Oleh ReO Fiksiwan
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” — Surat At-Taghabun Ayat 11.
HATIPENA.COM – Kereta cepat Whoosh melaju seperti mimpi modern yang dibungkus dalam kecepatan dan efisiensi.
Dari Halim ke Padalarang, hanya 37 menit, dan saya pun bersama dua rekan lainnya menjadi bagian dari narasi kemajuan itu.
Pada Selasa, 26/8/25 beberapa hari silam. Tiket 6-16B di G1051 sudah di tangan, keberangkatan 18:25, tiba 19:02.
Setelahnya, kami pindah ke Feeder menuju Stasiun Bandung.
Semuanya tampak mulus, hingga tubuh saya memutuskan untuk memberi jeda pada euforia teknologi.
Di ujung eskalator Stasiun Halim, dengan tas gantung di bahu, henfon, kabel charger, tiket, dan KTP di tangan kiri, saya mencoba memasukkan KTP ke dalam tas.
Sebuah gerakan kecil yang ternyata cukup untuk membuat keseimbangan saya hilang. Tubuh saya terjungkal.
Seandainya eskalator tidak berhenti seketika, saya mungkin sudah menjadi buntalan manusia yang menggelinding ke bawah seperti batu Sysiphus yang gagal mencapai puncak.
Dua rekan perjalanan riset buku kami, satu dokter Roy Massie PhD dan Dr. S. Aminullah dari BRIN, tampak syok dan kebingungan.
Keadaan segera beringsut. Tiga petugas kereta langsung beraksi. Tanpa banyak tanya, mereka mengangkat tubuh saya yang syok dan nyeri di pinggang serta tulang belakang.
Saya didudukkan di kursi yang bukan milik saya, tapi siapa peduli soal nomor kursi ketika tubuh sedang memberontak.
Petugas P3K kereta Whoosh bekerja dengan cekatan, seolah mereka dilatih bukan hanya untuk menghadapi mesin, tapi juga manusia yang rapuh.
Di Padalarang, saya dibawa dengan kursi roda oleh seorang suster kereta.
Ruang rawat darurat menjadi tempat saya beristirahat selama 25 menit.
Mereka tahu saya mengidap osteoporosis dan memiliki tiga stent di jantung.
Tensi darah saya diperiksa berkali-kali. Dari 130/90 dengan suhu tubuh 40 derajat Celsius, berangsur turun menjadi 130/80 dan 37.5 derajat setelah parasetamol dan obat nyeri diberikan.
Saya bukan pasien rumah sakit, tapi mereka memperlakukan saya seperti satu-satunya penumpang yang layak diperhatikan.
Musibah kecil ini bukan sekadar insiden. Ia adalah pengingat bahwa tubuh lansia tidak bisa bersaing dengan kecepatan zaman.
Eskalator bukan sahabat bagi mereka yang tulangnya sudah tak sekuat janji pembangunan.
Lift adalah pilihan yang lebih manusiawi, tapi sering kali kita tergoda oleh arus yang bergerak cepat, seolah waktu bisa dibeli dengan kecepatan.
Ironi pun muncul ketika saya teringat film Teguh Karya, Pacar Ketinggalan Kereta (1988). Di sana, kereta adalah simbol kehilangan dan keterlambatan.
Di sini, kereta cepat menjadi simbol kemajuan yang tak memberi ruang bagi tubuh yang lambat. Saya tidak ketinggalan kereta, tapi hampir kehilangan tubuh saya di eskalatornya.
Dan tentu, tak bisa diabaikan bahwa kereta cepat Whoosh ini dibangun dengan utang negara pada Cina. Sebuah proyek raksasa yang melaju di atas rel utang dan harapan.
Tapi, harapan itu harus menyapa semua, termasuk tubuh-tubuh renta yang masih ingin bepergian dengan martabat.
Jika kemajuan hanya bisa dinikmati oleh mereka yang kuat dan muda, maka kita sedang membangun masa depan yang cacat.
Musibah kecil ini adalah peringatan.
Bukan hanya bagi lansia, tapi bagi negara yang terlalu sibuk berlari hingga lupa bahwa sebagian rakyatnya berjalan dengan tongkat.
Teknologi boleh cepat, tapi kemanusiaan tak boleh tertinggal.
Karena jika tidak, kita semua akan menjadi Affan Kurniawan berikutnya—terlindas bukan oleh rantis, tapi oleh sistem yang tak memberi ruang bagi kelemahan. (*)
#credit foto: Dialog sejenak bersama Pramugari Kereta.
#coverlagu:
“Morningtown Ride”(Malvina Reynolds) menggambarkan perjalanan malam yang tenang dan penuh imajinasi bagi anak-anak, seolah mereka menaiki kereta menuju tempat yang damai bernama Morningtown.
Lagu ini, dipopulerkan The Seekers(1966), grup band asal Australia dan No. 2 di UK Singles Chart , menggunakan metafora kereta sebagai kendaraan mimpi, dengan Sandman sebagai penjaga malam yang memastikan semua penumpang kecil tidur dengan aman.
Contoh lirik yang paling ikonik:
“Rocking, rolling, riding / Out along the bay / All bound…”