HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Indonesia, Retak Cakrawala dan Doa-Doa Padi

November 21, 2025 12:01
IMG-20251121-WA0048

Oleh : Nurul Jannah | Penulis

HATIPENA.COM – Di bawah gemuruh klakson dan desah angin ladang,
Indonesia berdiri: retak cakrawala bertaut dengan doa-doa padi.

Kota menjilat langit dengan gedung-gedung yang menyombongkan tinggi,
desa menyapu bumi dengan rumput basah dan azan yang menggetarkan sunyi.

Di setiap retak itu, aku mendengar Engkau, ya Rabb,
mendengar bumi merintih dan sekaligus bersyukur dalam satu nafas panjang.
Kota dan desa bukan dua sisi terpisah.
Mereka adalah dua nadi yang memompa kehidupan ke satu tubuh, Indonesia.

Ketika malam menelan lampu-lampu jalan,
dan kunang-kunang menyulut desa dengan cahaya kecil,
aku sadar, kemegahan tidak hanya bertakhta di beton,
tetapi juga dalam keringat petani
yang menunduk menciumi tanah seperti mencium rahmat dari langit.

Di sela bising pasar dan lengang pematang,
kita belajar bahwa negeri ini hidup karena kontrasnya.
Karena anak kota bermimpi menanam padi,
dan anak desa bermimpi menyalakan lampu-lampu kota.

Wahai Indonesia, meski cakrawalamu merekah oleh luka-luka zaman,
kau tetap menyalakan harapan dari seribu doa padi yang tak pernah padam.

Dari riuh jalan raya hingga sunyi pematang,
kami bersumpah, tak akan membiarkanmu runtuh oleh badai apa pun.

Karena di setiap tetes keringat dan setiap helaan napas, namamu terpatri bukan hanya di peta, melainkan di dada setiap jiwa yang mencintaimu.

Dan jika badai mencoba memadamkanmu,
kami akan menjadi pelita yang tak tunduk angin,
menjaga terangmu sampai akhir zaman. (*)

Jakarta, 21 November 2025

Berita Terkait