Oleh Anies Septivirawan | Penulis
HATIPENA.COM – Kondisi ekonomi di negeri kita tercinta saat ini sedang tidak baik – baik saja. Situasi krisis ekonomi di Indonesia kini cukup memprihatinkan.
Negeri yang katanya makmur, tanahnya subur, kaya akan rempah-rempah, kekayaan lautnya melimpah, tapi sekarang kok gini ya? Tapi keadaan itu sudah lewat. Tapi situasi itu hanya ada di dalam buku pelajaran sejarah saat kita bersekolah.
Pemerintah cerdik menutupi situasi dan kondisi saat ini dengan caranya sendiri. Pemerintah pandai membahagiakan orang – orang dengan narasi angka-angka di badan pusat statistik bahwa ekonomi negeri ini baik-baik saja.
Seolah – olah tidak ada kenaikan harga apa – apa. Angka kemiskinan turun, itu versi penguasa, meskipun awal tahun 2025 telah ditandai dengan penurunan daya beli masyarakat, PHK massal karyawan pabrik, PHK massal jurnalis di sejumlah media mainstream, dan tekanan global.
Deflasi yang terjadi bukanlah karena perbaikan ekonomi, namun karena daya beli yang menurun dan kian hari kian melemah saja seperti seorang pendaki gunung mengalami keletihan karena mendaki puncak mount Everest.
Akan tetapi, tidaklah demikian dengan kondisi daya beli para konsumen sebuah warung kopi di sebuah gang kecil, di tengah perkampungan, jantung kota kelahiranku, Situbondo.
Meskipun daya beli konsumennya tidak melambung setinggi khayalan manusia normal, namun para konsumen warung kopi sederhana itu cukup stabil. Tidak naik dan tidak turun. Stabil.
Daya beli yang stabil itu bernama “hasrat nongkrong”. Para pengunjung dan penikmat kopi di warung tersebut hanya itu -itu saja.
Daya beli yang stabil itu amat bermakna secara ekonomis bagi sang pemilik warung. Meski lalu lintas keuangan warung kopi tersebut tidaklah seramai kafe Starbuck, namun di sana ada atmosfer tawa yang hangat saat pagi hingga malam hari. Suasana kepuasan batin seperti itulah yang dicari oleh mereka, mungkin.
Dan, di tengah kestabilan daya beli konsumen warung kopi itu, ada juga bunga – bunga pertumbuhan yang mengembang bernama pembangunan kecil -kecilan.
Bangunan warkop itu merangkak perlahan melakukan pembenahan, mempercantik bangunan fisiknya, meski orang – orang di luar sana terdengar mengeluh tentang kenaikan harga – harga barang, termasuk harga bahan bangunan dan kenaikan harga kebutuhan harian.
Namun, mereka masih bergeliat, melawan kondisi miris nan sunyi itu. Mereka tetap bertahan, bahagia. Sebahagia penjual dan penikmat kopi di seonggok warung mungil itu.
Mereka adalah sanak saudara, tetangga dekat dan teman – teman alumni SMP hingga SMA. Mereka menyeruput kopi hitam tanpa gula, ada juga yang menikmati aneka minuman tradisional, herbal. Ada minuman teh telang, wedang uwuh, jahe, teh dan susu.
Dan yang menjadi obrolan di tengah gayengnya keakraban warung kopi bermodal kecil namun mandiri nan berdaulat itu adalah seputar pengalaman pribadi, masa lalu di sekolah hingga ekonomi negeri ini dengan versi guyonan atau candaan khas mereka masing-masing.
Mereka datang dan membeli secangkir kopi di warung kopi itu bukan seperti seorang pembeli atau konsumen. Kehadiran mereka tidak terjebak dalam hubungan antara konsumen – produsen barang dan jasa.
Di tengah obrolan canda tawa dan senda gurau kata di atas kursi panjang bambu, mereka duduk, ada yang sembari sebelah kaki diangkat menekuk lutut, ada juga yang duduk sempurna, ada pula yang sesekali melirik ke arah jarum jam gantung karena mendadak dapat kiriman pesan WhatsApp dari istri di rumah agar segera pulang.
”Senangnya nongkrong teruuus… jangan pulang sekalian…!!!” begitu isi pesan WhatsApp dari sang istri salah satu pengunjung dengan nada ketus.
Meskipun demikian, ia tidak pernah kapok, tak pernah jera karena hal itu. Karena setiap hari, di seonggok warung kopi itu selalu ada atmosfer kedamaian, berjumpa teman – teman masa kecil yang selalu melahirkan suasana acara reuni tidak resmi tanpa undangan.
Sejak pagi hingga malam hari, pengunjung seonggok warung kopi itu tidak pernah sepi. Ada juga pengunjung yang baca puisi. Ada yang pulang, yang datang setiap hari seperti itu, seperti aliran darah yang memompa jantung semangat sang pemilik warung.
Situbondo, Jumat malam, (21/11/25).