Oleh Amelia Fitriani
HATIPENA.COM – Saya tidak sekadar ikut event lari, melainkan ikut melebur dalam satu narasi besar untuk menghidup-hidupkan semangat kebudayaan. Ini merupakan kesan yang saya dapatkan saat mengikuti Mangkunegaran Run 2025 di Solo tanggal 19 April 2025 lalu. Bagi saya, event ini sudah terasa berbeda sejak awal. Karena bukan sekadar kegiatan olahraga, melainkan juga peristiwa budaya yang dirangkai dengan visi kepemimpinan Mangkunegara X, yaitu Culture-Future.
Hal yang pertama kali menarik perhatian saya adalah bagaimana nama “Mangkunegaran” tidak hanya ditempatkan sebagai label kegiatan, tetapi benar-benar terasa sebagai ruh dari keseluruhan konsep acara. Sebagai contoh, jersey resminya dirancang dengan apik, sarat nilai budaya dan filosofis serta dipromosikan dengan masif. Jersey dibuat dengan ragam elemen yang menggambarkan spirit keprajuritan, culture, future dan harmoni, sebagaimana yang terkandung dalam semangat Mangkunegaran.
Di lengan kiri dari jersey itu dimuat simbol “culture”, berupa garis vertikal dengan warna pareanom yang merepresentasikan budaya, kepangkatan, dan ketegasan ala militer. Juga dimuat simbol “future”, berupa lingkaran kuning dalam segiempat hijau yang melambangkan angka biner, dasar dari teknologi modern. Di titik ini, saya merasakan betapa kuatnya pesan yang ingin disampaikan bahwa masa depan bisa tumbuh dari akar budaya yang kokoh.
Selain jersey, medali untuk pelari juga dibuat dengan menarik. Bentuknya terinspirasi dari lencana prajurit Legiun Mangkunegara, dan lanyard-nya dibuat menyerupai samir para Abdi Dalem. Rancangan medali itu menimbulkan kesan pada saya, sebagai pelari yang berpartisipasi, seakan telah menjadi bagian dari sebuah perjuangan, layaknya prajurit yang menyelesaikan misi. Jersey dan medalinya ini berhasil menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelari untuk menjadi item yang wajib dikoleksi, termasuk saya.
Di samping nilai budayanya yang kental, penyelenggaraannya pun terasa well-organized. Penyelenggara mampu menjaga keteraturan kegiatan dari awal hingga akhir. Mulai dari pendaftaran, racepack collection, pelaksanaan hingga akhir kegiatan. Saya paham ini bukan hal yang mudah mengatur lalu lintas peserta lari yang kabarnya mencapai 5 ribu orang itu.
Kegiatan lari ini sendiri dibuat dengan tiga kategori, half marathon, 10K dan 5K. Saya sendiri ikut di kategori 5K, kategori dengan peserta terbanyak. Saya terkesan dengan rute lari yang saya tempuh. Rute dibuat tidak membosankan dengan adanya beberapa spot pemberhentian menarik, ada spot konsumsi gula-gula, spot minum, mirror selfie, hiburan jalanan, hingga cheerleader. Tidak ketinggalan, ada juga puluhan fotografer yang siap siaga mengambil momen di sepanjang rute lari, membuat saya terus memasang senyum paling manis selama berlari, kalau-kalau ditangkap kamera.
Momen yang tidak kalah menyenangkan adalah ketika saya berpapasan dengan kereta Batara Kresna di tengah rute. Rasanya seperti berlari dalam dimensi waktu yang menyatukan masa lalu dan masa depan. Kereta ini ikonik, karena melaju di rel yang menyatu dengan jalan raya, tepatnya di Jalan Slamet Riyadi. Momen seperti ini tidak akan saya dapatkan selain di Kota Solo.
Selain kegiatan lari, Mangkunegaran Run 2025 juga dipadupadankan dengan kegiatan lain yang digelar di Pamedan, Pura Mangkunegaran yakni bazaar kuliner yang mengangkat tema “Makan Makan” dan juga konser musik yang mengangkat tema “Laras Hati”. Dengan demikian, pelari seperti saya yang sengaja datang ke Solo demi mengikuti kegiatan lari merasa tidak sia-sia, karena dimanjakan dengan ragam kuliner lokal, hiburan tradisional dan modern serta pengalaman budaya yang tidak biasa.
Saya mengapresiasi keseluruhan pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Karena saya paham, bukan hal yang mudah untuk memadupadankan konsep kegiatan kekinian dengan kegiatan budaya yang bisa menarik atensi ribuan orang. Saya teringat pada pengalaman saya ikut serta merancang dan menjalankan Wara Wiri Feskraf yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada 24–26 November 2023 lalu.
Pada saat itu, bersama Uni Sastri Bakry, penyair dan birokrat kawakan dari Sumatera Barat, kami mencoba menghidupkan ragam kegiatan budaya dan literasi dengan konsep festival. Di antara kegiatan utama yang dibuat antara lain adalah Orkestra Perkusi Nusantara oleh Gilang Ramadhan, Main Kim Wara Wiri, lomba tari kreasi dan qashidah serta talkshow, bedah buku, konser musik serta bazar kriya dan kuliner nusantara.
Bukan hal yang mudah, meski juga tidak mustahil, membuka ruang-ruang kegiatan yang memiliki daya tarik untuk mengenal dan memahami lebih dalam kebudayaan Indonesia. Sebagaimana Mangkunegaran Run 2025, ruh dari Wara Wiri Feskraf 2023 lalu juga adalah semangat untuk menghidup-hidupkan dan memperkuat identitas dan nilai kebudayaan tanah air yang kaya di era kekinian. Ruh dan spirit yang sama saya nantikan untuk diterjemahkan dalam ragam kegiatan menarik lainnya di masa mendatang. (*)