Rosadi Jamani | Penulis
Ketua Satupena Kalbar
HATIPENA.COM – Istilah anak Pontianak, “Anak mude ngalah dolok (jagoan ngalah dulu)” Ya, jagoan kita, Timnas U-22 dihajar sampai 3-0 oleh Mali. Walau kalah, tetap senyum. Simak narasinya sambil seruput Koptagul di saat Pontianak hujan, wak!
Di bawah langit Pakansari yang gelap namun penuh getaran tenaga dalam, Sabtu malam 15 November 2025, para pendekar muda Garuda U-22 turun ke gelanggang hijau. Mereka bukan sekadar pemain bola. Mereka murid-murid perguruan Indra Sjafri, sang Guru Besar Formasi 4-3-3 yang konon mampu memindahkan angin hanya dengan satu gestur tangan, meski kali ini anginnya tampak lebih memilih bertiup ke arah Mali.
Begitu peluit ditiup pada pukul 20.00 WIB, Mali langsung memperlihatkan jurus “Tendangan Debu Gurun”. Dalam lima menit, Sekou Doucoure, yang tampaknya punya kecepatan sekelas siluman padang sahara, menyusup di antara Frengky Missa dan Kakang Rudianto. Bola melesat ke gawang Cahya Supriadi seperti panah emas. Skor 0-1. Para penonton menghela napas panjang, sebagian lagi berusaha meyakinkan diri, “Ini baru pemanasan, ini cuma uji coba, ini cuma mind full of simulation.”
Namun Mali tidak berhenti. Mereka kembali datang membawa jurus “Geledek Sahravia” di menit 33 lewat Wilson Samake. Lini belakang Garuda, yang oleh netizen dijuluki “tembok keropos edisi promo” tak sempat menutup ruang. Samake melepaskan tembakan yang membuat Cahya terpaksa merapal doa pendek. Bola tetap masuk. 0-2. Di tribun, seorang suporter terlihat memejamkan mata sambil berbisik, “SEA Games belum mulai, SEA Sakit sudah terasa.”
Meski demikian, para pendekar muda kita tidak menyerah. Dony Tri Pamungkas memaksa tubuhnya bergerak seperti banteng muda yang menolak ditarik kembali ke kandang. Maulo Zijlstra dan Rahmat Arjuna menyisir sisi lapangan, mengayun jurus sayap kiri dan sayap kanan, meski kreativitas serangan terjebak pada jurus “Coba-coba tapi tidak jadi apa-apa”. Penguasaan bola 42 persen tidak tampak seperti angka, tetapi lebih seperti nasib, kadang dipegang, kadang terlepas, seperti cinta pertama yang tak pernah kembali.
Ivar Jenner, Ananda Raehan, dan Rafael Struick berusaha menguasai tengah. Namun, Mali seperti memiliki kekuatan khusus untuk memakan ruang dan waktu. Setiap aliran bola dari Garuda seolah tersedot lubang hitam tak terlihat. Sampai-sampai kamera siaran hidup segan mati tak mau merekam “peluang emas satu-satunya” Indonesia malam itu.
Menit 90+2 menjadi puncak tragedi sekaligus komedi alam raya. Moulaye Haidara, entah dengan tenaga dalam tingkat delapan atau hanya karena Indonesia terlalu lengah, mengirim bola ketiga ke gawang. Skor 0-3. Bahkan scoreboard tampak kasihan, seperti ingin berkata, “Sudah… cukup… nanti sedihnya tidak habis.”
Usai laga, Indra Sjafri muncul di depan kamera dengan aura guru silat yang baru saja menelan pil pahit. “Kami nggak puas,” katanya, “tapi tim saya nggak terlalu bermain jelek.” Kalimat yang oleh netizen langsung diterjemahkan menjadi, “Ini wake-up call, ini tamparan lembut, ini alarm subuh dengan volume maksimal.” Dony Tri Pamungkas menambahkan, kekalahan ini adalah pembelajaran penting, barangkali semacam buku babad baru yang harus mereka hafalkan sebelum menuju Thailand untuk SEA Games 2025.
Mali memang tampil dominan, 58% penguasaan bola, tujuh tembakan tepat sasaran, dan empat peluang emas. Sedangkan kita? Dua kartu kuning, satu peluang, tiga kali hampir patah hati. Tapi di balik semua itu, ada satu hal tak bisa diambil, keberanian Garuda Muda untuk tetap berdiri meski dihajar jurus-jurus Afrika Barat yang entah bagaimana terlihat seperti gabungan kungfu belalang dan silat pasir gurun.
Laga ini memang pahit, tapi perguruan Garuda tidak bubar. Jalan masih panjang. Para penonton diingatkan, jangan lupa, laga kedua melawan Mali akan digelar pada 18 November di stadion yang sama. Siapkan mental. Siapkan kopi. Siapkan tawa. Karena drama sepak bola kita tidak pernah mengecewakan, meski skor kadang membuat dada seperti ditendang jin gurun. (*)
#camanewak
Foto Ai hanya ilustrasi