Rissa Churria | Penulis
HATIPENA.COM – Sore itu selepas mengajar, saya bergegas menuju Stasiun Cibitung. Hari sudah mulai teduh, matahari condong ke barat, dan langit menampakkan warna lembayung yang hangat. Di tangan, saya membawa tas hitam bertuliskan “There is no God but Allah”, berisi laptop, handphone, dan charger — perlengkapan penting untuk rapat yang akan saya hadiri di Gelanggang Olahraga (GOR) Senen.
Saya naik kereta KAI Commuter dengan tujuan Stasiun Pasar Senen. Seperti biasa, kereta sore itu cukup ramai, namun tertib. Saya berdiri di dekat pintu sambil sesekali menatap peta rute KRL, memastikan urutan stasiun sebelum Senen.
“Setelah Sentiong berarti Senen,” saya bergumam, memastikan agar tidak terlewat.
Di sebelah saya ada kursi kosong, dan di situ saya meletakkan tas laptop untuk sesaat, karena tangan terasa lelah memegangnya sejak keluar dari sekolah.
Detik yang Menguji Kelengahan
Ketika kereta mulai melambat mendekati Stasiun Pasar Senen, saya bersiap turun. Dalam kepadatan penumpang sore itu, semua berlangsung begitu cepat. Saya mengambil tas punggung, memastikan kartu akses dan ponsel di tangan. Tapi dalam satu kelengahan kecil, tas laptop di kursi sisi kiri dekat pintu masih tertinggal.
Begitu pintu terbuka, saya melangkah keluar bersama arus penumpang. Namun baru beberapa langkah di peron, tiba-tiba hati saya seperti tersentak.
“Ya Allah, tas laptopku!”
Saya berbalik spontan, tapi kereta sudah menutup pintu. Dalam beberapa detik, ia melaju pergi, membawa serta barang penting saya — laptop, data pekerjaan, dan catatan-catatan rapat.
Pelaporan di Stasiun Pasar Senen
Saya segera menuju Pos Pelayanan KAI Commuter di Stasiun Senen. Di sana saya disambut ramah oleh petugas bernama Zaytol Wahyono H. Meski panik, saya berusaha tetap tenang menjelaskan kronologinya.
Petugas itu sigap menanyakan waktu kejadian, ciri-ciri tas, dan isi di dalamnya, lalu segera menuliskannya di Form Ticket Laporan Kehilangan. Prosesnya cepat, sistematis, dan tidak berbelit.
Saya sempat berpikir proses pencarian barang akan memakan waktu lama, tapi beberapa menit kemudian, petugas itu langsung memberi kabar yang sungguh melegakan:
“Bu Rissa, tasnya sudah ditemukan. Saat ini ada di Stasiun Kemayoran. Bisa langsung diambil, ya.”
Saya menatapnya tak percaya, lalu tersenyum lega. Rasanya luar biasa menyadari bahwa dalam hitungan menit, barang saya sudah terlacak.
Pengambilan Barang di Stasiun Kemayoran
Tanpa menunda waktu, saya berangkat ke Stasiun Kemayoran, hanya satu stasiun setelah Senen. Setibanya di sana, saya langsung disambut petugas Raihan, yang dengan ramah sudah menyiapkan Form Pengambilan Barang.
Semua proses berjalan dengan cepat dan tertib. Identitas saya diverifikasi, formulir laporan dicocokkan, dan beberapa saat kemudian, tas laptop hitam saya kembali ke tangan.
Saya menatap tas itu lama — bukan sekadar barang, tapi saksi betapa profesional dan tulusnya pelayanan yang saya terima sore itu.
Petugas Raihan tersenyum dan berkata pelan,
“Alhamdulillah, Bu, barangnya ketemu dan aman. Semoga tidak ketinggalan lagi ya.”
Saya hanya bisa mengangguk, tersenyum penuh rasa syukur.
Makna di Balik Peristiwa
Sore itu, saya bukan hanya mendapat kembali laptop saya, tapi juga pelajaran berharga tentang kecepatan dan ketulusan pelayanan publik. KAI Commuter membuktikan bahwa mereka tidak hanya mengantarkan penumpang dari satu stasiun ke stasiun lain, tetapi juga menjaga rasa aman dan kepercayaan para pengguna jasanya.
Prosesnya cepat, sigap, dan transparan — tanpa birokrasi rumit.
Mulai dari laporan di Stasiun Senen hingga pengambilan di Stasiun Kemayoran, semuanya berlangsung kilat dan terpercaya.
Refleksi di Ujung Perjalanan
Dalam perjalanan pulang malam itu, saya terdiam di kursi kereta, menatap jendela yang memantulkan cahaya lampu kota. Saya berpikir,
“betapa hal kecil seperti kecepatan dan empati dari seorang petugas bisa meninggalkan kesan yang begitu besar.”
Mereka bukan hanya bekerja karena kewajiban, tapi karena rasa tanggung jawab dan kemanusiaan.
Kisah ini akan selalu saya kenang — bukan sebagai cerita kehilangan, tapi sebagai cerita tentang profesionalisme dan kejujuran yang nyata.
Alhamdulillah terima kasih ya Lelah, terima kasih untuk seluruh petugas KAI Commuter, khususnya di Stasiun Pasar Senen dan Kemayoran,
yang telah bekerja dengan hati, dengan kecepatan, dan dengan semangat melayani.
Sore itu saya belajar satu hal:
“Allah Maha Baik. Bahwa setiap perjalanan, bahkan yang disertai kehilangan, bisa menjadi pelajaran indah tentang kepedulian dan kepercayaan.” (*)