HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Merayakan Kemenangan di Dua Pulau

November 28, 2025 13:36
IMG_20251128_133512

Catatan Paradoks: Wayan Suyadnya | Penulis

HATIPENA.COM – Setelah saya megalungan di Singaraja, kota tua yang menyimpan ingatan masa lampau Bali, kini giliran saya mekuningan di Lombok.

Galungan dan Kuningan—dua hari suci umat Hindu yang selalu dirayakan dengan rasa heroik—mengingatkan kita bahwa kemenangan bukan sekadar kisah pertempuran, tetapi ritual dalam perjalanan hidup.

Desa mawa cara, desa kala patra. Setiap tempat memiliki cara, waktu, dan ruang suci yang tak pernah sama.

Di Lombok, saat penampahan Kuningan seperti sekarang, prianya disibukkan membuat tum, sementata para ibu membuat semayut sulangi, yang nanti akan ditatab.

Ciri khasnya ada pada tebognya—dan bagi mereka yang sudah ketus gigi, semayut sulangi menjadi simbol kedewasaan. Ada jejak perjalanan hidup yang dirayakan dalam setiap reringgitan ron dan busung pada setiap semayut.

Berbeda dengan Galungan, di mana jerimpen menjadi sarana yang ditatab. Caranya serupa, perlengkapannya pun sama—namun simbol yang dilabuhkan pada tubuh berbeda maknanya.

Semayut sulangi pada Kuningan, jerimpen pada Galungan: dua nama untuk dua kemenangan yang berbeda nuansa. Dua cara merayakan kemenangan dharma dalam ritme yang sama, tetapi dengan aksen yang berbeda.

Ada pula tradisi natab pada hari-hari sakral lainnya: saat Ngesanga, tileming sasih Kaulu. Ada yang menyebutnya ngetipat Kaulu, sebab yang ditatab adalah ketipat dengan jumlah mengikuti pangurip-urip kelahiran, seolah setiap insan membawa hitungan takdir sejak pertama kali menjejak dunia.

Tradisi umat Hindu di Lombok memang tak sepenuhnya serupa dengan di Bali. Namun di sinilah paradoksnya, Bali tetap dijadikan barometer tradisi. Banyak diantara umat Hindu di Lombok “pang care Bali”. Diam-diam justru inilah mengubah tradisi itu.

Penggunaan bije misalnya—di Lombok dulunya tak begitu populer, belakangan keseragaman mulai terlihat. Semua menggunakan bije seusai nunas amertha. Padahal dulu pada hari-hari tertentu saja menggunakan sembek, yang melekat di jidat antara alis, sembek berwarna merah.

Pada saat natab, selalu dibarengi dengan mesembek: warna merah yang menandai kesadaran, menghubungkan manusia pada napas leluhur. Belakangan ada juga yang sembeknya menggunakan wibuti.

Saya berdiri di dua pulau, menjadi saksi dua wajah tradisi yang sama-sama suci, tetapi berlainan rupa.

Dunia paradoks itu semakin kuat terasa: ketika setiap perubahan dilakukan demi keseragaman, justru keunikanlah yang perlahan terkikis.

Namun masa depan tradisi tak semestinya dibangun atas kecemasan, melainkan harapan. Sebab sesungguhnya tradisi adalah makhluk yang hidup: ia bernapas dalam keseharian umatnya, tumbuh bersama perubahan zaman.

Yang penting bukan mempertahankan bentuknya, melainkan menjaga rohnya tetap menyala.

Di Lombok, generasi muda Hindu mungkin akan bertanya: Apakah sembek harus tetap merah? Apakah harus natab jerimpen, semayut sulangi atau ketipat?

Pertanyaan lain pun bisa jadi muncul: Apakah jerimpen masih penting jika makna Galungan sudah tertanam dalam hati?

Justru dari pertanyaan-pertanyaan itulah masa depan tradisi menemukan jalannya.
Bukan memaksakan satu rupa untuk semua tempat, tetapi merayakan keberagaman sebagai kekayaan spiritual.

Tradisi yang dipertahankan tanpa makna akan menjadi museum. Tradisi yang berkembang tanpa arah akan kehilangan akarnya.

Maka, masa depan Hindu di dua pulau ini bergantung pada keseimbangan: antara menghormati yang diwariskan dan merawat yang sedang tumbuh.

Umat Hindu di Bali dan Lombok—dua saudara dalam napas yang sama—tak seharusnya saling menyeragamkan.

Biarkan keduanya menjadi cermin: yang satu mengingatkan, yang lain menghidupkan.

Di hari Kuningan ini, ketika kemenangan disembah dalam taburan doa, saya merenungi satu hal: tradisi akan tetap hidup selama kita bersedia mendengarkan bisikan leluhur di tengah riuh perubahan zaman. (*)

Rahajeng kuningan, dumogi rahayu sareng sami.

Mataram, 28 Nopember 2025