Oleh Christian Heru Cahyo Saputro | Penulis
HATIPENA.COM – Ada pelukis yang mengejar bentuk. Ada pelukis yang mengejar cahaya.
Namun Sri Paminto—yang dikenal para sahabat dan dunia seni sebagai Paminto Krisna—mengejar sesuatu yang lebih jauh dari itu:
kesunyian.
Kesunyian yang tinggal di antara dua garis bayangan,
di sela pori-pori kanvas yang menyerap waktu,
di dalam tatapan manusia yang tak pernah benar-benar selesai dibaca.
Ia lahir dari tanah Jawa yang memelihara ritme pelan:
pagi yang membuka dirinya tanpa tergesa,
jalan kampung yang membiarkan langkah menjadi renungan,
dan benda-benda kecil yang diam namun penuh cerita.
Dari situlah matanya ditempa—bukan untuk melihat,
tetapi untuk mengamati.
Sejak kanak-kanak ia tahu bahwa setiap benda memiliki usia,
dan setiap usia memiliki rahasia.
Bahwa cahaya tidak jatuh sembarangan.
Bahwa bayangan membawa kisah yang disembunyikan.
Di ruang-ruang sepi, dalam perjalanan panjang yang sering tak disaksikan siapa-siapa,
Paminto belajar bahwa realisme bukanlah peniruan,
melainkan cara manusia berdamai dengan kenyataan.
Guru-guru yang Tak Pernah Bernama
Di Semarang—kota tua yang dikelilingi tembok sejarah dan jejak pelabuhan—
Paminto menemukan rumah:
komunitas pelukis realis, ruang diskusi yang menghidupkan malam,
dan para guru yang mengajarkan bahwa ketelitian adalah bentuk doa.
Ia tumbuh dari tradisi “dua generasi”,
sebuah lingkaran perupa yang diwarisi teknik,
tetapi mendorong murid-muridnya menemukan suara sendiri.
Maka lahirlah gayanya:
jernih tetapi hangat,
teknis tetapi tidak kering,
tajam namun penuh empati.
Dalam potretnya, kerutan bukan hanya tanda waktu;
ia adalah peta hidup.
Dalam benda-benda mati, gelas, kursi, kain,
cahaya justru menjadi bahasa yang paling hidup.
Pameran adalah Jejak, Tetapi Bukan Tujuan
Pameran-pameran yang ia ikuti sesungguhnya hanyalah catatan kecil
dari perjalanan sunyi yang lebih panjang:
2021 — “Duo Realis”
Di Creative Hub Kota Lama, Semarang.
Dua perupa, dua dunia, satu kesetiaan pada pengamatan.
Lima belas karyanya dipamerkan,
menandai bahwa setelah masa pandemi yang berat,
ia memilih tetap setia pada garis-garis yang sabar.
2023 — “Kolaborasi Pelukis Dua Generasi & Arimbi”
Di gedung Monod Deiphuis.
Sebuah pertemuan antara para guru dan para murid,
antara warisan dan pencarian.
Di sinilah Paminto menempati posisinya:
sebagai mata rantai yang melanjutkan tradisi,
tetapi juga membuka jalur baru.
Jejak pamerannya mungkin belum panjang di mata para kurator kota besar,
tetapi di dunia yang sesungguhnya,
Paminto telah menempuh perjalanan yang tidak selalu tercatat:
perjalanan batin, perjalanan rasa,
perjalanan melatih mata agar jujur pada apa yang ia lihat.
Di dalam Kesunyian, Sebuah Cahaya Bernafas
Paminto adalah pelukis yang tidak tergesa.
Ia mengerti bahwa cahaya butuh waktu untuk tiba pada bentuk terbaiknya.
Ia mengerti bahwa kanvas adalah ruang yang harus didekati dengan hormat.
Bagi sebagian orang, realisme adalah disiplin teknis.
Bagi Paminto, realisme adalah meditasi.
Ia menunggu momen ketika objek berbicara,
ketika suasana berhenti berlari,
ketika tangan dan hati menemukan titik temu.
Melukis baginya adalah cara memahami hidup:
bahwa manusia penuh kerumitan,
bahwa benda-benda sederhana menyimpan arsip kerinduan,
bahwa keheningan sering lebih jujur daripada keramaian.
Yang Abadi Adalah Ketulusan
Di tengah arus seni kontemporer yang gaduh,
Paminto tidak berteriak.
Namun di ruang hening itulah suaranya justru terdengar jelas.
Ia adalah pelukis yang percaya bahwa kesetiaan pada proses
jauh lebih penting daripada kecepatan.
Bahwa kejujuran pada cahaya lebih sakral daripada gaya.
Bahwa realisme masih punya tempat di masa kini—
bukan sebagai nostalgia,
tetapi sebagai ruang untuk kembali menjadi manusia.
Setiap karyanya seperti berkata pelan:
“Lihatlah lebih dekat.
Dunia tidak secepat yang kau kira.”
Paminto Krisna: Nama yang Pelan, Namun Tetap Menyala
Kini, ketika karya-karyanya menghuni pameran, studio, dan rumah para pecinta seni,
satu hal menjadi jelas:
Sri Paminto bukan hanya pelukis.
Ia adalah penjaga cahaya.
Penjaga kesunyian.
Penjaga detail-detail kecil kehidupan
yang sering luput dari mata orang pada umumnya.
Ia menempatkan dirinya bukan di antara sorotan,
melainkan di ruang yang lembut dan rendah hati—
ruang di mana lukisan dapat berbicara tanpa gangguan.
Dan dari ruang itulah,
Paminto Krisna menyalakan keabadian. (*)