Resensi Antologi Puisi
Oleh Anto Narasoma | Sastrawan/ Penyair
SOSOK paling mendasar bagi kecerdasan dan kepandaian manusia adalah guru yang berkualitas. Berkualitas dari sisi kepribadian dan bermutu dari ilmu yang ia ajarkan kepada siswanya
HATIPENA.COM – Jika disadari bahwa seorang guru tak hanya tampil untuk mengajar siswanya secara akademik di sekolah, tapi ia juga harus belajar dari siswanya. Oh, iya?
Pertanyaan itu tak perlu dijawab. Sebab sudah nenjadi landasan paling mendasar bagi seorang guru untuk (harus) belajar dari siswanya.
Sebelum ia (guru : teachers) mengobservasi akademiknya kepada siswa, guru harus belajar dari berbagai psikologis siswanya. Sebab, dari sejumlah siswa yang ia hadapi itu memiliki beragam watak dan karakter yang berbeda-beda.
Karena itu, sebelum ia mengajar, hal utama yang ia lakukan adalah bagimana memahami karakter murid-muridnya terlebih dahulu.
Sebab, berdiri di depan kelas, ada baiknya guru harus “belajar” dan mempelajari karakter sejumlah siswanya yang berbeda-beda watak.
Secara akademik, ini yang mampu membangun koneksi agar ilmu pengetahuan yang diberikan ke siswanya dapat dipahami murid-murid yang berbeda watak dan kecerdasan yang dimiliki mereka. Mengobservasi kehidupan belajar dan mengajar seperti ini dilakukan penyair Leni Marlina yang akrab disapa Lina.
Dalam buku antologi puisi bertajuk The Beloved Teachers (Guru-guru Tercinta) penyair Leni Marlina menyajikan 37 puisi pilihan tentang guru secara psikologis.
Kemampuan penyair yang piawai berbahasa Inggris ini, mampu mengungkap kekuatan latar belakang dan kaidah mendidik siswa dari guru yang berkualitas.
Dalam konteks kecintaan guru yang belajar dan mengajar siswanya, tentu akan menerbitkan nilai kecintaan yang penuh kasih dan sayang bagi keduanya.
Apalagi ketika sang guru melakukan konteks edukasi dengan bahasa yang santun dan menghargai perasaan siswanya, secara psikis dapat melahirkan prestasi bagi siswa dan dirinya sendiri (guru).
Dalam antologi The Beloved Teacher (bilingual), penyair Lina (Leni Marlina) menulis puisi bertajuk Guru yang Dicinta dan Dirindu (halaman 21), berisi kaidah-kaidah kasih sayang karena pola didikan yang penuh kasih dan sayang, melahirkan gambaran rasa dalam kaitan perjuangan hidup yang sangat otentik serta menyentuh hati. Coba kita perhatikan uraian kalimat (larik) yang sarat dengan sentuhan hati tersebut….
/1/
_Guru, engkau hadir dalam setiap kenangan// Di antara baris kata yang kau titipkan di papan// Suaramu masih bergema dalam ingatan// Meski waktu berlalu, jarak memisahkan_..
_Engkau yang kami cintai dengan setulus hati// Bukan karena ilmu yang kau beri// Tapi karena ketulusan yang tak pernah kau sembunyikan// Dalam setiap senyum dan nasihat yang kau sisipkan_
_Rindu ini adalah rindu cahaya yang kaunyalakan// Ketika langkah kami masih tertatih dalam kegelapan// Kau ajarkan kami cara berdiri tegap// Meski badai datang, kau tak pernah menyerah_
_Kini, di setiap derap langkah kami, ada jejakmu// Kau adalah bayang yang membimbing dari jauh// Meski tak lagi terlihat di depan mata// Hatimu tetap hadir di setiap doa dan usaha_
/2/
_Guru, yang kami cintai dan rindukan// Engkau adalah bintang harapan// Terangmu menuntun kami di tengah malam yang pekat// Dan kehangatanmu tetap mengalir dalam setiap harap_
_Engkau tak pernah benar-benar pergi// Sebab cinta dan rindu kami tetap menyatu di sini// Dalam setiap angka dan huruf yang engkau ajarkan, dalam setiap makna hidup yang emgkau tunjukkan// Dan dalam hati, engkau selaku bersemayam_…
Dari uraian ide dan gagasan yang diungkap penyair, dia mencoba mengadaptasi perasaan kasih dan sayangnya kepada guru melalui beragam metapora untuk membunyikan ritme kata yang menarik.
Tentu saja, kecintaan penulis (penyair) terhadap gurunya itu karena “Si Pendidik” telah lebih dahulu mencurahkan kasih sayang mereka lewat pengajaran yang dilimpahkan sang guru.
Seperti dikemukakan penyair dunia Edward Emillin Cumming, guru merupakan sosok paling utama dalam kehidupan manusia.
Sebab, dengan kasih sayang yang guru berikan saat mengajar siswanya, tak ada sesuatu yang ia tutup-tutupi, karena semua ilmu yang mereka (guru) miliki, dijelaskan kepada muridnya.
Esensinya, ia mengajari muridnya tentang pengetahuan ialah agar siswanya memahami konsep keilmuan secara mendalam dan bermakna.
Itu artinya, guru mengajari siswanya tidak hanya menghafal, tapi sebagai motivator dan inspirator, guru berharap agar siswanya mampu menjadi manusia yang berada dalam ruang budaya belajar sehingga mampu memhami ilmu pengetahuan secara positif.
Dalam kaitan ini, penyair tampaknya benar-benar memahami fungsi sang pendidik secara esensi tentang bagaimana “kasih sayang” gurunya disaat ia mengajar.
Mari kita telusuri imajinasi penyair ketika merunut cara gurunya mendidik. Hal itu dapat kita telusuri melalui puisi berjudul Mata Pena Para Guru, (halaman 25)….
_Wahai guruku yang sedang menulis di sana// Di ujung pena yang engkau genggam erat// Engkau ukirkan huruf-huruf yang melampaui zaman_..
Secara esensi, begitu kokohnya niat guru disaat ia mengajari siswanya. Secara psikis, kedalaman itu diurai penyair secara lirik, _Wahai guru yang sedang menulis di sana// Di ujung pena yang engkau genggam erat// Engkau ukirkan huruf-huruf yang melampaui zaman_..
Dari tiga kalimat tahap awal puisi itu, begitu dalamnya kecintaan sang guru saat memberi mata pelajaran ke siswanya.
Tekad dan emosi positif sang guru ketika mengajar, konsentrasinya diperlihatkan penyair dengan kalimat.._Di ujung pena yang engkau genggam erat_, menunjukkan ciri semangat yang begitu _keukeuh_ untuk mencerdaskan siswanya.
Dengan sikap kokoh seperti itu, banyak siswanya yang berhasil menjadi kehidupan sebagai orang-orang sukses (_Engkau ukirkan huruf-huruf yang melampaui zaman_..).
Artinya, kalimat ukiran huruf dari zaman ke zaman itu ia (penyair) paparkan sebagai konotasi keberhasilan para siswanya yang telah meniti kehidupan mereka masing-masing.
Dari ungkapan cinta dan kasih sayang yang ditulis penyair, dapat kita analisis secara mendalam tentang bagaimana ungkapan rasa terima kasih penyair terhadap gurunya.
Antologi The Beloved Teacher ini tampaknya tak hanya ditulis sebagai karya kreativitas penyair, namun secara esensional ia mencoba mengungkap rasa terima.kasihya meski tak penyair memberikan melalui tumpukan harta benda. Tapi rasa kasih dan terima kasih itu merupukan bentuk “harta” paling berharga yang dapat dihitung secara matematis.
Secara konotatif, daya ungkap ini membangun unsur-unsur bentuk puisi dari dua sudut pandang yang dari bentuk dan isi.
Sebab, karya (puisi) merupakan struktur norma yang terdiri dari lapis-lapis norma isi dan tujuan puisi, sehingga muncul lapis norma di atas yang memicu lapis norma di bawahnya (kasih sayang siswa muncul akibat adanya kasih sayang guru saat ia mendidik siswanya).
Jadi, apabila kata-kata tunggal pada puisi di atas bergabung dalam konteksnya, maka timbullah prase-prase yang melahirkan pola balasan isi (kasih sayang murid timbul karena kasih sayang gurunya) yang seimbang.
Sebab dari nilai pengajaran gurunya di sekolah, dapat membangun aspek mental siswa, emosional, sosial pergaulan, karena kehadiran siswa sepenuh waktu ketika belajar dengan gurunya di sekolah.
Dari cacatan yang selama menelusuri kata-kata dan kalimat pada dua puisi, penyair tampaknya begitu akurat untuk menggunakan kata dengan ketentuan yang benar.
Seperti kata pepatah, tak ada manusia yang sempurna sebagai insan Tuhan. Sebab dari cara kerja yang akurat, terkadang masih ada kekeliruan yang tak sengaja dilakukan.
Dari puisi bertajuk Mata Pena Para Guru, pada alinea kedua kalimat kedua halaman 45, ada kalimat.._Menghantarkan kami menuju lautan pengetahuan_.., secara konotatif sudah cukup baik. Hanya saja kata menghantarkan itu keliru menerjemahkan fungsi kata antar.
Harusnya mengantar bukan menghantar. Sebab kata dasarnya antar bukan hantar. Karena itu dari kata kerja yang membubuhi awalan me (ng), jadi daya ungkap bunyinya, mengantar.
Antologi ini sangat baik dibaca generasi muda. Sebab, tak hanya nengungkap nilai-nilai edukasi, tapi secara holistik, mampu memberikan konsep olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara terpadu dalam proses belajar mengajar. Selamat Hari Guru 2025 (*)
Palembang, 24 November 2025