menemukan figur CEO yang benar-benar mencerminkan wajah sufistik: kepemimpinan yang penuh welas asih, rendah hati, dan berorientasi pada makna hidup, bukan sekadar angka dan prestasi.

CEO sufistik adalah refleksi dari kepemimpinan yang tidak hanya menguasai pasar, melainkan juga menguasai diri, sebagaimana diajarkan dalam filsafat klasik maupun modern.

Plato pernah menulis bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menundukkan nafsu (Yunani: λαγνεία = lagneia) dan mengarahkan jiwa menuju kebaikan(arethe).

Aristoteles menekankan phronesis, kebijaksanaan praktis yang membuat seorang pemimpin tidak hanya cerdas, tetapi juga bijak dalam mengambil keputusan.

Dalam tradisi Timur, kepemimpinan sufistik berakar pada kesadaran bahwa dunia hanyalah persinggahan, dan kekuasaan adalah amanah yang harus dijalankan dengan kasih.

Seorang CEO sufistik tidak terjebak dalam ilusi keabadian korporasi, melainkan sadar bahwa setiap keputusan adalah bagian dari tanggung jawab moral yang lebih besar.

Kisah ini pernah dialami Paul Leidecker (56), eksekutif McDonald’s Eropa yang memilih mundur dari karier cemerlangnya demi pencarian makna hidup yang lebih dalam.

Kisah Leidecker menjadi penting karena ia menunjukkan bahwa bahkan di puncak karier, manusia tetap mencari makna yang lebih tinggi.

Untuk itu, Danah Zohar (81) dan Ian Marshall (75), menggunakan kisah Leidecker sebagai ilustrasi awal bahwa kepemimpinan modern sering kehilangan dimensi spiritual dalam Spiritual Capital: Wealth We Can Live By (2004).

CEO sebagai model kepemimpinan modern, seperti yang dibicarakan oleh Peter Drucker (95) maupun Simon Sinek (52), menekankan pentingnya purpose dan servant leadership yang dirujuk, antara lain: Start With Why: How Great Leaders Inspire Everyone to Take Action (2009).

Namun, CEO sufistik melangkah lebih jauh: ia tidak hanya melayani organisasi atau masyarakat, tetapi juga melayani jiwa manusia, termasuk dirinya sendiri.

Ia sadar bahwa keberhasilan sejati bukanlah sekadar pertumbuhan ekonomi atau ekspansi politik, melainkan pertumbuhan spiritual yang membuat manusia lebih manusiawi.

Dalam konteks ini, CEO sufistik adalah figur yang mampu menggabungkan rasionalitas modern dengan kebijaksanaan klasik, menjadikan kepemimpinan sebagai jalan menuju pencerahan.

Refleksi ini penting karena dunia kini dipenuhi oleh pemimpin yang sukses secara material, tetapi sering kali kehilangan dimensi compassion.

Mereka tampak kuat, klimis dan kencana, tetapi rapuh dalam empati. Mereka mampu menguasai pasar, tetapi gagal menguasai hati.

CEO sufistik hadir sebagai antitesis dari model kepemimpinan yang dingin,,mekanistik dan serakah.

Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati adalah seni menyeimbangkan antara kekuasaan dan kasih, antara strategi dan spiritualitas.

Seperti para sufi yang mengajarkan “matilah sebelum mati,” CEO sufistik belajar untuk mematikan ego sebelum memimpin orang lain.

Dengan begitu, kepemimpinan tidak lagi sekadar alat mencapai puncak, melainkan jalan menuju makna yang lebih dalam: menjadikan hidup dan mati sebagai satu kesatuan yang penuh arti.

Dengan mengacu pada Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World (2019), David Epstein (45) mengingatkan: “Pekerjaan modern menuntut transfer pengetahuan: kemampuan untuk menerapkan pengetahuan pada situasi baru dan domain yang berbeda.“

Dalam hal ini, Epstein, jurnalis sains asal Amerika yang sebelumnya menulis The Sports Gene (2013), menentang pandangan bahwa kesuksesan hanya bisa dicapai melalui spesialisasi sempit sejak dini.

Sebaliknya, ia berargumen bahwa generalists—orang dengan pengalaman lintas bidang—lebih unggul dalam menghadapi masalah kompleks dunia modern..

Perspektif sufistik mengajarkan bahwa “range” hanyalah alat, bukan tujuan, sehingga seorang CEO sejati harus menundukkan kedudukan pada nilai kerendahan hati dan pelayanan.

Abdul Kadir Riyadi (50), dosen dan peneliti di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, dalam Antropologi Tasawuf (2014) menekankan bahwa tasawuf adalah kerangka antropologis untuk memahami manusia sebagai makhluk spiritual.

Seorang CEO sufistik, dengan demikian, tidak melihat manusia semata sebagai “resources” tetapi sebagai jiwa yang membutuhkan makna.

Lain halnya, Herbert Benson (1935-2022), dokter, ahli jantung, dan profesor di Harvard Medical School, dalam Timeless Healing: The Power and Biology of Belief (1996/1998) menunjukkan bahwa keyakinan dan spiritualitas memiliki kekuatan biologis untuk menyembuhkan.

Konsep “remembered wellness” menegaskan bahwa iman dan ketenangan adalah reservoir kesehatan.

Dalam kepemimpinan, hal ini berarti seorang CEO yang menghadirkan keyakinan dan ketenangan akan menumbuhkan organisasi yang sehat dan berdaya tahan.

Demikian pula, Daniel Goleman (79) bersama Richard Boyatzis (79) dan Annie McKee (76) dalam Primal Leadership: Unleashing the Power of Emotional Intelligence (2003) menegaskan bahwa kepemimpinan efektif berakar pada kecerdasan emosional.

Emosi pemimpin menular ke seluruh organisasi, sehingga CEO sufistik adalah figur yang sadar diri, penuh empati, dan mampu menyalurkan energi positif.

Dengan menggabungkan refleksi klasik dari Plato dan Aristoteles, tradisi sufistik Timur, serta rujukan modern dari Riyadi, Benson, Epstein dan Goleman, kita melihat bahwa CEO sufistik adalah pemimpin yang melampaui sekadar angka dan prestasi.

Ia menjadikan kepemimpinan sebagai jalan spiritual, menyeimbangkan antara hierarki dan kerendahan hati, antara iman dan kesehatan, antara emosi dan kebijaksanaan.

Fenomena pengunduran diri CEO semakin sering terjadi dalam lima tahun terakhir. Menurut laporan Challenger, Gray & Christmas, Inc., tahun 2024 mencatat rekor dengan 1.991 CEO mengumumkan pengunduran diri, jumlah tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2002. Berikut catatannya:

1/ David Calhoun (Boeing) → Mengundurkan diri Maret 2024 setelah 4 tahun menjabat, digantikan oleh Kelly Ortberg;

2/ John Donahoe (Nike) → Mundur 2024 setelah memimpin sejak 2020, sebagai bagian dari restrukturisasi besar;

3/Barry McCarthy (Peloton) → Mundur 2024 setelah berusaha menyelamatkan perusahaan dari krisis pasca-pandemi;

4/ Sima Sistani (WeightWatchers) → Mundur 2024 di tengah transformasi digital perusahaan;

5/ Pat Gelsinger (Intel) → Mundur 2024 setelah periode penuh tantangan di industri semikonduktor.

6/ Linda Yaccarino (X/Twitter) → Mundur awal 2025 setelah kurang dari dua tahun menjabat.

CEO sufistik adalah figur yang mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya tentang menguasai pasar, melainkan tentang menguasai diri, melayani jiwa, dan menyiapkan manusia untuk hidup dengan penuh arti, bahkan hingga kematian menjemput. (*)

Latar: ReO Bibliothek Kokima Hill & Lagu: First of May(Bee Gess).