HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Mengapa Masjid An-Nur Tidak Boleh Kita Abaikan?

November 14, 2025 12:32
IMG-20251114-WA0051

HATIPENA.COM – 1. Pendahuluan: Masjid sebagai Penjaga Ingatan Kolektif

    Masjid adalah ruang ibadah, tetapi juga lebih dari itu: ia adalah arsip hidup dari perjalanan sebuah masyarakat. Masjid menyimpan jejak nilai, kerja kolektif, solidaritas, dan gagasan tentang dunia yang ingin dibangun oleh para pendirinya. Masjid An-Nur Delung Tue, sebagai salah satu masjid tua di dataran tinggi Gayo, bukan hanya bangunan sakral—tetapi sebuah pusat peradaban kampung yang menentukan arah budaya dan spiritualitas warganya.

    Mengabaikan masjid ini sama artinya dengan membiarkan ingatan kolektif kita terputus. Ketika ingatan hilang, identitas melemah, dan masyarakat akan kesulitan memahami dirinya sendiri.

    1. Nilai Historis: Masjid sebagai Titik Awal Peradaban

    Masjid An-Nur berdiri bukan sekadar karena kebutuhan ritual, melainkan karena adanya kesadaran komunitas. Para pendiri masjid—Tgk Empun Riem, Tgk Aman Lai, Tgk Imem, Tgk Aman Reje Guru, Tgk Jemala, dan Tgk Saat—adalah tokoh yang melihat hubungan antara ibadah, pendidikan, dan ketahanan budaya.

    Dalam sejarah Nusantara, masjid sering menjadi:
    • pusat musyawarah,
    • tempat menyelesaikan sengketa,
    • ruang belajar Al-Qur’an,
    • titik awal aktivitas sosial dan ekonomi.

    Tanpa masjid, kampung kehilangan poros kebudayaan.
    Dengan masjid, kampung memiliki jangkar yang menjaga arah zaman.

    Masjid An-Nur adalah jejak dari kesadaran historis itu—dan jejak seperti ini harus dipelihara agar generasi berikut tidak tercerabut dari akarnya.

    1. Nilai Sosial: Gotong-Royong sebagai Identitas Gayo

    Menurut kesaksian seorang ibu Zubaidah masjid ini dibangun melalui gotong royong. Warga kampung berangkat ke hutan mencari kayu, membawa bekal sederhana: air dalam botol, onde-onde, lepat, kadang hanya ubi rebus. Tidak ada satu pun yang bekerja demi pujian; semua bergerak karena kebutuhan bersama.

    Model gotong royong seperti inilah yang membedakan masyarakat Gayo. Masjid tumbuh bukan dari kekayaan seorang saudagar, tetapi dari tenaga, waktu, dan cinta warga kampung. Mungkin ada tokoh yang menyumbang lebih banyak, mungkin ada peran seorang ayah saudagar yang oleh sebagian orang diingat dan oleh sebagian lain terlupa. Namun esensi sejarah tetap sama:

    Masjid ini lahir dari kerja kolektif, bukan dari dominasi satu tangan.

    Inilah nilai sosial yang sangat berharga. Jika masjid An-Nur diabaikan, maka kita sekaligus mengabaikan nilai gotong royong yang membentuk Gayo sebagai komunitas.

    1. Nilai Pendidikan: Masjid sebagai Ruang Mewariskan Ilmu

    Di banyak kampung Gayo, khususnya sebelum tahun 1970-an, masjid adalah sekolah pertama. Anak-anak belajar mengenal huruf Arab, belajar membaca Al-Qur’an, menghafal doa, bahkan belajar adab dan sopan santun.

    Di Masjid An-Nur:
    • anak-anak belajar iqra’ di tikar pandan,
    • guru mengajar dengan suara lembut,
    • para pendiri masjid hadir secara simbolik dalam setiap pelajaran,
    • dan generasi baru tumbuh dari ruh lama yang terus diwariskan.

    Jika masjid seperti ini dibiarkan merapuh, maka runtuh pula sistem pendidikan dasar kampung yang tidak tergantikan oleh sekolah formal.

    1. Nilai Spiritual: Masjid sebagai Sumber Ketabahan dan Keteduhan

    Masjid An-Nur tidak hanya menjadi tempat salat, tetapi juga tempat:
    • mengisi hati ketika hidup terasa berat,
    • mencari ketenangan ketika dunia bergerak terlalu cepat,
    • kembali merasa pulang setelah merantau jauh,
    • mengakui kecilnya diri di hadapan Yang Maha Besar.

    Masjid tua seperti ini memiliki “auranya” sendiri. Kayu, batu, dan tanahnya telah menyerap ribuan sujud dan doa dari para pendahulu. Setiap sudutnya seperti menyimpan zikir yang tidak pernah padam.

    Jika masjid ini diabaikan, kita kehilangan ruang spiritual yang tidak bisa diganti oleh bangunan batu modern mana pun.

    1. Nilai Kultural: Masjid sebagai Simbol Identitas Gayo

    Masjid An-Nur merekam struktur sosial masyarakat Gayo:
    • kedudukan pengulu, sarak opat,
    • relasi ulama dengan rakyat,
    • ritus keagamaan seperti khanduri, tadarus Ramadan,
    • dan tradisi belajar-mengajar yang berlangsung lintas generasi.

    Mengabaikan masjid berarti mengabaikan bahasa simbolik yang membedakan Gayo dari masyarakat lain. Masjid adalah marker identitas budaya.

    1. Jika Masjid An-Nur Diabaikan: Apa yang Hilang?

    Jika kita membiarkan masjid ini merosot, yang hilang bukan hanya bangunannya, tetapi juga:
    1. Ingatan sejarah para pendiri.
    2. Identitas sosial gotong royong.
    3. Pusat pendidikan kampung.
    4. Ruang spiritual tempat masyarakat berteduh.
    5. Simbol budaya Gayo yang menjadi penanda sejarah.

    Dalam kajian antropologi, hilangnya pusat spiritual selalu diikuti oleh hilangnya solidaritas sosial. Masyarakat menjadi rapuh, tidak punya poros, dan mudah dipatahkan oleh perubahan zaman.

    1. Penutup: Tanggung Jawab Kita Hari Ini

    Masjid An-Nur Delung Tue adalah warisan yang bukan hanya harus diingat, tetapi harus dijaga. Merawat masjid berarti merawat:
    • sejarah,
    • pendidikan,
    • budaya,
    • iman,
    • dan arah hidup kampung.

    Mengabaikannya sama dengan mengabaikan diri kita sendiri.

    Karena itu, kita berkewajiban bukan hanya mencatat sejarah masjid ini, tetapi juga memastikan ia tetap hidup—dengan doa, dengan kegiatan pendidikan, dengan kepedulian warga, dan dengan narasi yang terus kita tulis agar generasi mendatang tidak kehilangan jejak cahaya para pendiri. (*)