HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

From Pangkalan Babat With Love

November 25, 2025 06:41
IMG-20251125-WA0014

Oleh: Shintalya Azis | Penulis

HATIPENA.COM – Pagi itu, udara terasa lebih segar dari biasanya. Embun masih menempel di ujung daun, dan jalan kecil menuju Desa Pangkalan Babat seolah mengantar kami masuk ke sebuah lukisan alam: hijau, tenang, dan penuh cerita. Kami- rombongan tim CSR- berjalan menembus hamparan pedesaan sambil bercanda kecil satu sama lain.

“Kalau udara begini, rasanya paru-paru ikut bersyukur,” kami asyik berbincang dan sepakat bahwa restu semesta mengiringi langkah kami.

Yang lain langsung mengangguk setuju. “Betul. Ini kayak tiket gratis untuk terapi alam.”

Langit tampak teduh, seakan semesta memang sengaja memayungi langkah tim CSR PT TeL yang tengah melakukan kunjungan rutin untuk monitoring kelompok tani mitra binaan.

Begitu tiba, sambutan hangat dari Kepala Desa dan jajarannya langsung membuat suasana cair.

“Wah, akhirnya datang juga,” ucap Pak Yudi Susanto, sang Kades sambil menjabat erat tangan para anggota tim satu persatu. Senyumnya khas; ramah dan menyenangkan.

“Kami kangen dengan suasana desa ini, Pak,” jawab pimpinan tim, Ruswandi.

Ia tertawa. “Kalau begitu, harus sering-sering datang. Ayo, kita lihat kebun. Banyak perkembangan baru.”

Kami langsung mengikuti langkah pak Kades menyusuri area pertanian desa. Angin bergerak pelan, membawa aroma tanah yang hidup. Di sebuah petak yang dulunya hanyalah lahan kosong, kami sempat berhenti dan tertegun.

Kini, hamparan mentimun hijau teratur seperti karpet segar yang dibentangkan. Daun-daunnya melambai perlahan, seperti menyambut kami.

“Ini hasil bibit unggul bantuan dari PT TEL,” kata Pak Kades sambil menatap kebun dengan mata berbinar.

Seorang petani mendekat. Kerut wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa syukur.

“Alhamdulillah, Bu,” katanya sambil memegang salah satu buah mentimun yang besar dan mulus. “Panen kami mulai meningkat. Biaya operasional juga pelan-pelan turun.”

Okta tersenyum. “Wah, luar biasa, Pak. Ini kerja keras bapak-bapak semua.”

Ia menggeleng pelan. “Kerja keras kami tidak berarti tanpa bantuan bibit yang baik. Alhamdulillah… sekarang kami lebih bersemangat.”

Di bawah rindang pepohonan, percakapan mengalir seperti sungai kecil yang jernih. Para petani bercerita tentang harapan dan perjuangan mereka:

“Kalau bisa, Bu, kami ingin coba tambah luas lahan.”

“Insya Allah pelan-pelan, desa ini bisa lebih maju.”

Mereka berbicara, kami mendengarkan. Kami mencatat, mereka tersenyum lega. Tim CSR memahami bahwa setiap cerita bukan sekadar suara, melainkan arah untuk program berikutnya. Setiap detail adalah amanah.

Menjelang siang, kami singgah di balai desa. Tanpa disangka, sedang berlangsung kegiatan posyandu lansia. Suasana di sana begitu hidup: tawa kecil para lansia, sapaan hangat kader posyandu, dan aroma makanan sederhana yang begitu menggugah.

“Sini, Bu, Pak, silakan dicicipi dulu,” ajak salah satu kader. “Ini hasil masakan ibu-ibu sini.”

Keikhlasan mereka terasa tanpa perlu banyak kata. Ada rasa damai yang hanya bisa muncul dari keramahan desa.

“Enak sekali ya suasananya,” celetuk Dinda.

Vebri langsung mengangguk kuat tanda setuju, “Nutrisi buat hati.” Katanya sambil tersenyum.

Saat jam menunjukkan pukul 12.25 WIB, tim CSR berpamitan. Tapi Pak Kades menahan dengan gaya khasnya.

“Tidak boleh pulang dulu,” katanya sambil tertawa. “Coba mie ayam buatan warga sini. Sayurnya segar, langsung dari kebun kami. Dijamin beda!”

Kami saling pandang dan tertawa. “Wah… kalau begitu kami pasrah saja, Pak.”

Dan benar saja. Mie ayam dari sari bayam itu… luar biasa. Lembut, gurih, penuh rasa segar. Hampir tidak bisa dijelaskan.

“Ini beneran 1000 dari 100,” bisik Mila.

“Aku setuju! Ini harus masuk list potensi usaha desa,” jawab Sela antusias.

Kami makan sambil sesekali saling memberi tanda mata—ekspresi ‘gila, ini enak banget’.

Menjelang pamit terakhir, Pak Kades berbicara dengan nada lebih lembut.

“Saya berterima kasih kepada PT TEL yang selama ini sudah menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat kami,” ucapnya. Tidak panjang, tidak dramatis, namun terasa dalam-seperti segelas air dingin di tengah hari yang panas; menyejukkan dan mengandung makna sepenuh hati.

Kalimat itu menjadi pengantar perjalanan pulang kami.

Dari Desa Pangkalan Babat, kami membawa sesuatu yang lebih besar dari laporan monitoring: pengingat bahwa silaturahmi yang dijaga, program yang tepat sasaran, dan hubungan yang tulus dapat membuka pintu-pintu perubahan yang nyata.

Kami pulang dengan semangat baru, semangat untuk terus mendampingi, mendengarkan, dan berjalan bersama masyarakat menuju masa depan yang lebih baik. (*)

Banuayu, November 2025