HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Mengantar Kepergian Penyair Dharmadi

November 15, 2025 08:17
IMG_20251115_081218

Sebuah Obituari

Gunoto Saparie | Penulis
Ketua Satupena Jawa Tengah

HATIPENA.COM – Berita itu datang pada malam yang ganjil, malam ketika udara Purwokerto, yang biasanya jinak, tiba-tiba seperti menahan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Dharmadi, penyair yang bertahun-tahun menghiasi ruang kecil kesusastraan kita, menghembuskan napas terakhir di RS Margono Purwokerto, Kamis, 13 November 2025, pukul 22.49 WIB.

Ada kesunyian yang terasa berbeda ketika seorang penyair pergi; seolah satu huruf dalam alfabet manusia tiba-tiba hilang, dan kita dipaksa membaca dunia tanpa keutuhan tanda-tandanya Ia lahir pada 29 September 1948. Tujuh puluh tujuh tahun kemudian, ia pergi dengan cara yang sangat Dharmadi: pelan, santun, seperti jeda panjang dalam sebuah puisi yang tak pernah ingin menuntut perhatian berlebihan.

Ia penyair yang tak pernah membuat keributan, tetapi selalu membuat jejak. Dan jejak itu, entah bagaimana, lebih awet ketimbang suara keras banyak orang pada zamannya.

Sejak tahun 1970-an, namanya telah muncul di media cetak: koran, majalah, buletin komunitas sastra. Ia menulis seperti orang menyiram tanaman: rutin, tenang, tanpa pamrih. Puisi bukanlah alat, bukan pula ambisi. Bagi Dharmadi, puisi adalah cara bernapas, cara berdamai dengan kesunyian yang diam-diam menyelinap di balik hidup yang tampak sederhana.

Ia menerbitkan sejumlah buku puisi tunggal dan ikut pula dalam banyak antologi bersama. Namun lebih dari katalog karya, yang paling mengesankan adalah kesetiaannya pada puisi, bahkan ketika puisi tak lagi dianggap penting oleh banyak orang.

Saya mengenalnya bukan semata sebagai penyair, tetapi sebagai seorang sahabat. Perjumpaan kami selalu terasa seperti pertemuan dua orang yang sedang mendengarkan sesuatu di kejauhan, mungkin gema puisi, mungkin juga kehidupan itu sendiri.

Ia sering mengundang saya ke Purwokerto, menghadiri acara-acara sastra yang ia rancang dengan cara yang tak pernah riuh, tetapi selalu hangat. Di kota itu, Dharmadi seakan menjadi poros kecil yang menggerakkan lingkaran diskusi, pembacaan puisi, dan percakapan-percakapan panjang yang kadang selesai larut malam.

Sebaliknya, ia juga sering datang ke Semarang. Biasanya ia muncul tanpa banyak pemberitahuan, hanya mengirim kabar singkat bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju satu acara puisi, atau sekadar ingin bertemu teman-teman lama. Saya ingat benar bagaimana ia duduk pada sebuah malam pembacaan puisi di Semarang, masih dengan senyum yang lebih menyerupai garis sabar ketimbang ekspresi. Ia tak pernah menjadi pusat perhatian, tetapi kehadirannya justru membuat sebuah ruangan terasa tidak kosong.

Kami beberapa kali bertemu pula di Yogyakarta, Tegal, Jakarta; di kota-kota tempat bahasa Indonesia seperti kembali mencari rumahnya. Dalam acara-acara itu, Dharmadi biasanya duduk agak di belakang, mencatat sesuatu dalam buku kecil, kadang tersenyum sendiri pada satu baris puisi yang melintas. Seakan ia selalu menyimpan jarak kecil antara dirinya dan keramaian: jarak yang justru membuatnya mampu melihat sesuatu yang orang lain lewatkan.

Saya pernah beberapa kali diminta untuk membahas puisi-puisinya dalam sejumlah forum. Dan setiap kali itu terjadi, saya merasa sedang berbicara tentang seseorang yang diam-diam menulis dari dalam ruang sunyi. Puisi-puisinya menyimpan kesederhanaan yang tak selalu sederhana; ia menulis dengan bahasa yang bersih, menghindari metafora yang berlebih, namun membiarkan pembaca tersentuh oleh sesuatu yang tak terucap. Ada ketenangan yang sering menipu: seolah puisi itu mudah, padahal ia menyembunyikan lapisan-lapisan kepekaan yang hanya muncul ketika dibaca perlahan.

Dharmadi kerap menulis tentang keseharian: tentang perjalanan kecil, tentang tubuh yang menua, tentang waktu yang mengendap di sela-sela kehidupan. Namun ia tidak pernah terjebak dalam sentimentalitas. Kekuatan puisinya justru terletak pada keheningan yang memancar dari hal-hal kecil.

Ia seperti percaya bahwa dunia tak selalu perlu diteriaki; kadang cukup disentuh dengan kalimat pendek, yang kemudian membesar menjadi makna di kepala pembaca.

Dalam kehidupan sehari-hari, Dharmadi memiliki kebiasaan yang tampaknya sederhana, tetapi justru di sanalah letak kemanusiaannya. Ia gemar memijat teman-teman penyair yang sedang tidak enak badan. Kebiasaan itu terasa begitu kontras dengan citra penyair yang sering dianggap hidup dalam dunia abstrak.

Dharmadi, sebaliknya, merawat persahabatan dengan cara yang begitu praktis: dengan dua tangan yang pelan, hangat, dan penuh perhatian. Barangkali ia tahu bahwa tubuh seorang penyair pun, sesekali, membutuhkan sentuhan selain kata-kata.

Dalam sebuah pertemuan di Tegal, saya melihatnya memijat bahu seorang penyair muda yang mengeluh pegal. Gerakannya begitu alami, seolah itu bagian dari ritual persahabatan. Si penyair muda tertawa, kemudian kembali membaca puisinya dengan lebih lega. Dan Dharmadi, seperti biasa, hanya tersenyum tipis.
Kebiasaan kecil seperti itu, yang mungkin tak pernah tercatat dalam biografi resmi, justru memperlihatkan sisi dirinya yang paling jujur. Bahwa kepenyairan bukan hanya persoalan estetika; ia juga perihal kedekatan, kebaikan, dan perhatian terhadap sesama manusia.

Perjalanan kepenyairan Dharmadi tak selalu mudah, tetapi ia tetap berjalan. Ia meraih beberapa penghargaan; pengakuan bahwa suaranya didengar, meski ia sendiri tak pernah berusaha mengeraskan suara. Penghargaan-penghargaan itu datang seperti surat-surat kecil yang berusaha menyampaikan bahwa puisinya mengendap di benak banyak orang. Namun bagi Dharmadi, yang saya kenal, penghargaan barangkali hanya sebuah tanda pinggir, bukan tujuan.

Yang ia jaga adalah kekonsistenan: terus menulis, terus hadir, terus menjadi bagian dari percakapan panjang tentang sastra Indonesia. Ia bukan nama yang muncul seperti meteor, sebentar terang lalu hilang. Ia lebih menyerupai lampu kecil di beranda rumah: tidak menyilaukan, tetapi selalu ada, dan terus menerangi jalan pulang bagi siapa pun yang mengenalnya.

Ciri khas puisinya dapat diringkas sebagai kesederhanaan yang mengandung kedalaman. Ia lebih memilih kata-kata bersih, kalimat pendek, nada lirih. Namun justru di situlah kekuatannya. Puisinya menolak pretensi, menolak teriakan. Ia menulis seperti orang yang telah berdamai dengan hidup, dan mungkin juga dengan kehilangan.

Dalam beberapa puisinya, ia memberi ruang bagi jeda. Jeda itu bukan kekosongan; ia adalah bagian dari makna. Seolah Dharmadi ingin menunjukkan bahwa kadang hal terpenting dalam hidup bukan apa yang dikatakan, tetapi apa yang sengaja dibiarkan tak diucapkan.

Kini, ia dimakamkan hari Jumat ini, diberangkatkan dari rumah duka di Jalan Sitihinggil, Purwokerto Timur; sebuah alamat yang tiba-tiba berubah menjadi penanda terakhir bagi perjalanan panjangnya. Ada sesuatu yang hening ketika sebuah alamat berubah dari tempat perjumpaan menjadi tempat perpisahan.

Namun barangkali Dharmadi akan tersenyum, bila ia masih sempat melihat semua ini: orang-orang yang mengingatnya bukan hanya sebagai penyair, tetapi sebagai sahabat yang baik, sebagai tangan yang memijat teman yang sakit, sebagai orang yang duduk pelan di tengah keramaian acara sastra.

Kini, ia telah kembali ke sunyi. Tetapi puisi, yang selalu ia rawat seperti cahaya kecil, akan terus berjalan, mencari pembacanya yang baru.
Semoga ia mendapatkan tempat terbaik. Semoga amal kebaikannya diterima. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Karena seorang penyair mungkin pergi, tetapi kata-katanya tidak. Kata-kata itu akan tetap menjadi lintasan kecil yang menerangi langkah banyak orang, lama setelah sang penulisnya beristirahat. (*)

Berita Terkait