HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Gimana (jika) Penerbangan Lombok – Bali Dikelola Malaysia?

November 30, 2025 13:50
1764485039333-min

Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya | Penulis

HATIPENA.COM – Ini bukan penerbangan perintis yang baru belajar mengepak sayap. Bali–Lombok, Lombok–Bali, jalur tua yang sudah ada sebelum beton Praya menyentuh tapak pesawat.

Dulu Selaparang berdiri anggun di Rembige, menyaksikan deru Fokker 28 yang setia, Twin Otter mungil dengan baling-baling di hidungnya seperti badut udara yang lucu namun tangguh.

Merpati pernah terbang gagah, Garuda pun pernah merendah menyambung pulau ke pulau.

Harga tiket? Normal. Kata “normal” sederhana saja, masuk akal: naik ya naik, proporsional, manusiawi. Tak ingin pula dimurah-murahkan, atau disubsidi. Yang biasa saja.

Lalu datanglah masa pandemi: dunia sakit, langit sepi, ekonomi pun sempoyongan.

Di sinilah puncak sakit itu yang menjalar hingga sekarang. Setelah Covid-19 bergeser jadi catatan sejarah, tiba-tiba harga tiket melonjak, bukan sembuh, tapi hilang akal.

Tiba-tiba terbang ke Surabaya 800 ribu, tapi ke Bali kok 1,2 juta? Padahal Bali itu di seberang—hampir terlihat jika cuaca cerah dan doa cukup khusyuk. Jika ke Surabaya 800 ribu, ke Bali kira-kira 500 ribu lah, cara sederhana menggunakan akal sehat.

Jika itu dijadikan acuan, ada 700 ribu rupiah yang terbang entah ke mana. Mungkin ia hinggap di sayap pesawat yang tak pernah kita lihat, atau mengembung di kantong seseorang yang tak pernah kita kenal.

Data yang diperoleh sepanjang 2024, Bandara Lombok melayani 2,3 juta manusia. Katakan satu juta di antaranya terbang ke Bali. Satu juta dikali 700 ribu—700 miliar rupiah menguap seperti dupa pagi tertiup angin selat.

Menguap setiap tahun. Dalam lima tahun? Itu bukan angka, itu gedung sekolah, itu beasiswa masa depan, atau mungkin itu hanya angka yang kita amati seperti menatap ombak:
menghantam karang lalu lenyap tak bersuara.

Logis? Atau saya yang tidak waras? Maskapai yang tersenyum? Pemerintah yang diam? Atau mafia yang menepuk-nepuk pundak kita sambil berkata: “Selamat datang di langit negeri sendiri.”

Dunia semakin aneh. Ke Kuala Lumpur ongkosnya bisa sama. Ke Jakarta kadang justru lebih murah dibanding ke Bali. Pergi ke luar negeri terasa lebih nasionalis daripada menyeberang ke Bali yang notabene rumah kita sendiri.

Maka benak yang letih mulai berkhayal: Bagaimana jika pengelolaan bandara Lombok dan Bali diserahkan saja kepada Singapura atau Malaysia? Setuju gak? Mungkin tiket kembali masuk akal, mungkin langit kembali manusiawi. Mungkin kita “merdeka” setelah dijajah harga yang tak masuk akal.

Betapa lucu negeri ini: ke Singapura seharga ke Bali, tetapi harga ke Bali justru terasa seperti pergi ke bulan.

Ini dunia paradoks—negara kepulauan yang menjadikan langit sebagai jalan raya, tetapi justru jalan raya itu dipagar tinggi dengan tarif yang mengiris nalar.

Pada akhirnya kita bertanya sambil menatap pesawat yang baru saja lepas landas: apakah yang terbang hanya pesawat? Atau akal sehat kita ikut terbang, tak pernah kembali, hilang di antara awan dan kebijakan yang tak berpijak?

Sepanjang tahun, yang terbang bukan hanya kita— tapi juga kewarasan. Dan absurditasnya pun tetap mendarat tepat waktu. (*)

Denpasar, 30 November 2025