Anda Bisa Mengirimkan Berita Peristiwa Seni Budaya Tanah Air. Kirim ke WhatsApp Redaksi Hatipena : 081217126600 ------ Anda Bisa Mengirimkan Berita Peristiwa Seni Budaya Tanah Air. Kirim ke WhatsApp Redaksi Hatipena : 081217126600 ------ Anda Bisa Mengirimkan Berita Peristiwa Seni Budaya Tanah Air. Kirim ke WhatsApp Redaksi Hatipena : 081217126600 ------ Anda Bisa Mengirimkan Berita Peristiwa Seni Budaya Tanah Air. Kirim ke WhatsApp Redaksi Hatipena : 081217126600 ------ Anda Bisa Mengirimkan Berita Peristiwa Seni Budaya Tanah Air. Kirim ke WhatsApp Redaksi Hatipena : 081217126600

Euforia Air Mata di Hari Raya

March 25, 2025 12:31
IMG-20250325-WA0068

#30Harimenulispuisiesai

Puisiesai 25


Penulis : Ririe Aiko

HATIPENA.COM – Badai PHK datang menjelang bulan suci Ramadhan, ada sejumlah perusahaan tutup di Jawa Barat yang menyebabkan ribuan pekerja menjadi pengangguran – (1)

Ibu bersandar di dinding kayu yang mulai rapuh,
angin pagi menyelinap lewat celah-celah retak,
membelai rambutnya yang beruban pelan,
di sudut rumah, dapur berjelaga membisu
tak ada aroma rempah, tak ada harum santan yang merebak.
Kompor tua berhenti bersuara sejak kemarin.

Di luar, gema takbir melayang di udara,
menembus batas antara gembira dan lara.
Adi, anak bungsunya, duduk di lantai dingin,
menarik ujung baju lusuh milik ibunya.

“Bu, apakah Lebaran ini kita bisa makan opor ayam?”
Suara kecilnya serupa duri yang menggores hati,
memantik pedih di antara senyuman yang dipaksakan.

Ibu mengusap kepala Adi perlahan.
Ia tahu, jawaban sejujurnya akan menghancurkan harapan kecil itu.
Namun, apa yang bisa ia sembunyikan dari perut yang kosong?

Di genggamannya, koin terakhir terasa berat,
bahkan tak cukup untuk sekilo beras.
Ia teringat hari dimana dapur mereka tak pernah sepi,
suara gemericik minyak panas,
aroma rempah rendang,
dan tawa riuh anak-anak yang berebut kue didalam toples.
Kini, semua itu hanya kenangan.

Sejak pabrik merumahkan pekerja, (2)
suaminya hanya pulang membawa utang.
dan selembar tagihan yang terus menumpuk.

Sebelum PHK itu datang,
hidup mereka sederhana, tapi cukup.
Ayah bekerja sebagai buruh,
Ibunya berjualan makanan online.
Mereka tak pernah bermimpi kaya
hanya ingin makan kenyang,
Tapi mimpi itu pun dilenyapkan
Oleh selembar surat keputusan.

Tahun lalu, lebaran adalah tawa hangat sederhana,
semangkuk opor ayam dan rendang tersaji di meja,
kebahagiaan terasa begitu dekat,
seakan hidup akan selalu baik-baik saja.

Tapi tahun ini, lebaran seperti barang mewah,
terlampau jauh dari genggaman mereka.

Suaminya duduk di beranda, menatap jauh.
Ada sesuatu yang perlahan mati di matanya,
harapan untuk bangkit dan memulai kembali.

Ia mencoba mencari seutas harapan,
Di setiap sudut kota yang katanya luas
Tapi nyatanya sempit Peluang (3)
Dengan usianya yang semakin renta,
siapa yang akan peduli pada lelaki tua?
Perusahaan lebih butuh mereka yang muda.
Mereka yang dianggap lebih kuat berkinerja.

Ia bahkan mencoba berdagang di pinggir jalan,
menjual gorengan di bawah lampu merah.
Tapi gerobak kecilnya tak sebanding
dengan tagihan hutang yang semakin menumpuk.

Malam itu, suaminya pulang membawa sesuatu:
bukan sebuah kabar gembira,
hanya luka di hatinya yang semakin meradang.

“Aku telah berusaha, tapi sistem membuat ku terjebak dalam putus asa.” bisiknya lirih.
Dan ibu hanya diam, memeluk kegagalan itu di dadanya.

Ia ingin menangis,
Ia ingin berteriak, tapi kepada siapa?
bahkan Ibu Pertiwi pun menutup telinga,
Ia sudah muak mendengar,
Terlalu banyak rakyat miskin di negeri ini,
Karena kekayaan yang habis dilahap para koruptor.

Mereka pernah percaya,
bahwa negara akan melindungi warganya.
Tapi kini mereka tahu,
kemiskinan hanyalah milik mereka yang diabaikan sistem.

Esok, orang-orang akan bersuka cita di pagi hari,
memakai baju baru, menggelar hidangan mewah.
Tapi di rumah ini, Lebaran datang dengan keheningan,
tanpa ketupat, tanpa opor ayam,
hanya sebuah euforia airmata,
Dari mereka para korban PHK

Catatan:
(1)https://nasional.kontan.co.id/news/badai-phk-jelang-ramadan-serikat-pekerja-nilai-bukan-sekedar-hindari-thr
(2) “Badai PHK Menjelang Ramadan: Sritex hingga Sanken | tempo.co” https://www.tempo.co/ekonomi/badai-phk-menjelang-ramadan-sritex-hingga-sanken-1213550
(3)”Susahnya Nyari Kerja di RI: Saingan Jutaan, Lowongan Cuma Ribuan” https://www.cnbcindonesia.com/research/20240606062916-128-544239/susahnya-nyari-kerja-di-ri-saingan-jutaan-lowongan-cuma-ribuan