HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Mengenal Peter Berkowitz, Sosok Pro Israel di Balik Goyangnya Kursi Gus Yahya

November 23, 2025 19:52
IMG-20251123-WA0059

Rosadi Jamani | Penulis
Ketua Satupena Kalbar

HATIPENA.COM – Sebelum nama Peter Berkowitz menjadi bahan bakar perdebatan nasional, sejujurnya tak banyak orang Indonesia yang mengenalnya. Ia bukan artis tiktok, bukan penceramah viral, dan jelas bukan pengisi tetap acara manaqib akbar. Ia hanyalah seorang akademisi konservatif yang hidup di antara buku-buku tebal, jurnal ilmiah, dan rapat-rapat yang baunya lebih mirip tinta printer dari bau minyak kasturi.

Berkowitz lahir dari keluarga Yahudi di Illinois, belajar di Swarthmore, lanjut ke Hebrew University of Jerusalem, lalu menyelesaikan PhD dan JD sekaligus di Yale. Kariernya berlapis-lapis, dari senior fellow di Hoover Institution Stanford sampai direktur perencanaan kebijakan di Departemen Luar Negeri AS era Trump. Pokoknya kalau ilmu itu sarung, Berkowitz ini sarungnya double, tebal, dan lipatannya rapi seperti hasil setrika panitia bahtsul masail.

Masalahnya, di Indonesia, tokoh seperti ini mudah sekali berubah menjadi sosok misterius. Ketika UI mengundangnya untuk orasi ilmiah, niat akademiknya sederhana saja, ingin sedikit penyegaran intelektual. Namun publik mendengarnya seperti, “UI mengundang duta besar Zion dalam format kuliah umum.”

Rakyat langsung heboh. Timeline berubah lebih cepat dari detik terakhir sebelum shalawat Badar mulai dikumandangkan. Warganet menjadi ahli geopolitik instan. Sebagian merumuskan teori konspirasi seperti sedang membuka kitab kuning edisi bab ghaib. Sebagian lainnya merasa perlu memeriksa siapa saja yang pernah berfoto dengan Berkowitz. Seolah-olah itu rukun iman ke delapan.

Entah dengan logika qunut yang bagaimana, isu UI itu melompat ke PBNU. Nama Berkowitz mendadak dikaitkan dengan lingkungan NU seperti kismis tiba-tiba muncul di bubur kacang hijau. Tidak mengubah rasa, tapi membuat sebagian orang panik.

Setelah itu, kursi Gus Yahya mulai goyang. Goyangnya bukan goyang biasa, tapi goyang majlis shalawat level nasional, goyang yang membuat rebana pun tersinggung karena kalah tempo. Foto-foto lama Gus Yahya dengan Netanyahu dari tahun 2018 kembali beredar seperti lembaran manaqib yang ditemukan lagi di lemari tua pesantren.

Padahal sejak awal sudah dijelaskan, kunjungan itu diplomasi moral, membawa pesan Palestina langsung ke hadapan pejabat Israel. Para pemilih Muktamar pun sudah tahu sejak 2021. Tapi penjelasan kadang kalah oleh imajinasi. Imajinasi rakyat Indonesia, khususnya dalam urusan Israel, kadang lebih liar dari cerita santri yang mengaku melihat jin memakai sarung hijau.

Nama Berkowitz pun akhirnya menjelma jadi figur mitologis baru. Dalam narasi publik, ia bukan lagi akademisi. Ia berubah menjadi “sosok Israel” yang disebut-sebut berada di balik goyangnya kursi Gus Yahya. Ini seolah-olah satu akademisi dari Stanford bisa mempengaruhi arah sarung PBNU hanya dengan melangkah di Depok.

Padahal kenyataannya jauh lebih sederhana. Tidak ada konspirasi global. Tidak ada rapat rahasia. Tidak ada jaringan gelap di balik papan nama. Yang ada hanya sebuah kuliah umum, sebuah bangsa yang sensitif terhadap simbol, dan sebuah organisasi besar yang sedang diuji oleh dinamika internalnya sendiri.

Sampai tulisan ini dibuat, suasana di PBNU justru semakin seperti malam tahlilan yang tak kunjung bubar. Para kiai dan ulama yang diundang Gus Yahya terus berdatangan ke kantor PBNU, satu per satu, bersarung rapi, membawa doa, petuah, dan keheningan yang jauh lebih kuat daripada hiruk-pikuk drama daring.

Silaturahim Alim Ulama itu membuat kantor PBNU seolah berubah menjadi pesantren besar, hangat, penuh tamu mulia, dan menunjukkan bahwa di balik semua goyangan, masih ada ketenangan yang tidak bisa diganggu gugat.

“Bang, mungkin si Peter itu ngakak kali sambil seruput kopi di rumahnya, nonton kelakukan orang NU.”

“Tak tahu lah, wak. Yang pasti seruput Koptagul itu otak menjadi encer dan waras.” Ups (*)

#camanewak

Foto Ai hanya ilustrasi

Berita Terkait