Oleh Wayan Suyadnya | Sastrawan
HATIPENA.COM – Sebuah pesan beredar di WhatsApp datang pada pagi Manis Kuningan, 30 Nopember 2025.
Singkat, namun terasa seperti cahaya tipis menembus hati: “Menolong tanpa syarat, menerima tanpa melupakan, dan memberi tanpa mengingat.” —Wayan Koster
Belum selesai gema kalimat itu meresap, pesan kedua menyusul: “Proses menuju penyatuan jiwa dan raga dengan alam semesta, syarat mutlak mampu menghilangkan egoisme dan berbagai keterikatan.”
Pada hari itu, Bali baru saja melalui rangkaian suci Galungan–Kuningan. Dupa nyaris habis sebatang, apinya telah mengecil, banten mulai dirapikan, doa selesai diucap.
Namun, justru setelah ritual berhenti, dua pesan itu seperti membuka pintu perenungan yang lebih luas, lebih gelisah, lebih manusia.
Di Sumatera, alam sedang memperlihatkan wajah murkanya. Banjir dan tanah longsor menelan rumah, mengubah desa menjadi genangan kecemasan. Tangis berbaur dengan lumpur, doa berbaur dengan deru hujan yang belum berhenti.
Di Bali sendiri, hanya beberapa bulan sebelumnya—tepatnnya 10 September 2025 bertepatan dengan Pagerwesi—air bah menerjang beberapa wilayah Bali.
Tukad Ayung yang selalu kita anggap teman, tiba-tiba airnya meluap, ia menjadi ancaman. Dari sini kita belajar bahwa alam tidak sekadar dilestarikan lewat slogan, tapi harus dihormati dengan tindakan yang sungguh-sungguh.
Di tengah rentetan bencana itulah pesan murdaning jagat Bali itu menemukan konteks paling nyata: ketika alam menguji, manusia harus saling menguatkan, bergotong-royong, menolong tanpa syarat bukan lagi teori moral, melainkan kebutuhan mendesak untuk bertahan sebagai sesama manusia.
Galungan–Kuningan mengajarkan kemenangan dharma atas adharma. Namun dalam dunia hari ini, yang kita hadapi bukan lagi raksasa dalam cerita, melainkan keserakahan yang membungkus diri sebagai kemajuan.
Ego manusia yang tak berhenti menebang, menimbun, menguasai—hingga alam kehilangan kesabaran.
Bencana, mungkin, adalah cara alam mengingatkan: Bahwa penyatuan jiwa dan raga dengan semesta tidak akan pernah tercapai selama manusia memusuhi tanah yang menghidupinya.
Ketika dupa terakhir padam, justru kesadaran harus menyala lebih terang. Apakah kita benar-benar telah menjadi lebih ringan setelah semua upacara itu? Atau semua hanya menjadi ornamen sakral yang diletakkan kembali ke lemari saat air mulai surut?
Penjor yang mulai condong seperti menunduk pada kenyataan: kita tidak sedang baik-baik saja. Namun dalam ketidakstabilan itulah spiritualitas diuji, bukan saat semua tampak aman dan tertata.
Gubernur Koster, di hari suci yang lembut ini, memilih berbicara tentang nilai, bukan kekuasaan. Tentang ikhlas, bukan ambisi. Tentang merawat kehidupan, bukan sekadar membangun infrastruktur.
Bali menutup rangkaian sucinya bukan dengan sorak-sorai, melainkan dengan ingatan bahwa alam sedang berbicara keras di luar sana.
Sumatera menangis, Bali pernah tersendat oleh banjir, dan dunia sedang meminta manusia untuk kembali belajar rendah hati.
Pada Manis Kuningan ini, kita seperti diingatkan oleh dua pesan ringkas itu: Bahwa ritual suci tidak selesai di pura, tetapi dimulai saat kita keluar dari pura.
Menolong, bergotong royong, menerima, dan memberi—tanpa syarat dan tanpa hitungan— adalah ibadah yang tidak mengenal kalender.
Dan alam semesta, dalam setiap gemuruh dan tetes air matanya, sedang menagih janji spiritual manusia: untuk tidak lagi menjadi pusat dunia, melainkan bagian dari dunia. (*)
Denpasar, 30 Nopember 2025