HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Ketika Banjir Bandang Sudah “Bicara”

December 2, 2025 07:12
IMG_20251202_065547

Catatan Satire Rizal Pandiya | Kolumnis
Sekretaris Perkumpulan Penulis Satupena Indonesia Lampung

HATIPENA.COM – Beberapa netizen – mungkin dari Tapanuli – meluapkan keresahannya lewat sebuah narasi yang ia unggah bersama video mencekam, ada yang berdurasi singkat dan panjang, di platform media sosial. Dalam rekaman itu, ribuan potong kayu bergulung-gulung dibawa arus banjir bandang, menghantam apa saja yang dilewatinya—mulai dari jembatan, dinding rumah warga sampai fondasi harapan mereka.

Air datang membawa lumpur, batu, kayu, seperti alam sedang ngamuk karena sudah lama tidak “diajak bicara”. Setelah bandang berlalu, yang terlihat cuma sisa rumah yang roboh, puing, potongan kayu yang bergelimpangan. Ini bukan sekadar “alam”, melainkan ada tangan manusia yang tidak bertanggung jawab merusak hutan di hulu sungai.

Ini juga bukan intro sebuah sinetron atau efek spesial film Hollywood yang sengaja menghadirkan banjir. Ini bencana alam, kenyataan pahit yang muncul dari perbuatan manusia yang rakus dan tak pernah tahu batas.

Banjir gelondongan itu memang tidak bohong. Gelondongan kayu yang hanyut itu tentu tidak bisa disuap. Sungai pun tak bisa diajak meeting untuk persiapan jumpa pers. Kalau air bisa ngomong, pasti akan dia buka selebar-lebarnya. Tetapi kali ini yang dibuka bukan hanya pintu air, melainkan juga aib pemerintah sebuah rezim.

Ayo kita mulai dari pangkal cerita, pada dua hulu sungai, yaitu Batang Toru dan Sihaporas. Tadinya, daerah ini hijau, hening, dan damai, sebelum akhirnya menjadi berubah sebagai pusat pelatihan pembalakan ilegal di hutan Bolontuka. Banyak yang bilang para pembalak itu bekerja bagaikan ninja: tidak terdengar, tidak terlihat, dan diam-diam. Itu semua hoaks.

Mereka bukan seperti ninja, tetapi malah mirip seperti tukang kredit dengan sound system horeg yang berisik dan serampangan. Tapi anehnya, mereka tidak pernah terendus oleh aparat. Batang kayu yang ditebang itu bukan ranting cemara sebesar kelingking, yang bisa diangkut dengan sepeda motor. Ini batang kayu, yang jika dipeluk manusia, bisa kalah napas. Tapi ajaibnya penebangannya “tak terdeteksi” sama sekali.

Apa mungkin drone milik pemerintah sudah lowbatt? Apa mungkin satelit negara yang sedang cuti? Atau jangan-jangan semua matanya sedang dialihkan ke setumpukan amplop? Coba perhatikan, setiap muncul gelondongan kayu yang hanyut, pemerintah selalu tampil dengan lagak akting penuh kepura-puraan. Akting kaget. Akting bingung. Akting seakan-akan ini peristiwa pertama dalam sejarah pembalakan liar.

Padahal, gelondongan itu dibawa arus tidak cuma sekali. Sepertinya, setiap hujan turun, gelondongan itu punya jadwal rutin muncul. Seolah-olah para kayu itu punya kebiasaan tahunan.

Tapi anehnya, setiap terjadi banjir, para pejabat tetap saja pura-pura bingung, seperti orang yang sedang kehilangan sandal jepit, padahal dia pinjam sendiri beberapa hari lalu. Belum lagi gunung di Tuka yang dilubangi bagaikan roti bolu. Galian tambang ilegal masuk secara bar-bar, seperti bor gigi, tapi anehnya seperti tanpa SOP dan tidak peduli apakah akan menimbulkan bencana alam atau tidak.

Air sungai yang biasanya mengalir mengikuti arus, boleh jadi kini kebingungan. Jalur air seakan berubah menjadi jalur birokrasi. Di mana-mana menemui jalan buntu, tapi lubang galian yang dibuat serampangan dengan mudah ditemui. Akhirnya aliran air memilih jalur yang tidak biasa, menyusuri kampung-kampung.

Setiap kali terjadi banjir selalu masuk rumah penduduk, melalui dapur, ruang keluarga, dan ruang masa depan, tapi rakyat hanya bisa pasrah. Namun para pejabat selalu menyebutnya dengan “bencana alam” kemudian menjadi bencana manusia.

Tahukah bahwa hutan lindung itu kini bagaikan guru bijak yang sudah letih. Dia menyaksikan banyak pohon sahabatnya tumbang mengenaskan, hutan raya digergaji secara brutal dari dalam, tanah dicabik-cabik demi emas dan tambang lainnya, sementara air diperas hingga ke akar-akarnya. Akhirnya bencana pun mengirim pesan: banjir bandang bukan untuk menganiaya rakyat, melainkan menampar keras pemerintah yang selalu abai dengan kelestarian alam.

Jika saja hutan itu bisa bicara, mungkin dia akan berkata, “Kan sudah kubilang dari dulu… tapi kenapa kalian selalu sibuk membuat alasan!” Batang kayu, cabang dan ranting yang hanyut itu tak ubahnya bagaikan buku harian hutan, di mana setiap batangnya membawa cerita.

Siapa yang mengizinkan? Siapa yang menebang? Lalu siapa yang berlagak tidak tahu? Siapa sebenarnya yang tidak layak menjabat tapi masih saja bisa duduk nyaman? Pohon-pohon itu tidak pandai berdusta. Mereka itu tumbang penuh dengan luka bekas gergaji mesin. Tidak ada bekas angin, tidak ada bekas doa. Dan yang perlu diingat, tidak akan pernah ada pohon tumbang jika tidak ada ulah tangan manusia.

Coba bayangkan. Jembatan Anggoli yang biasa digunakan untuk menyeberangkan manusia, kini sudah berubah menjadi showroom kayu gelondongan ketika musim hujan tiba. Orang melintas tidak lagi melihat pemandangan sungai, melainkan menyaksikan kayu meranti premium yang bergelimpangan tersekat di lorong jembatan. Kalau saja jembatan ini punya Instagram, pasti feed-nya penuh dengan gambar foto kayu yang hanyut setiap tahun.

Jika saja sungai Batang Toru bisa bicara, Ia pun akan bertanya, “Bagaimana mungkin kayu gelondongan sebesar lengan Hulk bisa hanyut begitu saja dari hulu tanpa diketahui aparat yang berwenang?” Ya…, sungai tidak sedang menyindir, tidak juga sedang ceramah. Sungai hanya memberi fakta visual, bahwa kayu itu sangat besar yang sulit disembunyikan dalam saku celana.

Karena itu, tidak mungkin bisa lolos dari mata manusia yang disebut aparat, kecuali jika mata aparat itu sengaja ditutup dengan rupiah, dolar, ringgit atau apalah sebutan lainnya. Inilah yang membedakan banjir yang terjadi di Tapanuli dengan banjir alami.

Jika banjir alami membawa banyak lumpur, maka banjir di Tapanuli membawa fakta lapangan. Lumpurnya bisa saja dengan mudah dibersihkan, tapi buktinya? Nah, ini yang membuat para pejabat menjadi pujangga dadakan untuk mengarang bebas membuat alasan.

Banjir bandang kali ini tidak cuma menggeret batang kayu gelondongan, tetapi ia juga menggeret reputasi pemerintah hingga ke got yang paling kumuh. Kalau batang kayu saja bisa hanyut, maka jangan kaget jika kepercayaan rakyat juga ikut hanyut.

Usai banjir, rakyat tinggal membersihkan rumahnya dari lumpur. Tapi para pejabat itu harus membersihkan namanya dari tuduhan yang sulit dielakkan. Rakyat mungkin tidak bisa tidur semalaman karena sibuk bersih-bersih, tapi para pejabat tidak tidur karena sibuk untuk mencari alasan.

Rakyat sudah pasti kehilangan harta, tapi pemerintah sudah kehilangan wibawa, itu pun kalau masih ada. Tapi banjir kali ini bukan cuma air, bukan cuma gelondongan, bukan cuma lumpur, dan bukan cuma batu besar.

Banjir kali ini, tanpa disadari, juga membawa kebenaran yang pahit, yang selama ini ditutupi oleh amplop hasil transaksi di bawah meja. Kebenaran yang dikunci rapat di kantor kementerian, kebenaran yang ditikam dengan tanda tangan. Namun ketika di hulu banjir membuncah, hilir pun menangis terkena musibah.

Sibolga – Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara tidak cuma kebanjiran air bandang. Mereka juga kebanjiran barang bukti bahwa selama ini pemerintah telah abai. Untung saja barang bukti itu tak dapat disapu dengan karpet merah, dan tak bisa ditutup dengan pidato. Bukti itu juga tidak bisa lenyap hanya dengan ucapan pejabat, “Kami prihatin”. Satu-satunya yang hanyut bersama banjir dan hanyut bersama gelondongan batang kayu, yaitu wibawa pemerintah! (*)

Bandar Lampung, 2 Desember 2025
MakDacokPedom

Berita Terkait