HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Jangan Katakan Bego pada Wanita, Apalagi pada Ratu Sejagat

November 7, 2025 09:15
IMG-20251107-WA0015

Rosadi Jamani | Penulis
Ketua Satupena Kalbar

HATIPENA.COM – Sesekali kita bicara yang bening dan glouwing. Taklah cerita korupsi, ijazah, whoosh mulu. Ini tentang harga diri wanita. Udah cantik-cantik, lho katain dia bego, selesai ente. Terjadi di ajang Miss Universe 2025. Ratu Sejagat asal Meksiko dikatain dumb, pambar sedunia, kata orang Pontianak. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Ada hal-hal yang tak boleh dilakukan seorang lelaki, bahkan di alam semesta paralel sekalipun, menyepelekan perasaan wanita, menyeberang jalan tanpa lihat kanan kiri, dan, ini yang paling fatal, mengucapkan kata “bego” pada seorang ratu sejagat di depan kamera global. Tapi Nawat Itsaragrisil tampaknya lahir untuk mencobanya semua dalam satu hari yang naas di Miss Universe 2025.

Ia berdiri gagah di atas panggung latihan, jasnya licin, rambutnya lebih kaku dari prinsipnya, dan mikrofon di tangannya bergetar seperti merasakan firasat buruk. Dengan nada dosen estetika yang kehabisan sabar, ia berkata, “Beberapa dari kalian tidak disiplin. Tidak memahami esensi Miss Universe.” Semua kontestan menahan napas, tapi suasana masih tenang, hingga jari telunjuknya mengarah tepat ke wajah Miss Meksiko, Fatima Bosch.

“You stand there like a dumb head. No elegance, no brain, no presence.”

Dunia berhenti. Bahkan bulu mata palsu pun enggan bergetar. Kata itu meluncur seperti peluru verbal, menembus gaun sutra dan menyasar jantung martabat. Fatima terpaku, matanya berkaca-kaca, bukan karena lemah, tapi karena perasaan paling lembut di dunia baru saja diinjak sepatu ego. Ia menarik napas panjang, menegakkan punggungnya, lalu berjalan pergi, anggun, walau hatinya terbakar seperti lilin di altar penghinaan.

Seketika tiga negara ikut bangkit, yakni Kolombia, Filipina, dan Vietnam. Gaun mereka berayun dalam solidaritas, heels mereka menghentak lantai seperti guntur yang membawa pesan, “Cukup.” Para kru panik, lampu goyah, kamera berputar, dan seseorang terdengar berteriak, “Respect!” Tapi tidak ada lagi yang bisa dihormati di ruangan itu. Yang tersisa hanyalah kebodohan yang disiarkan secara internasional.

Di luar, dunia mendidih. Tagar #StandWithMexico dan #JusticeForFatima menyalak di seluruh lini masa. Ribuan wanita menulis, “Kami tahu rasanya disebut bodoh hanya karena tak sesuai ekspektasi lelaki.” Seolah seluruh bumi tiba-tiba punya luka yang sama, bdihina, diremehkan, tapi tetap harus tersenyum di depan kamera.

Esoknya, Nawat muncul lagi, kali ini tanpa nyawa di matanya. “Saya tidak bilang dumb head, saya bilang damage,” katanya, seolah kebodohan bisa disembunyikan di balik ejaan. Tapi dunia bukan tuli. Rekaman berbicara. Bibirnya jelas, nadanya jelas, keangkuhannya bahkan lebih jelas. Ia bukan sedang memperbaiki, ia sedang menggali kubur untuk reputasinya sendiri.

Miss Universe Organization pun gemetar. Anne Jakrajutatip turun dari kursi CEO, digantikan Mario Búcaro yang masuk dengan wajah diplomat tapi aroma kebingungan. Sementara itu, Fatima menulis di media sosial, “Keanggunan bukan soal mahkota, tapi soal martabat.” Jutaan wanita mengangguk dalam diam, merasa kalimat itu seperti tangan lembut yang menyeka air mata mereka sendiri.

Kini dunia tahu. Wanita tidak meledak karena emosi. Mereka meledak karena harga diri. Mereka bukan gelas kaca yang rapuh, tapi cermin yang, bila kau pecahkan, akan memantulkan wajah kesalahanmu seribu kali lipat.

So, jangan pernah katakan “bego” pada wanita. Karena di balik senyumnya, ada badai yang bisa menenggelamkan seluruh panggung dunia. Jika yang kau hina adalah seorang ratu sejagat, maka bersiaplah, bukan hanya mahkota yang jatuh, tapi juga peradaban sopan santunmu sendiri.

Mahkota jatuh di tengah cahaya,
Lidah tajam menusuk sukma,
Jangan sebut bego pada wanita,
Karena diamnya bisa mengguncang dunia.

Air mata bukan tanda lemah,
Tapi nyala harga diri yang suci,
Jika kau hina ratu di hadapan semesta,
Bersiaplah malu sepanjang hari. (*)

#camanewak

Foto AI hanya ilustrasi