HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Harimau Tumbuh Sayap di Kaki Gunung Sago-Halaban

May 3, 2025 10:19
IMG-20250503-WA0009

Oleh Purwanto Putra

HATIPENA.COM – Kabut masih menyelimuti kaki Gunung Sago ketika Karim menuruni lereng membawa karung penuh daun teh kering. Usianya kini hampir empat puluh, rambutnya mulai memutih, tetapi langkahnya tetap tegap. Ia melewati bekas pos penjagaan Belanda yang telah runtuh. Dulu di sanalah ia—seorang mandor kebun teh—pernah berdiri gagah, meski hatinya terusik oleh bisik-bisik kemerdekaan.

Bocah-bocah desa berlarian menyambutnya ketika sampai di kedai minum kawa, salah satunya cucunya sendiri, Yusuf. “Kakek, ceritakan lagi tentang harimau yang bisa terbang itu!”

Karim tertawa kecil. Ia menatap kabut tipis yang seolah membuka tirai masa lalu.

-0-

Halaban, 1932 
Kala itu Karim masih remaja. Setiap pagi, ia memanggul karung kecil dan mengikut ayahnya menyusuri kebun teh milik tuan Belanda. Tuan Van Der Klooster adalah pemilik kebun itu, dingin dan penuh aturan. Tapi Karim punya rasa ingin tahu yang tak biasa. Ia diam-diam belajar membaca dari bekas-bekas surat koran yang digunakan membungkus teh.

“Kenapa kita harus terus menunduk?” tanya Karim suatu malam saat ayahnya menggulung tikar.

Ayahnya hanya menghela napas. “Hidup di tanah jajahan, Nak. Jangan cari masalah.”

Namun benih pertanyaan itu tumbuh subur di benaknya. Suatu hari, ketika tuan kebun memanggil pribumi yang bisa menghitung hasil panen dalam bahasa Belanda, Karim tampil. Bicaranya patah-patah, tapi berani. Sejak itu, ia jadi semacam juru catat lapangan—sebuah posisi kecil, tapi cukup membuatnya melihat lebih jauh dari daun-daun teh yang digunting para pemetik.

-0-

1950, Kembali ke Masa Republik
“Waktu Jepang datang, kita ganti penjajah,” ujar Karim sambil menyalakan pipa. “Tapi waktu PDRI—Pemerintah Darurat Republik Indonesia—menyusup ke Halaban tahun 1949, kita tak hanya sembunyikan pemimpin, tapi juga harapan.”

Yusuf mendengarkan penuh takjub. Ia tahu Halaban sempat menjadi lokasi persembunyian tokoh-tokoh republik. Bahkan gudang teh tua itu pernah menjadi pos rahasia.

“Dulu kakek kira tak bisa apa-apa,” kata Karim. “Tapi ketika ilmu, keberanian, dan kesempatan datang, rasanya seperti harimau tumbuh sayap. Dari kebun ini, kita bukan cuma memetik teh, tapi juga menanam perlawanan.”

-0-

Flashback terakhir: Halaban, 1949
Karim berdiri di belakang gudang teh, menyerahkan beras dan surat kecil kepada seorang lelaki kurus berjanggut—tokoh PDRI yang menyamar. “Ini dari rakyat. Kami percaya.”

“Siapa namamu?” tanya sang pemimpin.

“Karim, anak pemetik teh.”

Pemimpin itu menatapnya. “Tak ada anak kecil dalam perjuangan. Kau, Karim, sudah jadi harimau. Kini waktunya kau terbang.”
 
Karim menatap Yusuf yang kini menggambar di tanah. Gambar itu menyerupai seekor harimau dengan sayap besar. Ia tersenyum.

“Lanjutkan, cucuku. Suatu hari, kau pun akan tumbuh sayapmu sendiri.”

Kabut Gunung Sago pelan-pelan menyingkap, seolah mengantar harapan baru terbang tinggi dari kebun tua Halaban.(*)