HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Dekonstruksi Buku Tuhan dan Senjakala Kebudayaan Karya Reiner Emyot Ointoe

December 3, 2025 11:39
IMG-20251203-WA0039

Oleh Narudin Pituin | Sastrawan, Penerjemah, Kritikus Sastra

HATIPENA. COM – Membaca buku karya Reiner Emyot Ointoe yang berjudul Tuhan dan Senjakala Kebudayaan(2025) menarik sebab tidak hanya mengandung 67 risalah kritik ontologi-epistemologi secara filosofis, tetapi juga isi bukunya yang luas. Ini sebuah tanda bahwa Reiner ialah seorang pembaca yang rakus.

Tulisan ini akan menggunakan teori Semiotika yang saya kembangkan dalam buku teori sastra saya yang berjudul Sintesemiotik: Teori dan Praktik (2023) perihal ikhtiar lain dari teori Dekonstruksi Jacques Derrida tentang “kontradiksi”. Derrida tak membedakan mana teks kontradiksi mana teks paradoks.

Dalam Semiotika saya, kontradiksi dibedakan dari paradoks. Kontradiksi memang bertentangan, tetapi paradoks seakan-akan bertentangan, padahal tidak.

Kita akan melihat sekian kontradiksi dalam buku ini secara dominan—meminjam istilah dari Semiotikus Roman Jakobson the dominant untuk batasan kajian.

Kontradiksi pertama, kritik dalam buku ini hanya menggunakan dua sisi saja, yakni ontologi dan epistemologi. Padahal, dalam ilmu Filsafat, ada satu sisi lagi, yakni aksiologi—yang justru mempertanyakan sisi ontologi dan epistemologinya secara etis.

Trikotomi dalam filsafat ini tak dapat dipisahkan sesungguhnya. Setelah berbicara tentang apa atau siapa (ontologi), dilanjutkan dengan berbincang soal bagaimana (epistemologi), dan terakhir berujar ihwal mengapa (aksiologi).

Kontradiksi kedua, dengan menggabungkan kritik klasik dari Sokrates, Plato, dan Aristoteles, serta refleksi mutakhir dari Heidegger dan Popper, buku ini menegaskan bahwa rasionalitas Tuhan bukanlah soal membuktikan atau menyangkal keberadaan-Nya, melainkan soal bagaimana manusia memahami, menghayati, dan merumuskan ulang relasi dengan yang transenden.

Jika dikatakan buku ini bukan soal membuktikan keberadaan Tuhan, tetapi soal merumuskan ulang relasi dengan yang transenden, maka frasa “dengan yang transenden” itu pun justru suatu isyarat “keberadaan Tuhan”.

Kontradiksi ketiga, selanjutnya dikatakan bahwa dalam dunia yang semakin digerakkan oleh algoritma dan teknologi, pertanyaan tentang Tuhan tetap menjadi pusat dari pencarian makna, bukan sebagai jawaban final, tetapi sebagai horizon yang terus mengundang pemikiran.

Jika ingin mencari makna dan tak mendapat jawaban final, yang ingin terus- menerus mengundang pemikiran, berarti buku ini tak memberikan argumen dan solusi tentang ketuhanan yang memuaskan—sekadar berbagi kerumitan pemikiran ihwal Tuhan.

Kontradiksi keempat, dilanjutkan dalam buku ini, Edward Said dalam Culture and Imperialism (1994) telah menunjukkan bahwa kebudayaan bukanlah ruang netral, melainkan medan ideologis yang menyaru sebagai estetika.

Dalam dunia poskolonial, Tuhan sering kali direduksi menjadi simbol retoris yang menopang struktur kekuasaan baik dalam politik, ekonomi, maupun dalam spiritualitas yang telah dikomodifikasi.

Maka, membaca senjakala kebudayaan berarti juga membaca senjakala Tuhan yang telah kehilangan daya gugahnya sebagai pusat makna.

Jika Tuhan sudah dilekatkan dengan istilah-istilah untuk manusia atau alam, menjadi realitas imanen, maka kata-kata tak tepat bagi Tuhan akan muncul seperti “Tuhan telah kehilangan daya gugahnya sebagai pusat makna”.

Senjakala kebudayaan ialah manipulasi politik, tidak lantas menilai Tuhan sebagai telah senja, kehilangan daya tariknya sebagai inti makna. Kompetensi dan kapasitas subjek dari senjakala kebudayaannya yang buruk; Tuhan tetap Mahaperkasa.

Kontradiksi kelima, dalam Epilog buku ini dikatakan bukan sekadar penutup, melainkan undangan untuk berpikir ulang tentang apa itu kebudayaan, siapa Tuhan dalam kebudayaan, dan bagaimana kita memahami dunia yang terus berubah.

Dalam senjakala rasionalitas, spiritualitas bukanlah pelarian, tetapi kemungkinan yang sah untuk memahami eksistensi secara utuh. Tuhan, dalam konteks ini, bukanlah jawaban yang selesai, tetapi pertanyaan yang terus hidup.

Selalu saja disebutkan bahwa Tuhan bukanlah jawaban yang selesai, tetapi pertanyaan yang terus hidup.

Jika demikian, buku ini bukan solusi tentang tema ketuhanan atau Tuhan, tetapi buku ini sekadar mengumpulkan ucapan-ucapan para penulis tentang ketuhanan dari pemikir klasik hingga pemikir mutakhir—ditambah dengan argumen-argumen Reiner yang remang-remang.

Jika Reiner mengikuti ajaran Postrukturalisme, Michel Foucault, maka pemikiran- pemikiran Reiner tampak sebagai “decentered”, terlepas dari titik pusat tentang pokok ketuhanan yang hakiki atau absolut, memberi ruang-ruang teologis yang relatif lagi.

Sebagai yang ingin disebut kritikus filsafat, Reiner tak mengambil sikap terhadap pelbagai pemikiran secara ontologis dan epistemologis—malah terbawa arus pemikiran mereka—yang patut dipertanyakan lagi secara aksiologis.(*)

Referensi

Narudin. 2023. Sintesemiotik: Teori dan Praktik. Batam: MirNov.

Ointoe, Reiner Emyot. 2025. Tuhan dan Senjakala Kebudayaan: 67 Risalah Kritik Ontologi-
Epistemologi. Manado: Yayasan Serat Manado.

*Penyair dan Kritikus Sastra tinggal di Bandung.

coverlagu: Lagu “Imagine” karya John Lennon(1940-1980) yang dirilis tahun 1971 dan menjadi salah satu karya paling ikoniknya, dengan makna menyerukan perdamaian, persatuan, dan dunia tanpa batas atau perpecahan.

Selebihnya, melodi lembut dan lirik lagunya pendengar membayangkan dunia tanpa negara, agama, atau harta yang justru memisahkan manusia dan menumbuhkan konflik dan kekerasan antar ras manusia.

Juga, menjadi anthem perdamaian di era penuh konflik pasca perang Vietnam kala itu.