Oleh: Seraphica Artika *)
HATIPENA.COM – Ketika Ayundri naik bus dari Sumedang ke Jakarta tiga tahun lalu, ia tak hanya membawa koper dan semangat kuliah. Ia juga membawa keraguan. Tentang dirinya. Tentang pilihannya. Dan tentang makna kegagalan dalam hidup yang masih ia bangun perlahan-lahan.
“Aku takut banget waktu itu,” katanya sambil mengingat detik-detik kepergiannya.
“Takut gagal, takut nyusahin orang tua, takut jadi bahan omongan, takut… kalau ternyata yang mereka bilang benar.”
Yang dimaksud “mereka” bukan orang asing, tapi keluarga, tetangga, orang-orang di lingkungannya. Di Sumedang, tempat Ayundri dibesarkan, ada satu jalur hidup yang dianggap ideal untuk perempuan: lulus SMA, menikah, membangun rumah tangga. Jika bisa, sedini mungkin.
“Aku termasuk yang ‘nyeleneh’,” ujarnya.
“Aku satu-satunya dari geng sekolahku yang lanjut kuliah di luar kota. Teman-teman lain ya ada yang kerja, bantu usaha keluarga, tapi banyak juga yang udah menikah.”
Di tahun kedua kuliah jurnalistik, Ayundri makin sering menerima kabar bahwa teman-teman lamanya telah menikah, bahkan punya anak. Di media sosial, satu demi satu foto prewedding, prosesi akad, bayi baru lahir bermunculan. Sementara ia masih menghadiri kelas, mengerjakan tugas reportase, dan pulang ke kos dengan mie instan dan cucian kotor.
“Mereka kelihatan bahagia, settled,” katanya. “Sementara aku sempat mikir, ‘Kalau aku gagal kuliah, gagal kerja, terus gagal menikah… aku pulang bawa apa?”
Pertanyaan itu bukan hanya refleksi pribadi. Di banyak budaya Asia, makna “gagal” bagi perempuan tak selalu berkaitan dengan pencapaian akademik atau karier. Justru sebaliknya, perempuan sering dianggap gagal jika tidak menikah pada waktu yang dianggap “tepat”, jika tidak memiliki anak, atau jika terlalu sibuk mengejar impian.
“Di sini, kamu nggak perlu bilang gagal secara langsung,” lanjutnya. “Cukup datang ke acara keluarga, dan dengar pertanyaan itu: ‘Kapan nyusul?’, atau ‘Nggak takut kelamaan sekolah?’ Itu udah cukup bikin aku ngerasa gagal—padahal aku lagi belajar.”
Data yang mengungkap tekanan
fenomena yang dialami Ayundri tak berdiri sendiri. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan bahwa 1 dari 9 perempuan Indonesia menikah sebelum usia 18 tahun, dengan prevalensi tertinggi di wilayah pedesaan.
Pendidikan sering menjadi faktor penentu: perempuan dengan pendidikan rendah lebih rentan terhadap pernikahan anak dan siklus ketergantungan ekonomi.
Di negara lain, tekanan terhadap perempuan muda pun serupa—meski bentuknya berbeda. India: Praktik mahar masih bertahan meski telah dilarang. Perempuan yang belum menikah dianggap beban finansial keluarga. Di banyak wilayah, “gagal menikah” bisa berarti tekanan mental berkepanjangan—baik bagi anak perempuan maupun keluarganya.
Tiongkok: Istilah sheng nü (剩女) atau “perempuan sisa” dilekatkan pada perempuan usia 27 tahun ke atas yang belum menikah. Mereka dianggap terlalu ambisius, terlalu keras kepala, atau terlalu “bermasalah”. Banyak dari mereka terpaksa menekan keinginan pribadi demi memenuhi ekspektasi orang tua yang ingin cucu.
Korea Selatan dan Jepang: Meski negara-negara ini tergolong maju secara ekonomi, stigma terhadap perempuan lajang tetap kuat. Banyak perempuan yang memilih tidak menikah atau tidak punya anak justru dianggap egois atau tidak feminim.
Dalam semua konteks ini, gagalnya perempuan tidak selalu ditentukan oleh dirinya sendiri—melainkan oleh masyarakat yang memberi batasan terhadap makna berhasil.
Bagi Ayundri, memilih kuliah di Jakarta adalah langkah besar. Tapi juga langkah yang penuh pertanyaan. Ia bukan berasal dari keluarga berada, dan setiap semester berarti pertarungan finansial baru. Di masa-masa sulit, ia sering bertanya, “Kalau semua ini nggak berhasil, apakah aku sudah menyia-nyiakan semuanya?”
Namun seiring waktu, persepsinya terhadap kegagalan mulai berubah.
“Di Jakarta aku ketemu banyak orang dengan cerita yang beda-beda,” ujarnya.
“Ada yang kuliah sambil kerja, ada yang pernah drop out tapi bangkit lagi. Dan banyak dari mereka perempuan.”
Lingkungan yang lebih terbuka membuat Ayundri mulai melihat kegagalan bukan sebagai akhir, tapi sebagai ruang untuk belajar. Gagal tidak selalu buruk. Gagal bisa jadi proses. Dan gagal, sering kali, hanyalah soal waktu dan perspektif.
“Aku mulai ngerasa bahwa pulang bawa ijazah bukanlah kegagalan,” katanya. “Justru itu bukti bahwa aku berani mencoba—meski aku tahu bisa jatuh kapan saja.”
Dalam budaya yang sangat menghargai “jalan yang aman”, perempuan muda yang mengambil jalur berbeda sering kali dianggap mengambil risiko yang tidak perlu. Tapi justru dalam keberanian untuk gagal itulah, banyak perempuan menemukan jati dirinya.
“Kita perlu mengubah cara kita melihat gagal,” kata Diah Puspitasari, seorang sosiolog dari Universitas Indonesia. “Gagal menikah, gagal cepat mapan, bukanlah kegagalan hidup. Justru, sering kali, itu bagian dari keberanian perempuan untuk membentuk hidupnya sendiri.”
Menurut Diah, narasi sosial tentang perempuan sukses masih terlalu sempit: menikah muda, punya anak, tetap cantik, dan patuh. Perempuan yang menunda pernikahan, mengejar pendidikan, atau bahkan memilih untuk tidak menikah, masih kerap dianggap sebagai penyimpangan.
“Kegagalan seharusnya bukan tentang tidak memenuhi ekspektasi sosial, tapi tentang apakah kita menyerah pada diri sendiri atau tidak,” tambahnya.
Ruang Baru, Arti Baru
Kini, Ayundri berada di tahun terakhir kuliahnya. Ia sedang menyusun skripsi tentang representasi perempuan di media lokal. Ia belum menikah. Belum bekerja tetap. Dan masih sesekali diteror pertanyaan, “Udah ada calon?” Tapi ia sudah tak lagi merasa bersalah.
“Aku tahu aku masih di tengah proses. Dan itu nggak apa-apa,” katanya.
Ayundri adalah satu dari banyak perempuan muda di Asia yang sedang menulis ulang makna gagal. Dalam dunia yang kerap menuntut kesempurnaan dari perempuan, ia dan banyak lainnya sedang menunjukkan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya—melainkan pintu masuk menuju pemahaman diri, kebebasan, dan keberanian. (*)
Sumedang, Jawa Barat
*) Mahasiswi Jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta asal Depok, Indonesia. Ia memiliki sudut pandang unik terhadap isu-isu seputar perempuan, tekanan sosial, stigma tentang gender dan harapan lintas generasi.
Ia menulis dari pengalaman pribadi dan pengamatan budaya, dengan tujuan mengangkat suara perempuan muda Asia melalui narasi yang optimistis dan menggugah.