HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Cerita Makan Siang di Café “Waroeng Diggers”

November 26, 2025 07:00
IMG-20251125-WA0083

Catatan Satire Rizal Pandiya | Kolumnis
Sekretaris Perkumpulan Penulis Satupena Indonesia Lampung

HATIPENA.COM – Cuaca di Bandar Lampung kemarin sepertinya meleset dari ramalan yang sering tayang di TV. Panasnya sampai ke ubun-ubun. Rasanya, bisa mengeringkan rambut tanpa hairdryer. Saking panasnya, saya jadi curiga jangan-jangan setiap warga punya matahari masing-masing, lalu dimasukkan ke saku bajunya, kemudian dibawa ke mana pergi seperti handphone.

Tenggorokan pun mengering hingga tak setetespun air liur yang bisa ditelan. Kering kerontang, bergetar seperti meminta minuman dingin. Di saat genting seperti itu lalu ingat pesan dokter: “Dilarang minum dingin di saat cuaca panas.” Tapi apa daya, iman pun goyah, dan saya pun ikut goyah… langsung menuju café.

Niatnya sih biar kelihatan gaul—sekali-sekali nongkrong ala anak muda yang kalau ngobrol isinya cuma ngalor ngidul nggak jelas. Pilihan pun jatuh pada Waroeng Diggers. Dari ejaannya, nama “Waroeng”, banyak orang mengira kalau cafe ini berdiri sejak zaman gerilyawan memanggul meriam di hutan sambil nenteng bambu runcing.

Café-nya menempel persis di sebuah tebing yang curam, menghadap Teluk Lampung. Dulu, lokasi ini jadi tempat anak muda menghabiskan malam panjang, yang seolah-olah berkata: “Makanannya terserah, yang penting pemandangannya.”

Siang itu anginnya berhembus sepoi-sepoi, tapi sepoi yang membuat rambut menjadi nambah lepek. Memang kalau diselfie bisa tambah estetik sih. Dan ketika sedang menikmati momen itu, tiba-tiba muncullah beberapa anak muda berpakaian lusuh. Dikira mau minta sumbangan untuk ulang tahun RT atau ngamen yang mau nyanyi tembang kenangan. Asik juga sih kalau denger lagu meski sedang kegerahan. Ternyata mereka pelayan cafe. Serius. Pelayan tanpa identitas apa pun yang membuat orang jadi salah sangka. Tampilannya, seperti baru selesai ronda.

Menu pun disodorkan. Buku menunya kumuh, lusuh, dan berdebu, seperti abis dijemur karena kesiram air kopi, lalu jatuh ke pasir. Tapi begitu melihat harga makanan dan minumannya… hmmm…tak apalah, namanya juga café.

Di dalam menu ada ayam bakar, makanan favorit masyarakat urban. Meski terlihat kumal, tapi buku menu itu menyajikan gambar makanan dari berbagai angle, lengkap dengan propertinya. Indah dan menarik. Nggak salah milih makan siang di Waroeng Diggers. Karena sedang dilanda lapar dan haus, situasi ini kadang bisa merusak logika. Maka cepat-cepat saya pesan ayam bakar dan minuman segar lemon tea. Dan di sinilah cerita tragedi makan siang dimulai.

Apa yang terjadi? Yang katanya ayam bakar itu, yang terasa ternyata cuma kecapnya. Tak jelas kecap merek apa. Memang di mana-mana yang namanya kecap pasti nomor satu. Tapi sepertinya tidak ada jejak lada, bawang putih, jahe, atau teman-temannya. Kemana mereka? Saya yakin rempah-rempah yang lain pun pasti tersinggung, karena tak diundang masuk dapur racikan.

Ayamnya sangat mulus. Malah terlalu mulus. Boleh jadi karena tidak tersentuh bumbu dapur dan jilatan bara api. Tidak diajak ngobrol bawang merah apalagi disapa merica. Sepertinya, ayam itu datang ke panggung kuliner nggak masuk daftar absensi terlebih dahulu.

Tak lama kemudian datanglah lemon tea, minuman kesukaan banyak orang. Inilah tersangka yang menjadi bintang utama kekecewaan.

Aroma lemonnya betul. Tapi sepertinya ini lemon yang sedang praktik magang di sebuah pabrik sabun deterjen pakaian. Rasanya? Hmmm…hanya Tuhan dan dua malaikat gusti yang tahu, karena lidah makhluk hidup lainnya masih mereka-reka, “Ini lemon apa minyak angin cap lang.” Suwer, nggak ngada-ngada. Rasanya seperti air bekas bilasan cucian gelas berisi minyak angin. Seperti ada sensasi “nyess” di pangkal tenggorokan. Tapi sayangnya, nyess yang ini salah tempat, seperti kipas angin rusak yang diarahkan ke orang yang sedang patah hati.

Barangkali yang meracik minuman lupa icip-icip dulu, atau mungkin dia sedang melakukan eksperimen rasa yang terinspirasi dari mimpi buruk semalam. Bisa juga kokinya lagi pilek sampai lidahnya pensiun dini—nggak bisa ngerasain apa-apa, tapi tetap yakin kayak juri MasterChef gadungan. Alhasil, minuman itu rasanya begitu misterius.

Tegukan pertama berhasil lolos masuk tenggorokan. Tapi saya kok merasa seperti ada kesalahan fatal dalam hidup ini. Diawali dengan mual. Mau muntah tapi ditahan, karena saya mentraktir teman-teman. Sialnya, mereka pun mengalami hal yang sama. Mereka juga ikut tersiksa, tapi sepertinya malu untuk protes.

Sebagai orang yang dibesarkan dalam keluarga kuliner, lidah saya ini sudah lulus S-3 bidang rempah-merempah di dapur restoran milik keluarga. Jangan kata cuma merica, lengkuas lewat saja saya bisa menebak usianya. Tapi makanan di café ini, benar-benar menguji lidah saya, yang hobi kuliner. Sepertinya saya harus pensiun dini dari dunia perkulineran.

Ternyata memang benar, lidah saya dan lidah teman-teman lainnya bersepakat bahwa café ini tidak menjual rasa. Café ini sepertinya hanya menjual view untuk mereka yang sedang dilanda kasmaran. Memang ada benarnya sih, kalau sedang cinta-cintaan makanan apa pun yang disuguhkan tetap enak. Kali ini pemandangan Teluk Lampung telah menyelamatkan suasana, tapi sayangnya tidak menyelamatkan perut yang sedang luka batin.

Sekarang saya baru paham kenapa pengunjung café ini kian hari kian sepi? Memang persaingan bisnis itu kejam. Maka, sudah bukan zamannya lagi mengelabui pengunjung dengan panorama yang indah tapi menafikan rasa yang ditawarkan. Gambar menu tak selezat rasanya! Indah dipandang tapi tercekat di tenggorokan.

Usai menumpahkan protes ke kasir, saya pun keluar dari café itu dengan dua masalah. Pertama perut saya tetap lapar. Kedua, tenggorokan saya tetap menanti lemon tea yang sesungguhnya. Waroeng Diggers… sampai kapan mau seperti ini…? Masak harus kembali jualan burger lagi!

Ayo berbenah sebelum para pelanggan pada kabur semua. (*)