HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Gelombang Energi Presiden Soeharto

November 10, 2025 10:13
IMG_20251110_101303

Ngopi Sewarung

Uten Sutendy | Penulis/ Budayawan Banten

HATIPENA.COM – Presiden RI Kedua Jenderal Soeharto meskipun pernah dicap oleh kelompok reformis tahun 1998 sebagai tokoh otoriter dan diktator saat memimpin Orde Baru, dan dicap pula sebagai “pengkhianat” oleh keluarga besar Bung Karno, namun tetap saja beliau dinilai oleh banyak orang sebagai pejuang nasional yang luar biasa besarnya bagi pembangunan dan perkembangan bangsa ini. Beliaulah peletak dasar pembangunan nasional berdasarkan strategi pertumbuhan ekonomi berjangka.

Beliau juga pejuang yang berjasa dalam pertempuran melawan agresi Belanda kedua serta berhasil memberangus Gerakan 30S PKI. Pro kontra di seputar itu biar saja terjadi. Tapi sejarah telah membuktikan bahwa gelombang energi kebaikan yang pernah beliau lakukan jauh lebih besar daripada gelombang energi yang saat ini menentangnya.

Beliau berhasil menjadi presiden terpanjang sepanjang sejarah bangsa dan kini akan dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

Banyak orang yang pernah tersakiti di masa Orde Baru, kemudian menyadari bahwa menyimpan dendam pribadi dan kelompok itu hanyalah memelihara penyakit. Maka, kemudian mereka memaafkan dan menerima Pak Soeharto dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Tapi ada juga pribadi atau kelompok yang sampai hari ini menyimpan dendam pribadi dan kelompok hingga terus mencaci makinya dan menolak Soeharto sebagai pahlawan nasional.

Saya termasuk orang yang pernah sangat disakiti di era Soeharto semasa menjadi jurnalis dan aktivis muda. Pernah dipecat jadi wartawan, dibatasi ruang gerak, diputus living cost, tak boleh berkarya (karya tulisan tidak boleh terbit atas nama saya) dan harus hidup terlunta- lunta di negeri orang karena tulisan saya yang mengkritik kebijakan Presiden Soeharto kala itu.

Setelah perenungan cukup lama akhirnya menyadari bahwa saya bukan siapa-siapa dibandingkan jasa besar pak Harto dalam membangun bangsa ini dan saya adalah anak bangsa yang hidup di negeri yang pernah diperjuangkan oleh pak Harto.

Sampai akhirnya kemarin ada beberapa wartawan lama di Jakarta ngajak ngobrol untuk mendukung Pak Harto sebagai pahlawan nasional dan saya menyetujuinya.

Kekecewaan dan dendam pribadi tak boleh menjadi penghalang seseorang untuk menghargai orang lain yang jasanya lebih besar dari yang pernah kita lakukan untuk bangsa, umat manusia, dan masa depan.

Sampai pagi ini saya masih menangis mengingat sakitnya saat semua orang di lingkungan pergaulan mencaci dan mengusirnya karena tulisan saya yang mengkritik tentang Pak Harto. Menangis karena harus mengikhlaskan semua rasa sakit di mass lalu terlepas dan pergi jauh. (*)

Get the feeling
Mr. Ten