HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Gapura UIN Raden Intan, dari Gerbang Ilmu ke Gerbang Hukum

November 22, 2025 13:39
IMG_20251122_082409

Catatan Satire Rizal Pandiya | Penulis
Sekretaris Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena Lampung

HATIPENA.COM – Di banyak kampus, konon ada dua hal yang menentukan kualitas sebuah perguruan tinggi, yaitu jumlah profesornya dan… tentu saja gapuranya. Ibarat alis mata manusia, kalau bentuknya rapi, wajahnya seperti terlihat lebih meyakinkan. Tapi kalau acak-acakan, ya keliatan seperti habis begadang menulis skripsi.

Biasanya, gapura memang jarang diperhatikan. Seperti usaha kos-kosan, ingat anak kos hanya menjelang tanggal muda ketika harus bayar bulanan. Tapi gapura yang satu ini lain. Mulai dari pembangunannya saja sudah penuh drama. Padahal nilainya mencapai Rp3,75 miliar tapi terkesan mangkrak. Fenomena ini mungkin bisa dikaji dengan teori “Ketidaksinkronan antara realisasi dan anggaran”.

Dalam sudut pandang ekonomi pembangunan, keberadaan gapura ini menarik. Bukan karena artistik, tapi harganya yang membuat publik menelan air liur. Barangkali gapuranya akan dilengkapi dengan internet of things, fitur artificial intelligence, dan remote sensing agar mahasiswa yang belum bayar UKT bisa terdeteksi?

Bangunan gapura ini menjadi sorotan warga, karena proyek di kampus Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) ini, nilainya cukup fantastis. Seperti apa spesifikasinya? Apakah akan dilapisi logam mulia, atau ada teknologi canggih semacam detektor bom, atau menggunakan kerangka anti gempa bumi, sehingga menjadi mahal?

Bahkan isu yang berkembang bahwa anggaran gapura itu sempat “berkeliaran” di angka hampir mencapai Rp10 miliar. Jika benar, maka ini akan menimbulkan konsep ilmiah baru, yaitu inflasi anggaran imajinatif, di mana nilai anggaran berkembang melebihi kecepatan logika manusia.

Kadang pemerintah memang sering membuat kebijakan yang aneh. Padahal tak ada bukti empirik yang menunjukkan bahwa mahasiswa yang masuk kampus melalui gapura kinclong, bakal berubah menjadi cendekiawan. Meski gapura itu dicat menggunakan cat emas, tapi IPK mahasiswa tetap segitu-gitu saja. Dan prestasi mahasiswa juga tidak sekonyong-konyong meningkat meski gapura dihiasi dengan lampu tembak seperti panggung dangdut.

Ketua LCW bahkan sempat menghitung, jika anggaran gapura itu benar mencapai Rp3,75 miliar, maka sebanding dengan membangun tiga sekolah baru lengkap dengan parkiran dan pagarnya. Sampai di sini, publik bisa memahami satu hal, bahwa gapura ternyata memang lebih sakral dan lebih penting daripada sekolah baru. Mungkin di antara kita tak ada yang berpikir kalau gapura itu bakal jadi cagar budaya masa depan.

Dalam kondisi ekonomi masyarakat yang sedang mengalami lesu darah ini, proyek mahal – tetapi mangkrak pula – tampaknya seperti uji coba sosial tentang “ketidakpekaan struktural”. Kalau dalam istilah kerennya, absennya sense of crisis pada organisasi publik.

Lampung Coruption Watch (LCW) pun mendorong agar Polri dan Kejaksaan segera menyelidiki kasus ini. Gapura yang semula akan digunakan sebagai pintu masuk civitas akademika malah berubah jadi pintu masuk penyelidikan. Dan sudah tentu, yang bakal diperiksa pertama adalah gapuranya itu sendiri. Sebuah pintu yang secara fisik belum selesai, tapi sudah menjadi pintu masuk yuridis. Sungguh ironis!

Kalau ternyata penegak hukum yang di bawah tak kunjung bergerak, maka proses ini akan diteruskan ke yang lebih tinggi. Literatur sosiologi menyebutnya sebagai mobilitas vertikal untuk mencari keadilan. Kalau bahasa kampungnya, “Lapor dulu ke bapaknya, tapi kalau nggak bergerak juga, ya…kita lapor ke kakeknya.”

Tentu saja pihak kampus membantah keras masalah ini. Klaimnya, proyek itu bukan mangkrak melainkan multiyears. Alasan ini sangat tepat dan jitu untuk menangkis serangan media, yang memberitakan gapura ini. Kalau dalam logika ilmiahnya, ini biasa disebut argumentum temporalis, artinya menunda hari ini karena berharap esok situasi akan lebih baik.

Mereka menjelaskan bahwa tahun pertama anggaran proyek itu sudah diperiksa Itjen Kemenag dan dinyatakan tanpa masalah. Tapi publik bingung. “Kenapa gapura belum selesai, tapi anggarannya sudah habis? Mungkin ini gapuranya yang salah, bukan si pemeriksanya”.

Lalu tahun kedua pembangunan gapura terhenti dan tidak berlanjut karena adanya kebijakan efisiensi anggaran. Di sini muncul teori baru, yaitu “Efisiensi yang menunda eksistensi”. Meskipun bangunan terhenti, tapi penjelasannya bisa berjalan lancar.

Gapura UIN Raden Intan ini telah menjadi simbol baru, yaitu Monumen Post-Anggaran. Meski gapura itu belum selesai, namun sudah menjadi wacana yang membuat publik ikut mengawasinya. Gapura belum selesai, namun sudah memicu wartawan melakukan investigasi.

Dan jika nanti terbukti adanya penyimpangan, maka lengkaplah fungsi perguruan tinggi, yaitu sebagai laboratorium multidisipliner. Bukan sekadar tempat mempelajari metodologi ilmiah, dan teori saintifik tetapi juga ilmu menggelapkan anggaran yang muncul secara praktis. Dengan begitu, kampus kelak akan berubah menjadi “Pusat Studi Korupsi Terapan”, lengkap dengan simulasi dan barang bukti.

Bagi mahasiswa yang tengah menyusun skripsi dengan topik manajemen publik, tentu tidak perlu lagi mencari studi kasus ke luar kampus. Mereka cukup jalan-jalan sebentar ke gapura yang mangkrak sambil duduk di tumpukan material dan mencatat, “Beginilah model real-time sebuah proyek besar jadi bermasalah tetapi laporan auditnya tetap cerah.

Pada fase ini, muncul hidden curriculum, di mana mahasiswa sejak di bangku kuliah, mereka diperlihatkan proses korupsi yang dikemas dengan bahasa ilmiah, yaitu mulai dari menyusun proposal, merapikan notulensi, lalu justifikasi teknis, sampai pada munculnya istilah “multiyears” yang digunakan sesukanya. Lalu korupsi pun naik level, bukan lagi sebuah kejahatan, melainkan riset yang berbasis anggaran dilengkapi dengan footnote, kop surat resmi dan tanda tangan pejabatnya.

Proyek gapura rupanya bukan lagi masalah estetika sebuah kampus, melainkan sudah berubah menjadi sebuah momentum emas bagi para oknum kreatif yang suka mengutak-atik anggaran. Apakah ini dimaksudkan untuk mengajari mahasiswa sejak dini cara menggasak uang negara dengan cara yang elegan tapi juga ilmiah? Entahlah. Tapi yang jelas, setelah ini UIN Raden Intan akan memasuki ke babak yang lebih menarik. (*)

Berita Terkait