Shintalya Azis | Penulis
HATIPENA.COM – “Jangan lupa hari ini menghadiri jamuan Pak Kades Baturaja,” pesan singkat dari Pak Ruswandi di grup pagi itu menjadi pengingat yang dinantikan. Ajakan sederhana yang sarat makna; bukan hanya sekadar undangan makan siang, melainkan undangan untuk mempererat silaturahim dan kebersamaan di tengah kesibukan masing-masing.
Setelah rapat pagi, kami pun berangkat menuju kediaman Bapak Kepala Desa Baturaja. Sesampainya di sana, suasana hangat langsung terasa. Pak Kades berdiri di teras rumah menyambut dengan senyum hangat nan ramah mempersilahkan kami masuk ke dalam rumah.
Tidak lama kemudian, bu Kades datang dan duduk bergabung dengan kami. Dengan senyum manis keibuan, percakapan pun mengalir dengan akrab.
Sebagai tanda terima kasih, kami menyerahkan buah tangan sederhana kepada bu Kades. “Terima kasih ya bu, sudah mengundang kami hadir untuk menikmati masakan ibu,” ujar Okta.
Di sela-sela percakapan yang mengalir hangat, bu Kades bercerita tentang beragam kegiatan sosial yang digagasnya, mulai dari pembinaan anak-anak dan remaja hingga kegiatan untuk para lansia agar tetap aktif dan bahagia. Kepedulian beliau terhadap seluruh lapisan masyarakat benar-benar terasa, mencerminkan sosok perempuan yang tidak hanya mendampingi suami, tetapi juga menginspirasi banyak orang.
Mendengar hal tersebut, sebagai bentuk apresiasi, kami menyerahkan sebuah cinderamata; buku “Lansia Bahagia” yang disunting oleh sastrawati besar Indonesia, Pipiet Senja.
“Semoga buku ini menjadi teman inspiratif bagi para lansia di desa,” ujar kami.
Ibu Kades menerima dengan penuh haru. “Terima kasih, ini sangat bermakna,” katanya lembut.
Tak lama kemudian, aroma masakan menggoda dari dapur. Satu per satu hidangan disajikan dengan penuh keindahan: ikan bakar, pindang tulang, pindang patin, udang satang saus Padang, ikan goreng garing, serta lalapan segar dan buah-buahan yang menambah warna di siang hari tersebut.
Namun yang paling menjadi sorotan hari itu adalah sambal buatan tangan Ibu Kades sendiri. Rasanya pedas,manis, gurih, dan harum menggoyang lidah-sehingga seseorangpun berbisik, “Alangkah enaknya sambal ini.”
Sontak tawa kecil pecah ketika saya menimpali, “Bapak mau bungkus sambal?” candaku sambil melirik piring sambal yang sudah dua kali diisi ulang.
Suasana keakraban begitu terasa. Hidangan yang tersaji bukan sekadar menu kuliner, tetapi juga simbol ketulusan dan kasih yang disajikan dari hati. Seperti kata pepatah, “Cinta adalah bumbu rahasia yang membuat setiap hidangan terasa istimewa.”
Santap siang pun berlangsung penuh keakraban dan kehangatan. Tawa dan cerita silih berganti, menciptakan kenangan manis yang sulit dilupakan.
Nikmatnya masakan berpadu dengan keramahan Pak Kades dan keluarga, membuat langkah terasa berat ketika tiba saatnya berpamitan.
Sebelum beranjak pulang, kami menyampaikan rasa terima kasih.
“Terima kasih, Pak Kades dan Ibu, atas sambutan dan jamuan yang begitu berkesan. Semoga Allah SWT membalas dengan limpahan keberkahan dan kesehatan bagi keluarga.”
Kunjungan sederhana itu meninggalkan kesan mendalam. Kami belajar, bahwa silaturahim bukan sekadar basa-basi, melainkan jembatan hati yang menumbuhkan cinta dan persaudaraan.
Dari rumah Pak Kades hari itu, kami pulang dengan perut kenyang dan hati penuh rasa syukur-karena hidangan sepenuh cinta tak hanya mengenyangkan, tapi juga menumbuhkan kehangatan yang mempererat tali kebersamaan di Desa Baturaja tercinta. (*)
Baturaja, 27 Oktober 2025