Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya |Penulis
HATIPENA.COM – Puncak Galungan telah berlalu. Hari ini, Kamis Manis Galungan, suasana menjadi lebih ringan, napas terasa lebih lega.
Setelah hari kemenangan dharma melawan adharma dirayakan dengan khidmat, tibalah waktunya untuk rekreasi: berleha-leha, mapelesiran, menengok dunia luar yang sejak kemarin diredam kesibukan yang padat.
Saya merayakan Galungan di Singaraja, pertanyaanya: “Di mana tempat mapelesiran di Den Bukit?”
Jawaban teman-teman mengalir seperti cerita yang sudah diwariskan turun-temurun. Ada Air Sanih di Buleleng timur, kolam alami yang sejak dulu menjadi legenda pertemuan air jernih dari gunung bertemu dengan air laut di pinggir pantai. Suasananya sangat meneduhkan.
Ada pemandian air panas di Banjar, tempat warga Buleleng barat melepaskan lelahnya. Ada juga pantai Lovina dengan lumba-lumbanya, juga Pantai Penimbangan tempat mengambang karena kadar garamnya yang tinggi, dan tentu saja pelabuhan tua Buleleng—ikon sejarah yang tak pernah benar-benar mati.
Bagi warga desa, turun ke kota Singaraja sudah menjadi rekreasi tersendiri. Taman kota menjadi panggung keluarga; anak-anak berlari, pedagang menjajakan makanan, denting lampu kota memantulkan rasa pulang. Kuliner ala kota pun melengkapi daftar plesiran: mie kober, gacoan, KFC, McDonald—Singaraja, meski bukan Denpasar, kini cukup lengkap untuk memenuhi selera lintas generasi.
Dalam hiruk-pikuk tamasya itu, bukan hanya umat Hindu yang mendapat berkah. Pedagang dari berbagai daerah ikut merasakan denyut hidup. Ekonomi berputar karena manusia saling membutuhkan. Hidup memang tak pernah berdiri sendiri.
Tentang hidup saling membutuhkan, ingatan saya tiba-tiba melayang seminggu lalu, pada video yang beredar sebelum Galungan: tampak seorang perempuan non-Hindu membuat canang, sarana upakara yang begitu akrab bagi umat Bali.
Ada saja yang mencoba memprovokasi: seolah pekerjaan suci ini “diambil” oleh orang luar Bali. Seolah identitas hanya bisa bertahan dengan cara menutup diri.
Padahal hidup tidak sesempit itu. Saya membayangkan: Andai janur dan selepahan tidak datang dari luar Bali, umat Hindu mebanten menggunakan busung apa? Andai pisang dari Lombok, Flores, dan Jawa tak mengalir ke pasar-pasar Bali, bagaimana mungkin sarana bebantenan yang mewajibkan pisang bisa terpenuhi? Betapa mahalnya harga pisang jika permintaan tidak sebanding dengan penawaran.
Hidup adalah jalinan kebutuhan yang saling menyempurnakan. Dari sarana upacara hingga keberlangsungan ekonomi, kita terikat dalam hubungan mutualistis: saling mengisi, saling menopang, saling menghidupkan.
Jangankan antar pulau—antar negara pun demikian. Dunia tidak pernah berdiri sebagai pulau-pulau egois; dunia berdiri sebagai jembatan-jembatan yang tak terlihat.
Karena itu, berhati-hatilah mereka yang gemar melempar provokasi. Terutama mereka yang menggunakan isu SARA sebagai panggung sesaat menaikkan elektabilitas dengan memakai kata “sukla” sebagai tameng sektarian. Bali hidup damai bukan karena semua seragam, tetapi karena perbedaan dijaga, diterima, dirangkai menjadi harmoni.
Pada Manis Galungan ini, barangkali renungan kita sederhana: jika dharma menang melawan adharma, maka tugas kita hari ini adalah menjaga kemenangan itu dalam perilaku—mencegah api kecil provokasi menjadi kabut pekat permusuhan. Kita tak boleh hidup mencekam saling deeng, kita harus pakedek pakenyem dengan damai.
Bali telah lama berdiri di atas damai. Jangan biarkan siapa pun—apalagi karena sensasi—meretakkannya. Kita hidup saling membutuhkan, seperti manis Galungan hari ini. Dagang bakso itu pasti senang karena dagangannya laris manis diborong saudaranya umat Hindu yang mapelesiran. (*)
Singaraja, 20 November 2025